KEMARAHAN itu tertumpah. Di tempat tepat. Pada waktu tepat. Momen itu dirindukan. Oleh siapa? Mbak Mega. Sang Ketua Umum PDI Perjuangan. Mungkin sudah lama terpendam di hati. Mengganjal pikiran. Tiba-tiba ada kelegaan di sana. Ada plong di sana. Setelah tumpahan itu.

“Kader PDI Perjuangan tak boleh bermain dua kaki. Jangan ada bermanuver. Kalau mau bermain dua kaki. Bermanuver. Silakan out. Keluar, sebelum saya pecat.” Mbak Mega mengancam di hadapan ratusan kader PDI Perjuangan. Bertempat di Sekolah Partai PDIP. Di Lenteng Agung. Pada Selasa, 21 Juni 2022. Raut wajahnya terlukis garis-garis kemarahan. Tangannya gemetar. Suaranya bergetar. Geram. Menuding-nuding. Arahnya jelas. Tak perlu diperjelas lagi.

Tempatnya tepat lantaran dihadiri kader penting. Waktunya tepat lantaran pemilu mendekat. Lalu mengapa momennya dirindukan Mbak Mega? Boleh jadi sasaran tembak kemarahannya ditujukan kepada seorang kader. Kader itu hadir di hadapan Mbak Mega.

Sulit memahami bila ada mengatakan kemarahan itu untuk semua kader. Kita paham. Bila Mbak Mega menyampaikan sebuah peringatan. Tepatnya kewaspadaan. Gayanya tidak seperti hari itu, di Sekolah Partai PDI Perjuangan. Mbak Mega kadang melontarkan jab-jab disertai senyum. Kadang tawa. Semua kader paham dan hormat akan gaya ibunya itu.

Kali ini tidak biasa. Mbak Mega sedang marah. Marah sekali. Terkesan bukan untuk banyak kader. Tapi untuk satu kader. Siapakah kader itu?

Ganjar-kah? Apakah akhir-akhir ini, jejak-jejak politik Gubernur Jawa Tengah itu telah bermain dua kaki dan bermanuver. Seperti “tuduhan” Mbak Mega?


BERMAIN dua kaki. Apakah permainan ini haram, misalnya dalam dunia politik. Bermanuver, bukankah juga hal biasa dalam dunia politik. Tak ada kawan dan lawan dalam politik, demi sebuah kekuasaan.

Memang menjadi hal biasa, tapi bagi Mbak Mega, tidak! Lantaran itu dia masalahkan. Sampai kapan? Ya, sampai kader itu tunduk berlutut di hadapannya. Mungkin begitu.

Beberapa kali PDI Perjuangan menggelar kegiatan penting. Tak sekali pun kader pentingnya bernama Ganjar diundang untuk hadir. Meski kegiatan itu digelar di pusat kekuasaannya sebagai gubernur, Jawa Tengah.

Ketidakhadiran Ganjar lantaran tak diundang itu, sosok yang selalu masuk tiga besar calon presiden versi lembaga survei papan atas ini, telah dicap oleh Mbak Mega. Dicap sebagai kader bermain dua kaki. Bermanuver untuk mimpi kursi presiden. Mengabaikan partai asalnya, PDI Perjuangan.

Setelah Jokowi bertemu dengan Mbak Mega. Rupanya ada suasana yang berubah. Ketegangan keduanya mulai cair. Apalagi dalam pertemuan itu Jokowi sempat memuji Mbak Mega. “Ibu Megawati yang cantik dan kharismatik.” Mbak Mega menutup sebagian wajahnya dengan tangannya mendapat pujian yang tak diduganya itu sembari tersenyum simpul. Tersipu. Mungkin Mbak Mega tak percaya pujian kejujuran Jokowi. Mungkin.

Ganjar tiba-tiba hadir bersama ratusan kader di Sekolah Partai PDI Perjuangan di Lenteng Agung. Dalam acara penting itu Jokowi diundang. Hadir. Terjawab sudah. Kehadiran Ganjar, erat kaitannya dengan hubungan “harmonis” antara Mbak Mega dengan Jokowi.

Ganjar mulai “bertobat” untuk kembali ke kandangnya. Karena itu saat Nasdem memasukkan namanya tiga besar calon presiden, Ganjar dingin meresponnya. “Terima kasih. Tapi saya ini PDI Perjuangan.” Ganjar melontarkan kalimat itu dengan nada kalem.

Mbak Mega menumpahkan kemarahannya kepada kader yang berani bermain dua kaki dan bermanuver. Ibarat ibu jengkel kepada seorang anak nakalnya. Ketika anak itu menyadari kesalahannya. Bertobat. Berjanji tak mengulanginya lagi. Ibu “cantik” siapa yang tak tersentuh hatinya? (*)

Ayo tulis komentar cerdas