ENTAH aku memandang dari sudut mana, tiba-tiba aku meyakini Jenderal Andika Perkasa, Panglima TNI, punya cara baru menghadapi mimpi buruk KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Papua. Apakah aku melihat gaya senyumnya? Postur tubuhnya? Kegagahan wajahnya? Cara bicaranya? Atau aku terpesona dengan namanya: Perkasa?

Rangkuman dari itu semua memunculkan keyakinanku yang subjektif ini. Tapi apakah dia berhasil dengan pendekatan barunya itu, tentu waktu akan menjawabnya. KKB tak mungkin lagi dipandang kriminal biasa. Mereka teroris yang sesungguhnya. Mereka “berhasil” mengeksiskan noda hitam di negeri ini.

“Kue” (baca: bantuan dan pembangunan) apa pun yang diberikan kepada mereka pasti ditolak. Mereka tak butuh “kue” lagi. Berhentilah “memanjakan” mereka dengan “kue-kue.” Rakyat Papua segelintir itu telanjur terbuai romantisme perjuangan pendahulunya yang ingin memisahkan Papua dari NKRI.

Andika Perkasa paham semua itu. Sepaham-pahamnya. Kini dia dipercaya menjadi tokoh puncak dalam komandan militer, sebagai Panglima TNI. Kebijakan memertahankan kedaulatan negara dan menjaga keutuhan NKRI, ada padanya. Ada pada pundaknya. Negara memercayakan kepada sosoknya. Kinilah waktunya, Sang Jenderal, memfokuskan jurus jitu untuk memadamkan mimpi-mimpi buruk para pembangkang itu.

“Maaf, dinda.” Aku terkejut, kawanku di kedai kopi, tiba-tiba minta maaf.

“Mengapa Bung minta maaf.”

“Kali ini kita tidak sepaham.”

“Aku tak ngerti, Bung. Ada apa?”

“Aku tidak yakin Jenderal Andika Perkasa mampu memadamkan api teroris atau KKB yang sudah berakar di Tanah Papua, dinda.”

“Alasan, Bung?”

“Jabatan Andika sebagai Panglima TNI hanya 13 bulan. Jurus apa pun yang akan dipakai untuk membumi hanguskan teroris Papua dengan waktu pendek itu hanya sekadar mendengungkan percik heroik decak kagum sementara. Setelah itu senyap. Dan akhirnya tumbuh lagi, tumbuh lagi. Begitulah, dinda.”

“Mengapa Bung pesimis?”

“Boleh, kan?”

“Beri kesempatan Andika memerlihatkan jurus nya, khususnya dalam menumpas teroris Papua yang kian membuktikan keganasannya dengan brutal menembak mati para prajurit TNI.”

“Tentu aku berharap Andika mampu meredam nyali para pembangkang bersenjata itu, dinda. Tapi….”

“Tapi… mengapa, Bung?”

“Ya, selain soal waktu yang pendek itu, juga sudah menjadi rahasia umum pimpinan militer kita kadang tergoda rayuan dari para politikus yang menarik-nariknya masuk ke dalam kancah permainan politik praktis. Dengan begitu, jangan berharap militer dapat benar-benar fokus ke tugas pokoknya.”

“Semoga Andika Perkasa tak tergoda, Bung.”

Kawanku mengulum senyumnya. Entah bermakna apa. (#)

Ayo tulis komentar cerdas