DIGIRING - Terpidana Hasyim Baharulah saat digiring untuk pelaksanaan eksekusi. (Foto: Istimewa)
  • Terpidana Kasus Korupsi Pembangunan Masjid Raya Buol Tahap III

Palu, Metrosulawesi.id –Terpidana kasus korupsi Hasyim Baharulah Day, hanya bisa pasrah saat Tim Tangkap Buron (Tabur) gabungan Kejati Sulteng dan Kejari Buol menangkapnya, di BTN Griya Talise Asri Blok B No. 14, kediamannya di  kelurahan Talise, kecamatan Mantikulore, kota Palu  Jumat 26 November 2021, pukul 13.00 wita.

Hasyim merupakan terpidana kasus korupsi pembangunan Masjid Raya Buol tahap III tahun 2017. Kasus korupsi itu merugikan keuangan negara sebesar Rp1,4 miliar. Dia ditangkap, untuk segera menjalani Hukuman. Karena perkara korupsi yang menjeratnya telah inkrahct atau berkekuatan hukum tetap.

Kajati Sulteng Jacob Hendrik Pattipeilohy SH. MH, melalui Kasi Penkum Kejati Sulteng Reza Hidayat SH.MH, menerangkan sebelum ditangkap keberadaan terpidana telah dipantau lebih dulu selama beberapa hari, oleh tim Intelijen Kejati Sulteng.

“Setelah berhasil memastikan keberadaan terpidana, tim tabur gabungan kemudian berangkat dari Kejati Sulteng pukul 13.00 WITA menuju rumah terpidana di BTN Griya Talise Asri blok B no 14 Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, untuk melakukan penangkapan,” kata Reza kepada Metro Sulawesi, Jum’at (26/11).

Reza sapaan akrabnya mengatakan, dalam proses penangkapan, terpidana tidak melakukan perlawanan, dan proses penahanan bagi  Hasyim berjalan dengan kondusif. “Setelah ditangkap terpidana langsung dibawa menuju kejati Sulteng untuk dilakukan pemeriksaan identitas dan kelengkapan administrasi. Kemudian di laksanakan eksekusi di rumah tahanan (Rutan) Kelas II A Palu,” ujarnya.

Dalam proyek  pembangunan Masjid Raya Buol tahap III tahun 2017 yang anggarannya terbukti dikorupsikan, terpidana Hasyim Baharullah Day Hasjim, merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Di dieksekusi untuk menjalani hukuman berupa pidana penjara selama 5 tahun.  Pidana itu sebagaimana amar putusan kasasi  Mahkamah Agung (MA) RI Nomor 3126 K/Pid.Sus/2020 tanggal 15 Oktober 2020.

Selain pidana penjara  5 tahun, terpidana juga dipidana denda sebesar Rp500 juta, subsider kurungan selama 6 bulan kurungan. Selain Hasyim, perkara itu turut menjerat Site Enggineer Konsultan Pengawas PT Arsindo Mega Kreasi, Moh Farawansyah Tokare dan Direktur PT Sarana Pancang Tomini selaku rekanan, Rusdin.

Terdakwa Moh Farawansyah Tokare, berdasarkan putusan PT Sulteng Nomor: 18/Pid.Sis-TPK/2020/PT PAL tanggal 26 Mei 2020, dipidana penjara empat tahun dan enam bulan, serta denda Rp 200 juta, subsider 3 bulan kurungan. Membayar uang pengganti Rp47 juta, subsider 3 bulan penjara. Sementara terdakwa Rusdin berdasarkan putusan PT Sulteng Nomor: 17/Pid.Sis-TPK/2020/PT PAL tanggal 26 Mei 2020, dipidana penjara lima tahun dan enam bulan, serta denda Rp 200 juta, subsider tiga bulan. Ia juga dipidana membayar uang pengganti Rp1.4 miliar, subsider 1 tahun penjara.

Reporter: Sudirman

Ayo tulis komentar cerdas