Kasat Reskrim Polres Donggala, IPTU Yogi Prasetya. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Donggala, Metrosulawesi.id – Sat Reskrim Polres Donggala, saat ini tengah menangani tiga kasus dugaan pembunuhan yang terjadi di tiga kecamatan berbeda dalam wilayah kabupaten Donggala.

Ketiga kasus tersebut yakni kasus dugaan pembunuhan yang terjadi di desa Tolongano Kecamatan Banawa Selatan, kemudian kasus dugaan pembunuhan yang terjadi di kecamatan Dampelas, satu lagi dan yang paling menggegerkan, kasus pembunuhan di Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja.

“Sebenarnya ada empat kasus dugaan pembunuhan, tetapi satu belum dilimpahkan ke kami, dan masih ditangani Polsek Sojol. Yang tengah kami tangani saat ini tiga kasus itu. Yakni pembunuhan di desa Tolongano Kecamatan Banawa Selatan, dugaan pembunuhan di Desa Jono Oge Kecamatan Sirenja, dan satu lagi kasus dugaan pembunuhan di kecamatan Dampelas,” ujar Kapolres Donggala melalui Kasat Reskrim Iptu Yogi Prasetya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 19 November 2021.

Lanjut Kasat Reskrim, dari ketiga kasus yang sedang ditangani, satu diantaranya akan segera dilakukan tahap II, yakni pelimpahan tersangka beserta barang buktinya ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari Donggala). Satu itu ialah kasus dugaan pembunuhan yang terjadi di desa Jono Oge, Kecamatan Sirenja, dimana korbannya seorang tokoh agama (Guru Mengaji) inisial HS (60 Tahun).

“Dalam waktu dekat kasus dugaan pembunuhan ini akan naik ke tahap dua, kami serahkan ke kejaksaan, mohon doanya ya,” sebutnya lagi.

“Pelaku kasus pembunuhan Tokoh agama di desa Jono Oge kecamatan Sirenja seorang warga dari desa Sipi, Kecamatan Sirenja inisial D (23 tahun),” sambungnya.

Yogi menguraikan kasus dugaan pembunuhan tokoh agama itu dipicu oleh permasalahan ternak. Pelaku D, kesehariannya beraktifitas sebagai pengembala ternak. Dia tega menghabisi nyawa korban, karena tidak terima ternaknya dituduh kerap masuk ke kebun  atau halaman pekarangan dan mengganggu tanaman milik korban.

“Pelaku D ini sudah sering ditegur menyangkut hewan ternaknya yang menggangu tanaman, bahkan D ini pernah dilapor di aparat desa, dan D dihukum membayar denda karena perilaku hewan ternaknya, ia pun menyanggupi membayar denda, tapi setelah membayar denda tetap saja hewannya berkeliaran,” sebutnya.

Walau sudah membayar denda, kata Yogi lagi kejadian serupa sering terjadi berulang-ulang.

“Puncaknya pada jumat 24 September hewan ternak D masuk lagi mengganggu tanaman milik korban (tokoh agama), karena tidak terima hewannya dikatakan mengganggu kebun atau tanaman, terjadilah pertengkaran, D langsung memukul korban dengan kayu gamal berkali-kali hingga korban meninggal dunia,” jelasnya.

Ditambahkannya peristiwa pembunuhan tokoh agama ini menjadi atensi atau perhatian serius Polres Donggala, terbukti dengan waktu singkat pelaku bisa ditangkap.

“Kasus ini menjadi perhatian serius, terbukti berkat kerja tim Polres Donggala,hanya dalam waktu 1X24 jam pelaku langsung kami tangkap,” tutupnya.

Reporter: Tamsyir Ramli – Sudirman

Ayo tulis komentar cerdas