MERASA berdosa, tak berlaku di sini. Merasa bersalah, apalagi. Lantaran modal “tak merasa” itu, mereka menjalankan aksi bisnisnya. Lagi mumpung wabah datang, manfaatkan deh… Mungkin siasat itu tumbuh dalam benaknya. Sebenarnya ini bukan mungkin. Sungguhan.

Atas nama wabah, orang-orang yang diberi kepercayaan mengatur negara oleh rakyat itu, bukannya membantu rakyat yang didera musibah, tapi justru menarik keuntungan di balik penderitaan rakyat.

Semua berjalan mulus lantaran itu tadi, tak merasa berdosa dan tak merasa bersalah. Tak ada yang dapat menghalanginya. Loh, mereka menentukan kebijakan. Mereka menentukan keuntungan. Aman, kan?

Hebatnya, di saat pundi-pundi terus mengalir, orang-orang itu rutin tampil di hadapan rakyat. Tentu bukan mengumumkan rezeki nomplok yang lahir dari penderitaan itu. Tapi memberi kesan kalau mereka sebenarnya memikirkan nasib rakyat yang terkena wabah berkepanjangan ini. Kalau pun rakyat merasa kemahalan atas kebijakan itu, gampang deh, orang-orang itu tiba-tiba menunurunkan harga alat itu. Kesannya, memurahkan, demi rakyat, begitu. Toh, semurah apa pun itu, pundi-pundi terus terisi. Kalau boleh mengalir sampai jauh.

Kawanku di kedai kopi terlihat senyum-senyum sinis. Raut wajahnya memberikan tanda kalau bisnis “atas nama wabah” ini sudah sangat dipahami.

“Mengapa Bung senyum-senyum sinis seperti itu?”

“Sudahlah, dinda.”

“Jelaskan, dong, Bung. Apa sebenarnya yang terjadi pada rezim ini.”

“Sebenarnya bukan atas nama rezim yang bermain, tapi segelintir orang-orang edan yang memanfaatkan suasana panik ini, dinda.”

“Bila bukan rezim, lalu mengapa pemimpinnya membiarkan anak-anak buahnya mengeruk kekayaan dari kepanikan rakyat, Bung.”

“Nah, itulah soalnya. Mengapa Sang Pemimpin tidak tahu. Atau pura-pura tidak tahu. Kita, rakyat, benar-benar bingung melihat tingkah mereka. Rakyat hanya tahu mengeluarkan uang dengan terpaksa karena syarat siasat itu, bila ingin bepergian…. Edan!” (#)

Ayo tulis komentar cerdas