Dadang Rahman Sidiq. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Prestasi yang diraih Dadang Rahman Sidiq bisa menjadi inspirasi bagi guru dan kepala sekolah. Kepala SD Negeri Poboya ini berhasil melalui berbagai tahapan seleksi di tingkat nasional. Pria ini kemudian meraih penghargaan juara 2 pada ajang Apresiasi Kepala Sekolah (Kepsek) Inspiratif, di Jakarta, belum lama ini.   

“Bukan sebuah riya ataupun bentuk rasa negatif. Ini adalah bentuk haru dari sebuah penghargaan yang bisa dijadikan inspiratif untuk dunia pendidikan, khususnya di SD Negeri Poboya. Saya bergerak dengan hati pulihkan pendidikan di Tanah Kaili. Olehnya itu apresiasi dan penghargaan terbesar ini saya dedikasikan untuk pendidikan di Sulteng,” kata Dadang kepada Metro Sulawesi, Kamis, 25 November 2021.

“Tidaklah gampang meraih penghargaan ini, sebab melalui seleksi begitu sangat ketat, karena ribuan kepala sekolah yang mengikuti kegiatan ini, namun yang terpilih sebagai finalis hanya 20 orang setiap kategori, masing-masing 20 orang baik dari jenjang SD, SMP, dan pengawas dari semua jenjang, jadi semuanya yang diundang hanya 100 orang,” jelasnya.

Dadang mengatakan, para finalis yang mengikuti kompetisi apresiasi kepsek inspiratif itu dimulai sejak 21 November 2021 hingga saat ini. Para kepala sekolah melalui berbagai seleksi di antaranya uji kelayakan, kemampuan, presentase dan lainnya.

“Dari 20 kepala sekolah yang mengikuti kompetisi tersebut dipilih lima terbaik. Saya tidak menyangka ternyata saya masuk dalam kategori di lima kepsek terbaik, ini betul-betul di luar dugaan, karena kepsek yang diundang ini merupakan kepsek yang berprestasi sebelumnya atau yang memiliki inspiratif yang luar biasa di dunia pendidikan,” ujarnya.

Dadang mengaku, perolehan prestasi ini tidak ada atensi dari orang dalam, ini betul-betul murni sebab para juri yang menilainya adalah orang-orang berkompeten di bidangnya.

“Jadi penilaian pertama kita sebagai peserta mengirimkan video inspiratif, apa yang kami lakukan selama pembelajaran tatap muka secara tebatas di masa pandemi. Setelah itu kita diseleksi administrasinya, kemudian dilihat karya video yang dikirimkan, setelah itu dipilihlah 20 peserta tersebut, selanjutnya kami di Jakarta berkompetisi merebutkan lima besar,” katanya.

Menurut Dadang, selama dirinya berkompetisi di Jakarta, merasa tidak sedang lomba. Namun sedang bertemu dengan keluarga, karena kepala sekolah yang diundang ini merupakan orang hebat yang memiliki rasa kekeluargaan sangat tinggi.

“Tidak ada rasanya kita bersaing, tetapi kita betul-betul menunjukan kemampuan pribadi, dengan tidak ada rasa bersaing dengan siapapun. Bahkan kita disini semuanya merasa bangga meskipun ada yang tidak meraih juara,” ungkapnya.

Apalagi, kata Dadang, pihaknya membawa kekayaan atau profil adat Kaili, seperti apa budaya kaili di Sulteng, utamanya yang ada di wilayah Poboya.

Selain itu, pihaknya juga menjelaskan seperti apa kemampuan dan kompetensi siswa serta guru di sekolah selama masa pandemi, sehingga menunjukan ada sebuah peningkatan yang sangat luar biasa.

“Karena kekhawatiran anak putus sekolah itu kita bisa antisipasi, dengan strategi yang saya lakukan sebagai kepala sekolah, karena masa pandemi ini masa kekhawatiran dengan adanya anak putus sekolah. Karena inti dari kegiatan ini adalah gerakan hati pulihkan pendidikan,” pungkasnya.

“Saya sangat terharu sebab penghargaan ini diraihnya di saat Hari Guru Nasional dan HUT PGRI, semoga pendidikan di Sulteng semakin baik ke depanya,” katanya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas