Pemimpin Bulog Kanwil Sulawesi Tengah, David Susanto. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Kantor Wilayah (Kanwil) Sulawesi Tengah mencanangkan untuk target penyerapan beras petani lokal tahun ini sebanyak 29.000 ton.

“Tercatat kami dari Bulog Sulteng telah menyerap beras petani lokal di berbagai daerah yang punya sentra serapan, itu sekitar 4.000 ton,” kata Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog Kanwil Sulteng, David Susanto, Jumat pekan lalu (24/6/2022).

Angka tersebut, kata David, diperkirakan masih akan terus bertambah seiring dengan panen yang terus berjalan di setiap daerah serapan Bulog. Bahkan, pihaknya juga melakukan pemantauan aksi penyerapan selama kualitas beras sesuai dengan standar yang ditetapkan.

“Panen di Sulteng tiap-tiap daerah tidak selalu sama. Tetap masuknya kategori panen raya, tapi spot-spotnya lain, dan berkesinambungan dan kni kan masih proses jalan. Misalnya di Sigi, pekan depan bisa saja di Tolai, atau di Donggala,” ujarnya.

Diungkapkan, tahun ini Bulog menargetkan penyerapan beras lokal sebesar 29.000 ton. Ia mengaku hal tersebut masih cukup jauh dari ekspektasi karena tahun telah masuk ke bulan enam. Namun, pihaknya tetap optimis jumlah serapan akan mendekati target di akhir tahun nanti.

“Bulog tetap akan menyesuaikan masalah kualitas. Kita tetap diberi ketentuan, misalnya satu truk datang, belum tentu semuanya kita serap, kita menjaga kualitas, sekaligus memberikan pendidikan kepada petani, maupun mitra-mitra gilingan agar meningkatkan kualitas bagi mereka yang punya penggilingan yang masih one pass,” ucapnya.

Dari data nasional, ia mengatakan untuk penyerapan Bulog terhadap produksi secara nasional memang tidak memegang porsi dominan, hanya ada pada kisaran lima sampai dengan tujuh persen terhadap total keseluruhan produksi. Angka itu, lanjutnya, sudah berlangsung sejak lama.

“Sekarang produksi nasional sekitar 35 juta ton, itu kita ambil peran penyerapan kalau secara besaran hanya ada pada satu juta sampai satu 1,5 juta ton. Secara lokalan, secara kelembagaan pasti panen banyak, stoknya juga banyak di gudang, kita memang paling banyak dibanding pribadi-pribadi penggilingan,” katanya.

“Namun demikian, harga beras ditingkat petani saat ini sangat stabil. Bahkan, kata dia, komoditi beras menyumbang andil negatif inflasi. Beras itu deflasi sekarang, dibanding komoditi lain penyumbang inflasi. Artinya, ritme harga hulu hingga hilir sangat terjaga. Kita juga menjaga jangan sampai beras itu terjadi lonjakan harga, karena kalau naik signifikan, pengaruhnya terhadap inflasi sangat tinggi,” ujarnya menambahkan.

Reporter: Fikri Alihana

Ayo tulis komentar cerdas