KOLOM CERMIN, Senin lalu, berjudul “Teganya Pak Polisi.” Mengupas tentang tingkah oknum polisi di Tangerang. Polisi itu membanting seorang mahasiswa pengunjuk rasa. Tak puas, dia lalu mengempaskan korbannya ke tanah. Mahasiswa itu pingsan. Terkulai. Tak berdaya. Hingga kini masih dirawat. Dengar-dengar, polisi itu telah ditindak oleh atasannya. Entah bagaimana lanjutannya…

Minggu ini, “Teganya Pak Polisi”, muncul lagi. Bukan di Pulau Jawa, tapi di Sulawesi Tengah. Pelakunya oknum anggota polisi, lagi. Kalau di Tangerang, polisi itu main kasar. Korbannya pemuda. Di Sulawesi Tengah, polisi itu main rayu. Korbannya gadis S. Kita tidak paham. Apakah polisi itu juga membanting korbannya. Soalnya, kejadiannya diduga di kamar hotel. Itu pengakuan gadis S. Mereka berduaan dalam kamar sepi. Aman. Tak terlacak.

Polisi itu bukan polisi biasa. Seorang berpangkat perwira. Jabatannya keren. Kapolsek. Lantaran sosoknya itu, membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Seakan tak percaya kalau Sang Perwira itu tega melakukan praktik tak terpuji. Sungguh tak terpuji.

Boleh jadi tingkahnya telah malampaui batas, Kapolda Sulawesi Tengah, geram. Marah dan malu melihat anak buahnya itu. Seketika mencopotnya. Jabatan kapolsek pun hilang di tangan. Penyebabnya, nafsu sesaat.

Cuaca hari itu biasa saja. Gadis S datang ke Mapolsek, dalam wilayah Sulawesi Tengah. Tidak sedang mengurus sesuatu di kantor polisi yang berkedudukan di kecamatan, itu. Dia datang menjenguk ayahnya. Ayahnya ditahan lantaran diduga telah melakukan perbuatan melanggar hukum.

Diam-diam, kedatangan gadis S–entah wajahnya cantik atau manis, tak dijelaskan dalam pemberitaan yang sudah menasional ini–membuat Sang Perwira menyimpan target.

Entah bagaimana tahapnya, Sang Perwira berjumpa dengan gadis itu. Singkatnya, berjanji melepaskan ayahnya dari tahanan. Syaratnya, tentu tak gratis. Lantaran kecintaan kepada Sang Ayah, gadis S berusia 20 tahun itu, terpaksa ikhlas meladeni permintaan Sang Perwira. Terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Kamar hotel menjadi saksi “kamar bisu.” Sekali lagi, itu pengakuan gadis S.

Hari-hari penuh penantian. Hari-hari diliputi kesedihan. Gadis itu meratap. Tatapan matanya kosong. Bila malam menjelang, matanya lembab. Sang Ayah tetap saja dalam tahanan. Merasa telah dikibuli, geliat “kamar bisu” itu pun diungkap.

Mendengar kisah itu, kawanku di kedai kopi langsung geleng-geleng kepala. Tak bersemangat lagi menikmati pisang goreng yang menemani kopinya di meja.

“Mengapa Bung geleng-geleng kepala?”

“Ini bukan kejadian. Bukan juga peristiwa, dinda.”

“Lalu apa namanya, Bung?”

“Tragedi. Ya, tragedi kemanusiaan, dinda.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas