Prof Slamet Riadi Cante. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako (Untad), Dr Slamet Riadi Cante M.Si, kini menjadi Profesor atau Guru Besar dalam bidang Ilmu Kebijakan Publik.

Prof Slamet menyandang jabatan fungsional tertinggi sesuai SK Mendikbudristek RI, Nomor 37183/MPK.A/KP.05.01/2022 yang ditandatangani Menteri Nadiem Anwar Makarim tertanggal 13 Juni 2022.

“Capaian ini melalui proses yang cukup panjang kurang lebih satu setengah tahun,” ucap Prof Slamet, Ahad 26 Juni 2022.

Sebab kata dia, untuk meraih jabatan fungsional guru besar, saat ini persyaratannya cukup ketat dibanding sebelumnya. Selain dituntut memenuhi unsur-unsur tri dharma perguruan tinggi, ada persyaratan khusus lainnya yang harus dipenuhi antara lain, artikel/ jurnal ilmiah internasional bereputasi yang terindeks scoupus dan penguji eksternal program doktor di luar perguruan tinggi sebagai dosen.

“Alhamdulilah, Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan serta jalan yang terbaik sehinga capaian jabatan fungsional akademik dapat saya raih. Olehnya itu saya pribadi dan kelurga menyampaikan terima kasih atas capain ini semoga menjadi berkah. Terima kasih juga kepada seluruh civitas akademika Untad atas doanya dan supportnya,” ujar Prof Slamet.

Kepada dosen lainnya yang sedang atau akan berjuang untuk menjadi profesor diharapkannya agar tetap semangat dan optimis. Dengan begitu, tantangan atau kendala-kendala akan bisa dilalui.

“Saya berharap agar teman-teman dosen senantiasa mengoptimalkan aktivitas akademiknya agar jabatan fungsional akademik sebagai guru besar akan dapat diraih. Insyaallah,” ungkapnya.

Prof Slamet menambahkan sekalipun syarat yang harus dipenuhi relatif ketat, harus tetap semangat dan pantang menyerah. Tentunya pula tetap berikhtiar dan senantiasa memohon pertolongan Yang Maha Kuasa.

“Sebagamaina kata orang bijak, ‘jika engkau ingin mencapai pulau harapan yang penuh harapan, jangan membawa perahumu menepi meskipun engkau diterpa ombak dan badai, karena kata tenggelam hanya karena kehendak Allah’,” pungkas Prof Slamet.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas