KUNJUNGAN - Pihak PT Vale saat kunjungan ke Morowali, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. PT Vale)
  • Hilirisasi Tambang Selamatkan Ekonomi Sulteng

Palu, Metrosulawesi.id – Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura menyambut baik rencana PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) mewujudkan komitmen investasinya di Kabupaten Morowali.

Gubernur mengaku senang akhirnya perusahaan merealisasikan proyek pembangunan pabrik pengolahan nikel di Sulawesi Tengah.

“Baguslah, daripada didiamin, cuma jadi lahan tidur. Bagus dibangun,” kata Rusdy Mastura kepada Metrosulawesi, Minggu 21 November 2021.

Diketahui, fasilitas pengolahan nikel oleh PT Vale di Morowali akan terdiri dari delapan lini Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan perkiraan produksi sebesar 73.000 metrik ton nikel per tahun beserta fasilitas pendukungnya.

Proyek Bahodopi meliputi Kontrak Karya PT Vale seluas 16,395 hektar di Blok 2 dan Blok 3 Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Bahodopi ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu proyek penambangan yang dilakukan oleh PT Vale dan pembangunan pabrik pengolahan atau smelter yang akan dilakukan oleh perusahan patungan yang dibentuk oleh PT Vale, Tisco dan Xinhai.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Metrosulawesi, Senin 8 November 2021, studi tahap akhir sedang dijalankan untuk memastikan kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan aman, layak secara ekonomis dan memastikan ketersediaan pasokan material bijih nikel ke pabrik pengolahan.

Tahapan studi lanjutan juga sedang dijalankan oleh partner dan PT Vale  untuk pembangunan pabrik pengolahan nikel beserta fasilitas pendukungnya di Sambalagi, Kabupaten Morowali.

Menanggapi progres PT Vale di Morowali, Gubernur mengungkapkan, pada berbagai kesempatan, pemerintah terus mendorong PT Vale agar segera berinvestasi di Sulawesi Tengah dari pada hanya menjadi lahan tidur.

Tapi, dia kembali menegaskan bahwa semua investasi termasuk penambangan mineral logam tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga harus menerapkan konsep ramah lingkungan.

Dia berharap kehadiran sejumlah investor di Sulawesi Tengah dapat mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran sebagaimana arah pembangunan di provinsi ini.

“Penyerapan tenaga kerja pasti,” katanya.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah, M Abdul Majid Ikram juga mengakui smelter yang dibangun di Morowali secara nasional telah memperkuat hilirisasi industri.

“Peta jalan pemerintah secara nasional, sumber daya alam tidak boleh lagi diekspor dalam bentuk mentah. Tapi harus memiliki nilai tambah lebih tinggi,” kata Abdul Majid Ikram pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Perwakilan (PTBI), Rabu 24 November 2021.

Hilirisasi itu, kata dia sekaligus menjadikan Sulawesi Tengah sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Indonesia pada triwulan III-2021 setelah Papua dan Maluku Utara.

“Meskipun di tengah pandemi, ekonomi Sulteng tumbuh positif dan berkontribusi pada perekonomian nasional,” kata Majid Ikram.

Pada triwulan III-2021 ekonomi Sulteng tumbuh 10,21 persen (yoy). Bahkan, pada triwulan sebelumnya mencapai 15,7 persen (yoy). Menurutnya, tingginya pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 ini didorong oleh lapangan industri pengolahan dan lapangan usaha pertambangan. Kontribusi tertinggi dari industri pengolahan mencapai 29,8 persen.n Bahkan pada tahun 2020, saat semua kabupaten kota di Sulteng mengalami kontraksi pertumbuhan, Morowali justru tumbuh positif. Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah memproyeksikan ekonomi Sulteng pada 2022 akan tumbuh 9,7-10,7 persen (yoy). Menurut Majid Ikram, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan didorong antara lain masih berlanjutnya rencana investasi di Morowali, Morowali Utara dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu. Selain itu, ekspor akan tetap tumbuh tinggi didorong oleh ekspor hilirisasi nikel dan produksi perdana salah satu smelter High Pressure Acid Leach (HPAL).

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas