TAMU WALI KOTA - Witan Sulaeman (kiri), gelandang di Timnas Indonesia, bersama Wali Kota Palu Hadianto Rasyid saat berada di Kantor Wali Kota Palu, Jumat, 7 Januari 2022. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)

Palu, Metrosulawesi.id – Pemain Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia, Witan Sulaeman tiba di kampung halamannya Kota Palu, Sulteng, Jumat 7 Januari 2022. Dia dijemput orangtua dan keluarganya dengan menggunakan mobil pickup.

Kedatangannya pada Hari Jumat, 7 Januari 2022 itu sempat memantik perhatian masyarakat khususnya warga net lantaran Witan dijemput dari Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu memakai mobil bak terbuka atau pickup.

Witan yang menanggapi kehebohan itu, menganggap bahwa hal tersebut tidak jadi masalah dan lumrah bagi dirinya.

“Kalau orang yang tahu (kenal) saya pasti dorang (mereka) anggap biasa saja,” sanggah Witan kepada Metrosulawesi usai menerima undangan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid di Balai Kota, Jumat siang di hari yang sama.

Dia pun sedikit menegaskan peristiwa itu tidak tepat jika dikaitkan dengan ketidakpedulian pemerintah menyambut kepulangan dirinya.

“Kalau orang yang mungkin mau cari sensasi atau mungkin mereka bilang ‘uh pemerintah tidak perhatikan’ (itu keliru). Padahal sebelum-sebelumnya saya (pulang) naik mobil pickup dan tidak masalah. Kalau saya pribadi biasa-biasa saja,” ujar Witan secara santai menanggapi.

Lelaki berusia 20 tahun yang kini berkarir di klub sepak bola profesional Negara Polandia bernama Lechia Gdansk’, awalnya jadwalkan balik ke Palu tanggal 8 Januari, namun karena Witan hanya diberi waktu lima hari kumpul bersama keluarganya, dia memutuskan pulang di tanggal 7 Januari.

Tidak Tahu

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sulteng, Irvan Ariyanto, mengaku tidak tahu soal kepulangan Witan ke Palu. Irvan juga cukup terkejut mendengar Witan dijemput menggunakan pickup.

“Kami tidak tahu Witan mau pulang Palu, tidak ada juga penyampaian dari managemen-nya. Mungkin bisa dinyatakan ke pihak Asprov (PSSI) yang selama ini menangani sepak bola,” ujar Irvan kepada Metrosulawesi, Jumat 7 Januari 2022.

Dalam pemahamannya, seorang atlet profesional seharusnya mendapat pendampingan dari pihak managemen saat akan melakukan perjalanan resmi. Pihak managemen pula yang harusnya proaktif ke menjalin komunikasi ke unsur Pemda atau organisasi yang terkait pembinaan sepak bola.

“Biasanya begitu, kalau membawa nama daerah atau atas nama daerah pasti ada yang mengurus. Kalau atas nama profesi pasti ada managemen karena ini pemain profesional. Ini yang belum kita tahu, apakah Witan sudah punya managemen atau masih menjadi atlet daerah,” tutur Kadispora.

“Jadi harus dibedakan, kalau bicara profesional itu biasanya pasti ada managemen,” tambahnya.

Secara pribadi, Irvan mengaku siap berbagi mobil dinasnya jika ada penyampaian kepulangan Witan. Ini sebagai bentuk penghargaannya karena Witan disebut telah mengharumkan nama daerah, khususnya Kota Palu.

“Kalau ada penyampaian biar mobil sendiri atau mobil dinas bisa kita pakai. Cuma ini masalahnya mungkin komunikasi yang tidak berjalan,” tuturnya.

Kadispora juga memastikan yang terjadi bukan karena Witan dan timnya gagal membawa pulang piala AFF 2020 yang baru berlangsung di Singapura, baru-baru ini. Sebab baginya Witan telah menorehkan prestasi dengan bermain sebagai pesepak bola level nasional atau Timnas.

“Menang atau tidak sebenarnya dia (Witan) sudah berprestasi untuk daerah. Luar biasa karena ada seorang putra daerah Sulawesi Tengah yang bergabung dengan tim nasional Indonesia. Ini sesuatu hal yang luar biasa, jadi tidak melihat karena dia kalah atau tidaknya. Apalagi selama dia bertanding, Witan menjadi semacam favorit/idola. Kita juga sebagai penonton kenalnya dari situ, ternyata Witan anak Sulawesi,” pungkas Irvan.

Reporter: Michael Simanjuntak – Muhammad Faiz Syafar
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas