BAGAIMANA Jenderal Listyo Sigit Prabowo tidak stres, anak buahnya bertingkah aneh-aneh. Kapolri yang selalu mewanti-wanti anggota kepolisian untuk selalu berpijak pada humanisme, ternyata yang mencuat justru perbuatan penodaan lembaga kepolisian.

Lihatlah tingkah aneh mereka. Ada yang memerkosa anak gadis tahanan. Ada yang melecehkan istri tahanan. Ada yang mengganggu istri teman, sesama polisi. Ada yang menembak teman polisinya, gegara cemburu. Ada yang bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Ada yang korupsi. Ada yang tak malu menerima sogokan. Ada yang bertindak gagah membanting mahasiswa. Ada komandan menempeleng dan menendang anak buahnya di sebuah acara. Dan banyak lagi peristiwa memiriskan yang dilakukan oknum-oknum polisi.

Betapa rapuhnya mentalitas polisi-polisi itu. Seharusnya mengayomi dan melayani, eh… malah menjadi dalang. Wajarlah bila wajah Jenderal Listyo cemberut. Bahkan menampakkan raut kemarahan. Semua itu lantaran tingkah-tingkah tak terpuji anak buahnya.

“Ikan busuk mulai dari kepala,” kata Sang Jenderal, mengutip peribahasa. Artinya: …. segala permasalahan internal di kepolisian dapat terjadi karena pemimpinnya bermasalah atau tidak mampu menjadi teladan bagi jajarannya. Lalu siapa kepala polisi itu? Ya, Kapolri, Kapolda, Kapolres, hingga Kapolsek.

“Mengapa mentalitas sebagian polisi kita rapuh, Bung?” Aku bertanya pada kawanku di kedai kopi.

“Bukan hanya mentalitasnya rapuh, dinda.” Jawab Bung sembari menyambar gelas kopinya.

“Apa selain rapuh, Bung?”

“Juga berwatak radikal?”

“Radikal, aku tidak paham.”

“Tingkah mereka yang membuat Jenderal Listyo marah itu karena mereka telah berbuat radikal.”

“Radikal?”

“Ya, mereka telah melawan sifat dasarnya sebagai pengayom, lalu bertindak sebagai dalang kejahatan. Mereka nekat keluar dari zonanya sebagai pelindung masyarakat, lalu tampil melawan arus. Itu kan watak radikal, dinda.”

“O, begitu, Bung?”

“Iya, dinda.”

“Kira-kira penyebabnya apa, Bung?”

“Kira-kira penyebabnya lantaran pendidikannya yang hanya beberapa bulan itu. Dengan pendidikan yang sebentar, mungkin tak cukup menjadikan mereka bermental tangguh. Perlu tahunan, agar mereka paham bahwa menjadi seorang polisi itu tidak gampang.”

“Selain itu, kira-kira apa lagi penyebabnya, Bung?”

“Kira-kira apa ya… O, boleh jadi proses masuknya mereka menjadi polisi tidak melalui seleksi yang ketat. Seperti lembaga atau instansi di negeri ini kan sering terjadi kelulusan pegawainya melalui jendela, sebutlah misalnya melalui praktik KKN: Kolusi, Korupsi, Nepotisme. Nah, tak menutup kemungkinan oknum-oknum itu juga begitu, dinda. Ya, boleh jadi… Bila benar seperti itu, maka tentu mentalitasnya memang lemah dan rapuh, lahir sejak awal. Akhirnya gampang berbuat aneh-aneh.”

“Tapi ada hikmah di balik musibah yang terjadi di korps coklat ini, Bung?”

“Apa hikmahnya, dinda?”

“Tiba-tiba Jenderal Listyo ingin menjadikan contoh teladan mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso pada dunia kepolisian. Kita semua paham kan bahwa Hoegeng adalah polisi yang jujur, berani, sederhana, merakyat.”

“Mudah-mudahan tidak sekadar gagah-gagahan saja. Yang terpenting tak ada lagi kepala ikan yang busuk, dinda.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas