Home Artikel / Opini

Mewaspadai Makar Ilahi

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DARI Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Nadzar tidak akan mengantarkan anak Adam kepada sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya, namun nadzar mengantarkannya kepada takdir yang telah ditakdirkan baginya. Dengan nadzar Allah mengeluarkan harta orang bakhil, sehingga mengantarkannya kepada sesuatu yang belum ia dapatkan sebelumnya.” (Al-Bukhari)

Hadits mulia ini merupakan permisalan makar Allah pada hamba muslim (al-makru al-ilahi), tatkala seseorang mensyaratkan akan bersedekah dengan suatu nadzar jika Allah memenuhi keinginannya. Padahal apa yang dia inginkan tersebut terealisasi bukan karena Allah melihat pada nadzarnya. Tetapi karena memang itu merupakan takdirnya yang dia tidak perhatikan.

Orang ini menyangka, niat nadzarnya itulah yang menyebabkan keinginannya dipenuhi oleh Allah. Lalu ia bersedekah di atas syarat kebakhilannya itu. Orang yang bakhil akan mengeluarkan hartanya dengan suatu syarat; apabila keinginannya terpenuhi. Apabila ia mendapatkan keinginannya dia akan bersedekah namun andai gagal dia membatalkan sedekahnya.

Ketika dia mendapatkan keinginannya, mengira semua itu karena syarat sedekah yang dia ucapkan. Padahal keinginannya itu karena memang sudah Allah takdirnya bukan karena syarat yang dia ucapkan.

Inilah yang disebut makar ilahi persoalan yang wajib diperhatikan dan berhati-hati dengannya. Sebab munculnya makar ilahi dari kebodohan dan kelalaian yang dilakukan oleh seseorang.

Tidak boleh menetapkan sesuatu kecuali dengan syariat yang shahih atau timbangan yang pasti. Selain itu disebut mengada-ada dan menebak-nebak. Persoalan menautkan hal ghaib dengan alam nyata jika tidak dikendalikan dengan prinsip-prinsip yang matang akan menyeret pada penyakit dan merusak kehidupan. Seimbang dalam meletakkan mana hukum syari dan mana hukum takdir telah diajarkan dalam sunah nabawiyah.

Berlebihan pada salah satunya menyebabkan seseorang terjatuh pada kesesatan dan penyimpangan. Seseorang yang terlalu memperhatikan hukum alam dan bersandar padanya namun lalai memperhatikan hukum syariat dan perkara ghaib menyebabkan diharamkan pada taufik Allah. Dengan hanya menyandarkan hukum-hukum alam itu dia merasa bahagia tapi tidak menyadari makar Allah akan menimpanya.

Di pihak lain terdapat orang yang terlalu menyandarkan pada hukum-hukum syariat tetapi dia lalai dengan hukum takdir dan proses hukum sunatullah terwujudnya takdir. Pada akhirnya terjatuhlah dia pada penyimpangan, kehancuran dan khayalan. Kelompok inilah yang paling banyak muncul mewarnai sejarah.

Dalam hadits ini terdapat tiga bentuk makar ilahi: Pertama, meninggalkan amal shalih. Kedua, melakukan amal shalih dengan syarat keinginannya terpenuhi. Ketiga, menganalisis kejadian berdasarkan hawa nafsu, kemudian terjadilah fitnah.

Sebab utama terjadinya makar ilahi ini karena meninggalkan amal dan kebodohan. Keduanya berkaitan dengan ilmu dan iradah.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas