MANGKRAK - Proyek Taman Nasional Kota Palu yang sempat mangkrak beberapa waktu lalu. (Foto: Metrosulawesi/ Faiz)

Palu, Metrosulawesi.id – Salah satu bundaran tertua  di jantung Kota Palu, yakni Bundaran Taman Nasional  kini telah berubah penampilannya. Peremajaan dilakukan pada bundaran yang berada di  Jalan Hasanuddin, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur ini.

PT.Midi Utama Indonesia atau dikenal dengan Alfamidi adalah perusahaan yang memprakarsai proyek peremajaan tersebut, sedangkan PT. Sarana Lingkar Persada (SLP) merupakan perusahaan kontraktor yang mengerjakan proyek ini.  Proyek yang disebut Revitalisasi Taman Nasional Kota Palu ini dikerjakan sejak Maret 2020 dan seharusnya berakhir pada September 2020.

Alfamidi, dalam keterlibatan di proyek revitalisasi Taman Nasional Kota Palu sebagai pihak yang sepenuhnya menyodorkan dana operasi proyek, dengan total anggaran  Rp.4,8 miliar.

Arif L. Nursandi, Corporate Communication Manager Alfamidi saat ditemui Metrosulawesi,  Jumat malam pekan lalu menegaskan,  status anggaran tesebut bukan dana Corporate Social Responsibility (CSR), melainkan dana partisipasi.

“Ini perlu ditegaskan dulu ya, karena status sumber dana itu berbeda jika disebutkan dana CSR seperti beberapa media sebelumnya,” kata pria akrab disapa Andi ini.

Dana partisipasi itu, kata Andi, telah lebih dulu diberikan kepada PT. SLP sebagai uang muka kebutuhan pekerjaan taman dengan persentase capaian progress pengerjaan di angka 30 persen dengan nominal Rp.1,4 miliar.

Tahap pengerjaan 30 persen itu dikatakan Andi diberi tenggang waktu sejak Maret hingga Mei, namun hingga masa waktu itu terlewati bahkan memasuki berakhirnya masa Perjanjian Kerjasama (PKS) pada 25 September 2020, PT. SLP baru mampu mengerjakan 13,60 persen atau telah menggunakan dana sekitar Rp500 juta.

Dia mengungkapkan, dari persentase progress terakhir pekerjaan 13,60 persen itu masih menyisakan 16,141 persen pekerjaan urung selesai yang jadi tanggung jawab PT. SLP, dari total kesepakatan pekerjaaan 30 persen. Adapun dana tersisa atau yang masih berada di kas PT. SLP dari 16,141 persen pekerjaan yang belum selesai itu berada di angka Rp.900 juta.

Rincian persentase proses pengerjaan serta nominal rupiah yang digelontorkan pihak pertama (Alfamidi) kepada pihak kedua(PT. SLP) itu diperoleh Metrosulawesi dari hasil opname proyek, atau suatu kegiatan pengukuran atau pemeriksaan terhadap hasil dari suatu pekerjaan dengan tujuan untuk mengetahui capaian (progress) dari pekerjaan itu, yang dilakukan pihak Alfamidi menggandeng Dinas PU Kota Palu selaku pihak ketiga sekaligus jadi konsultan pengawas melalui bidang Cipta Karya-nya.

Dalam hasil opname proyek itu tertera jelas dalam surat pengembalian dana yang dilayangkan oleh Alfamidi kepada PT. SLP dengan Nomor 005/MUI/CC-HO/IX-20 perihal pemberhentian kerja sama proyek Restorasi Taman Kota Palu tertanggal 15 September 2020 yang dikirim dua hari kemudian atau 17 September 2020.

Di dalam surat itu juga terlihat jelas cap dan tanda tangan Direktur PT. SLP atas nama Rendy Armin tertanggal 6 November 2020, pertanda pihak PT. SLP selaku kontraktor atau pihak kedua revitalisasi Taman Nasional Kota Palu menyepakati pengembalian sisa dana pekerjaan dalam tahap 30 persen.

“Kami terima kembali surat ini tadi siang, dan melalui WA pihak PT. SLP telah memenuhi bunyi surat kami itu,” kata Andi.

Selain itu, Andi juga mengeluhkan soal pihaknya yang telah berulang kali menyurat kepada PT SLP terkait kelanjutan teknis Restorasi Taman Nasional Kota, akan tetapi tak pernah menanggapi.

“Dua minggu lalu saya ketemu beliau (yang dimaksud yaitu pihak kedua) di kantornya, itu minta diperpanjang atau dilanjut,” katanya.

Sementara surat pemberhentian kerja sama dari Alfamidi untuk PT. SLP diungkapkan Andi telah ia kirimkan sejak sebulan sebelumnya atau September lalu, namun tak ada balasan apapun.

“Tiba-tiba kok minta lanjut (pekerjaan proyek). Nah kalau memang minta lanjut silakan kirim surat, sampai sekarang tidak ada (surat balasannya),” jelas Andi.

Informasi yang diperoleh media ini, pihak pertama beri kelonggaran masa kerja pihak kedua untuk menyelesaikan sisa kerja proyek Restorasi Taman Nasional Kota Palu dalam waktu 30 hari, terhitung sejak 25 Agustus-25 September dengan dana Rp.774,720 juta.

Tak sampai disitu, pihak kedua yakni PT SLP kembali bermohon untuk tetap melanjutkan sisa pekerjaan dengan harapan mampu mencapai 30 persen tahap pekerjaan sampai 5 November 2020.  “Bahkan mereka minta diperpanjang sampai 20 November, tapi kami tidak sepakati,” ujar Andi.

Namun hingga memasuki November, pihak kedua terlihat belum mampu menyelesaikan proyek itu sebesar 30 persen.

Pantauan Metrosulawesi, pada 6 November 2020, pihak kedua terlihat masih bersikeras melanjutkan sisa tanggung jawabnya. Dalam pantauan ini, kontraktor pihak kedua sedang memasang U-dits atau yang berfungsi sebagai saluran irigasi di sisi ujung taman. Sementara itu, pihak pertama yaitu Alfamidi menetapkan pemutusan kerjasama dengan PT. SLP sejak 5 November 2020. Adapun item pekerjaan yang masuk  dalam capaian progress kerja 30 persen itu antara lain pembongkaran dan pemerataan urugan tanah, urugan pasir, rabat beton, dan pemasangan U-dit berukuran 30/50-120 cm.

Reporter: Faiz
Editor: Yusuf Bj

1 COMMENT

Ayo tulis komentar cerdas