MELAYANI OJOL - Salah seorang pengojek online membeli pesanan roti di 5.5 Bakery di Jalan Garuda No. 90 Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Muhardi)
  • Usaha Roti 5.5 Bakery Tetap Survive di Tengah Pandemi Covid

Covid-19 menghajar semua usaha. Ada di antara mereka yang terpaksa harus tutup karena merugi. Tetapi, ada yang bertahan dan tetap survive. Seperti usaha pembuatan roti 5.5 Bakery ini. Tetap berkembang meski saat pandemi Covid.

LAPORAN: GINDA SARI dan MUHARDI

SUDAH hampir dua tahun ini, Ishmi Nabila S.Ars mendirikan usaha roti, yang diberi nama 5.5 Bakery. Nama 5.5 Bakery diambil dari tempatnya membuka toko. Sebelum membuka usaha roti 5.5 Bakery, tempat di sisi kanan rumahnya itu adalah garasi.

“Dulu di ruangan ini adalah garasi mobil, yang ukurannya 5×5, maka dari ukuran itu saya menamai toko kue ini sebagai 5.5 Bakery,” kata Ishmi saat ditemui di kediaman miliknya, Selasa malam, 12 Oktober 2021.

Di toko roti yang terletak di bilangan Jalan Garuda Kota Palu itu, Ishmi menjual berbagai jenis roti, dari ukuran kecil hingga besar. Dia juga menjual kue ulang tahun, kue kering dan lainnya.

Ishmi merupakan pengusaha muda yang berusia 26 tahun. Meski bertolak belakang dengan pedidikannya yang bergerak di bidang Arsitektur, namun Ishmi tetap optimistis untuk menjalankan usahanya di tengah pandemi Covid.

Ditanya kenapa tertarik membuka usaha roti? Ishmi mengatakan, membuka usaha roti karena bermula dari kebiasaan orang tua yang suka roti.

“Semakin lama saya semakin tertarik untuk membuat kue dan roti, hingga saya mengikuti pelatihan pembuatan kue untuk mendalami hobi ini. Dan akhirnya berkat dukungan orang tua kini impian membuka toko kue sendiri telah terwujud,” ungkapnya.

Ishmi pun kemudian menceritakan bagaimana sulitnya pada saat pertama kali membuka usaha roti 5.5 Bakery. Selang beberapa bulan setelah membuka usahanya pada 2020, wabah virus Covid-19 melanda. Dia kemudian terpaksa harus melakukan berbagai upaya agar usahanya tetap jalan. Mulai dari endorsmen hingga mengenalkan produknya ke influencer agar masyarakat Kota Palu mengenali produk miliknya. Alhasil, usaha jualan rotinya tetap survive.

“Adanya wabah ini tidak memberikan pengaruh buruk dalam penjualan saya, karena banyak customer memesan secara online melalui Instagram milik 5.5 Bakery. Alhamdulillah hingga kini pesanan terus meningkat,” katanya.

Begitupun ketika pemerintah memberlakukan, Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) usahanya tidak berdampak.

“Alhamdulillah saat PPKM level 4 berlangsung, penjualan kami tergolong lancar. Banyak customer memesan roti dan kue untuk rekan mereka, dengan menyertakan kalimat pembangkit semangat,” ujarnya.

Di masa pandemi Covid ini, usaha 5.5 Bakery terus berkembang dan kini telah mempekerjakan sebanyak empat karyawan. Setiap hari 5.5 Bakery dibuka mulai pukul 07.00 Wita, kemudian ditutup pada pukul 20.00 Wita.

Roti produk 5.5 Bakery dibandrol dengan harga mulai dari Rp7.000 hingga Rp30 ribu tergantung jenis dan ukuran roti. Sedangkan kue untuk ulang tahun dibandrol mulai Rp80 ribu hingga Rp1 juta.

5.5 Bakery juga menerima produk UMK lain, untuk dititip. Sejumlah UMK bahkan sudah menitip beberapa produk untuk dijual, seperti bawang goreng, terdapat pula kerajinan kain Donggala, keripik, madu, kue kering dan lain sebagainya.

Ishmi bersyukur, kini produk rotinya sudah memiliki sertifikat halal. Dia pun terus menambah jenis produknya. Tidak hanya dijual di counternya, tetapi juga dititip ke sejumlah tempat lainnya.

Agar tetap survive, Ishmi mengatakan akan tetap mengutamakan kepuasan pelanggan.

“Kami tetap menomorsatukan kepuasan pelanggan dalam hal memasarkan produk kami,” ujar Ishmi.

Wanita muda itu berharap, produk roti miliknya lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas. Kedepan, dia akan mengembangkan usahanya, dengan menciptakan produk-produk baru, agar pelanggan bisa memiliki banyak pilihan. (*)

Ayo tulis komentar cerdas