KUMUH BERSEMAK - Salah satu unit Huntap AHA Center di Huntap Kawasan Tondo Satu telah dipagari sekelilingnya, tetapi tak kunjung serius dihuni. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)
  • Surat Peringatan tak Dipatuhi

Palu, Metrosulawesi.id – Kesungguhan beberapa pemilik sah hunian tetap (huntap) Kawasan Tondo I di Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah patut dipertanyakan.

Pasalnya, pemilik berstatus warga terdampak bencana (WTB) alam dahsyat 28 September 2018 itu tak kunjung menghuni secara tetap Huntap yang siap huni itu.

Pada Senin, 20 Juni 2022 silam, BPBD Palu selaku lembaga Pemda yang sejak awal menata siapa saja WTB yang berhak menerima Huntap lewat verifikasi dan validasi (verivali), membuat sikap tegas dengan kembali turun menempel surat peringatan di pintu unit Huntap AHA Center Tondo I untuk segera dihuni.

Tepat satu pekan kemudian, Senin, 27 Juni 2022, Wartawan Metrosulawesi menelusuri apakah surat peringatan tersebut telah diindahkan atau justru pemiliknya tetap bersikap tak acuh.

Deni, Ketua RT 2 RW 17 Huntap AHA Center membeberkan, sebanyak 14 unit huntap tersebut belum serius ditinggali.

Padahal di awal, kata Deni, jika dalam tiga bulan pemilik resmi tidak mendiami huntap miliknya, pemerintah akan menukar nama pemilik dengan WTB yang belum mendapat huntap.

“Sebenarnya kan sudah ada perjanjian tanda tangan di atas materai selama tiga bulan tidak ditinggali, tentunya dari dinas (pemerintah) berhak mengambil kembali. Kalau di huntap sini saya pantau pak, mereka itu nanti ditelepon baru mereka datang lagi,” beber Deni hari Senin sore, 27 Juni 2022.

Dari pengalamannya, baik dihubungi lewat telepon hingga diberi peringatan, para pemilik hanya datang sesekali saja.

“Setelah ditelepon mereka datang lagi, bahkan sudah dibuatkan surat peringatan mereka hanya (sekadar) datang, paling satu pekan hilang lagi. Kayaknya mereka tempati rumah (huntap) ini hanya sementara saja. Tidak menentu,” keluhnya.

Deni mengungkapkan selama ini dirinya sebagai Ketua RT Huntap setempat dengan teliti mengawasi keadaan pemukiman itu, khususnya huntap-huntap yang tak kunjung dihuni.

“Kalau yang di (Huntap) AHA Center ini saya teliti sekali pak. Persoalannya kan masih banyak orang yang membutuhkan rumah, sementara daripada mereka tidak tempati barangkali kasih kepada orang lain,” jelasnya.

Dampak buruk yang ditimbulkan atas ketidakseriusan itu menyebabkan lingkungan huntap kotor bahkan ditumbuhi rumput liar yang sampai menyeberang ke halaman tetangganya.

Hal itu pun berimbas ke diri Deni karena beberapa kali ditegur oleh lurah, camat, hingga Wali Kota Palu soal lingkungan yang kotor.

“Jadi saya Ketua RT di sini jadi pusing karena selalu ditegur Pak Camat soal kebersihan, setiap ada pertemuan sampai di Wali Kota selalu diingatkan menjaga kebersihan lingkungan,” lanjut dia.

Belum lagi banyak ditemui langsung beberapa huntap terbengkalai itu telah dipagari sekelilingnya oleh pemilik, sehingga menyulitkan Deni dan warga setempat untuk membersihkan.

Semenjak surat peringatan BPBD Palu dikeluarkan, muncul 10 orang pemilik yang melapor ke Deni, sementara 4 pemilik lainnya tak menghiraukan.

“10 pemilik itu melapor ke saya untuk segera menempati, tapi saya lihat posisi menempati itu bukan pemilik rumahnya atau hanya sebatas keponakannya, bukan keluarga intinya. Seperti di blok E 3 itu memang orangnya datang tapi hanya malam saja ada, kalau siang tidak ada lagi,” tandasnya.

Deni menganggap para pemilik tidak serius. Bahkan pun adanya surat peringatan hanya ditempati sementara, setelah itu hilang lagi.

Dia pun tidak mengetahui pasti alasan pemilik urung menghuni huntap, tetapi dia menduga kuat pemilik tersebut memiliki rumah selain huntap.

“Karena kebetulan ada turun surat dari BPBD Palu ini, mereka tempati dulu, ujungnya hilang lagi. Ya istilahnya mereka ini main kucing-kucingan,” ucap Deni, Ketua RT 2 RW 17 Huntap AHA Center Kawasan Tondo 1.

Reporter: M. Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas