Home Artikel / Opini

Dibangkitkan Bersama Orang yang Dicintai

9
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DARI Anas radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam: “Kapankah hari kiamat terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apa yang telah kau persiapkan menghadapinya?” Laki-laki itu menjawab, “Aku belum mempersiapkan menghadapinya dengan banyak shalat, puasa ataupun sedekah. Namun aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kamu akan bersama dengan yang kamu cintai.” Anas berkata: “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, Abu Bakar dan Umar serta aku berharap beserta mereka dengan cintaku pada mereka meskipun aku aku tidak dapat beramal seperti mereka.”

Buku tanpa sampul dan judul membuatnya tidak berarti walaupun bobot isinya bagus. Demikianlah ibarat dunia ini, tanpa cinta hanya akan membuat perjalanan kehidupan menjadi hambar seperti sayuran tanpa garam. Cinta adalah suatu makna yang menyertai alam semesta, manusia dan seluruh makhluk.

Cinta kepada orang-orang shalih merupakan amalan hari yang agung. Melalui cinta yang jujur, seseorang bisa mencapai kedudukan mereka walaupun amalannya tidak sebaik orang-orang shalih tersebut. Dengan cinta terwujud iradah (kehendak) dan tercapai pelaksanaan suatu amalan. Tetapi tanpa cinta, akan hilanglah iradah dan tidak ada amalan kebaikan yang bisa dilakukan.

Cinta merupakan perasaan yang dikenal manusia ketika mereka menyelami rahasia-rahasia kehidupan. Bahkan, yang membuat agama ini agung adalah Allah menjadikan kehidupan akhirat tergantung dengan cinta. Sehingga kehidupan dunia dan akhirat keduanya tegak berdiri di atas dasar cinta.

Cinta; makna yang sangat tipis dan halus lagi memenjarakan. Cinta bersemayam di hati dan batin. Meskipun ia tak kasat mata, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan di alam nyata. Cinta tampak pada semburat wajah dan senyum cerah seseorang, pada perkataan dan perbuatannya bahkan pada tidur dan bangunnya. Kehidupan ini tidak indah dan elok dipandang retina mata kecuali dengan adanya cinta.

Gerakan, nafas dan iradah kehidupan menciptakan cinta, keindahan kehidupan dan eloknya pemandangan tidak akan bisa dirasakan kecuali dengan cinta. Peribadatan tidak akan terbangun kecuali dengan cinta. Demikian pula ittiba (mengikuti syariat) rasul shallallahu alaihi wassalam tidak akan terbangun kecuali dengan cinta.

Keluarga tidak akan lurus kecuali dengan cinta antara suami istri antara orang tua dan anak. Masyarakat tidak akan bersih dan damai kecuali juga dengan makna cinta ini yang halus nan agung.

Agama ini merupakan agama yang indah, penuh makna yang halus lagi mulia. Agama yang dibangun dengan ikatan cinta dan keindahan antara manusia serta makhluk lainnya termasuk benda mati yang tidak memiliki nyawa. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengabarkan apabila gunung Uhud mencintai sahabat: “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kamipun mencintainya.” (Al-Bukhari)

Beliau shallallahu alaihi wassalam juga mengajak sahabat muhajirin berdoa untuk mencintai Madinah seperti kecintaan mereka pada Makah: “Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Madinah seperti kecintaan kami kepada Makah atau lebih.” (Al-Bukhari)

Begitu pula, langit dan bumi juga bisa mencintai atau membenci manusia. Karena itu ketika orang kafir mati, langit dan bumi tidak merasa kehilangan dan bersedih dengan kematian mereka: “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka.” (Ad-Dukhan: 29)

Maksudnya, langit dan bumi akan menangis atas kematian seorang mukmin karena hubungan cinta antara mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ketika ditanya siapa istri yang paling engkau cintai, beliau menjawab: “Aisyah”. Beliau tidak malu mengungkap rasa cintanya pada Aisyah pada khalayak. Cinta yang membuat beliau meminum gelas dari bekas mulutnya ibunda Aisyah radhiyallahu ’anha.

Ketika beliau ditanya siapa laki-laki yang paling engkau cintai, beliau menjawab: “Abu Bakar”. Laki-laki mencintai laki-laki dan bagian dari agama mengabarkan rasa cintanya pada saudaranya.

Dengan cinta akan tercapai ittiba antara pengikut dengan yang diikuti, siapa yang hatinya tidak mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam maka tidak akan mampu tunduk pada syariatnya. Dengan cinta tercapai peribadatan pada Allah. Saat itulah kaki tegak untuk ibadah dan disedekahkan harta, dipersembahkan ruh dan dikorbankan jiwa raga berharap memandang wajah yang dicintainya di hari kiamat.

Dengan cinta ditaati perintah dalam batin dengan ridha dan penerimaan sebagaimana ditaati secara lahir. Tidak ada kehidupan dalam masyarakat dan jamaah kecuali dengan ketaatan batin dan keridhaan ini.

Cinta merupakan asas kehidupan dan kebutuhan primer yang prioritas, kedudukan cinta bukan hanya tambahan saja. Siapa yang tidak memahami posisi cinta dalam kehidupan maka dia lebih sesat dari hewan dan binatang ternak. Sebab binatang memahami makna-makna cinta ini dan mereka hidup dalam ekosistem penuh cinta. Singa mengorbankan nyawanya demi melindungi sang betina bahkan induk ayam mempertaruhkan keselamatannya demi melindungi anak-anaknya.

Salah satu penyebab azab Allah turun karena hilangnya cinta pada manusia pada makhluk seperti firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Dari semua ini kita mengetahui pentingnya cinta. Jika kita memperhatikan semua syariat-syariat dalam Al-Quran dan Sunah tujuannya untuk cinta. Ketika hamba menjalankan ketaatan pada Allah maka akan mendekat pada Allah sesuai dengan kadar kecintaanya pada Allah. Dan Allah akan mendekat pada hamba melebihi kadar kecintaan hamba tersebut: “Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (Muslim)

Ketika seseorang menjalankan ketaatan pada Rabbnya maka dia semakin dekat dengan orang-orang yang mencintai Allah. Dia juga akan menerima penyikapan yang baik dari makhluk dari pemberian infak, kasih sayang dan pemaafan atas kesalahan yang diperbuatnya. Kebaikan-kebaikan itu semua pengaruh dari cinta.

Cinta adalah timbangan dunia dan sampul serta judulnya, timbangan akhirat dan derajatnya. Mencintai shalihin dan para ulama yang beramal akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat karena rahmat dan keutamaan Allah.

Mayoritas manusia lalai dari amal hati yang agung ini. Keutamaan amal ini hati ini memperberat timbangan orang-orang lemah untuk sampai bertemu dengan orang-orang besar yang penuh amalan. Karena seseorang akan dibangkitkan bersama yang dicintainya. Keadilan Allah dan rahmat-Nya mengumpulkan orang-orang yang saling mencintai dan tidak memisahkannya.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas