Gusstiawan Raimanu. (Foto: Istimewa)

Oleh: Gusstiawan Raimanu*

MENDUKUNG dan memprotes globalisasi terutama dalam kaitannya dengan perdagangan global bukan merupakan fenomena baru. Adam Smith, “bapak ilmu ekonomi”, mendukungnya pada 1776 melalu karyanya yang terkenal The Wealth of Nations: “Setiap kepala keluarga yang cermat tak akan pernah berusaha untuk membuat sendiri barang-barang yang biayanya lebih mahal ketimbang membelinya. Apa yang dilakukan oleh setiap keluarga juga mesti dilakukan oleh sebuah kerajaan besar. Jika satu negara asing dapat memberi kita komoditas yang lebih murah harganya ketimbang jika kita membuat sendiri, maka lebih baik kita beli saja dan menjual barang buatan kita yang biaya produksinya lebih murah ketimbang mereka.”

Melalui konsep inilah berkembang perdagangan internasional yang berlangsung terus menerus hingga saat ini. Tidak hanya sampai pada perdagangan barang dan jasa, kini melalui globalisasi terjadi pertukaran yang jauh melampaui apa yang dapat dipikirkan manusia jauh  sebelum revolusi industri. Negara-negara di dunia berlomba-lomba dalam sebuah kompetisi menurut “liga” mereka masing-masing. Sebut saja Indeks Daya Saing Global yang dirilis oleh World Economic Forum (WFE) secara berkala setiap tahunnya. Dalam laporannya WEF mengurutkan indeks daya saing masing-masing negara berdasarkan banyak indikator kompleks diantaranya infrastruktur, makro ekonomi, pasar keuangan, kesiapan teknologi dan inovasi.

Kajian tentang daya saing suatu negara adalah topik menarik, ditinjau dari aspek ekonomi, politik, sosial maupun teknologi. Daya saing sebuah negara dianggap sebagai salah satu sumber dari ketahanan suatu negara dalam menghadapi tantangan dalam membangun peradaban bangsa. Sebab peradaban hanya dapat dibangun melalui kekuatan ekonomi, politik, dan budaya yang unggul. Bagaimana dengan Indonesia? Indeks Daya Saing Global Indonesia dilaporkan sebesar 64.629 Score pada 2019. Rekor ini turun dibanding sebelumnya yaitu 64.935 Score untuk 2018. Data Indeks Daya Saing Global Indonesia diperbarui tahunan, dengan rata-rata 64.629 Score dari 2017 sampai 2019. Di Asean, Indonesia belum mampu menggunguli Singapura, Malaysia dan Thailand.

Beragam faktor ditengarai menjadi pemicu indeks daya saing yang menurun ini. Selain pemasalahan politik dan gejolak perekonomian global, pandemi Covid-19 turut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pelambatan pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya Indonesia, namun hampir semua negara di dunia terdampak pandemi ini. Meratapi kondisi pandemi bukanlah jawaban. Persaingan melalui globalisasi masih terbuka. Ditengah upaya menekan penyebaran Covid-19, Kerjasama multilateral yang kuat tetap penting untuk dibangun diberbagai bidang. Stimulus kebijakan ekonomi harus tetap dilakukan. Mendorong sektor UKM untuk terlibat dalam kegiatan ekspor juga penting untuk pertumbungan ekonomi. Sebab dengan meningkatnya kegiatan ekspor UKM akan turut memperbaiki neraca perdagangan nasional dengan adanya devisa yang masuk.

Meski ada kecemasan bahwa industri dalam negeri akan kalah bersaing dengan industry asing yang memanfaatkan keunggulan komparatif, prespektif optimis penting dimiliki bangsa ini. Membangun unit-unit bisnis bertaraf global, mendorong lahirnya UKM yang born-global perlu dilakukan oleh pemerintah baik ditingkat pusat maupun di daerah.  Sebuah penelitian di Spanyol pada Tahun 2005 menunjukkan berbagai macam keunggulan UKM born-global dari UKM tradisional berdasarkan aspek kajian diantaranya kriteria pendiri perusahaan, kriteria kemampuan organisasional, dan sasaran strategis perusahaan. Studi ini menunjukkan bahwa UKM born-global cenderung lebih siap bersaing secara global, karena mereka memang didirikan untuk berfokus kepada pasar global, memiliki pengalaman dan jejaring global yang sangat baik serta mengalami perkembangan yang berkelanjutan.

Tidak sampai disitu saja, pemerintah juga perlu memberikan pendampingan kepada pelaku UKM untuk meningkatkan desain, kemasan, sampai olahan produk mereka agar UKM dapat bersaing di pasar global. Selain berbagai kebijakan tersebut, pemerintah juga dapat mem angun sinergi bersama perguruan tinggi dalam melakukan riset-riset inovatif dalam menemukan pola strategi yang tepat untuk mengakselerasi upaya mewujudkan UKM born global. A hirnya mengutip perkataan Hovey & Rehmke, para ekonom Amerika, Globalisasi masih berlangsu g, dan hubungan ekonomi antar-individu, perusahaan dan negara akan terus bertambah dan melu s. Jadi nikmatilah dunia yang makin sempit ini

*) Penulis adalah Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Sintuwu Maroso

Ayo tulis komentar cerdas