Aviva Nur Akya. (Foto: Metrosulawesi/ Adi Pranata)
  • Aviva Nur akya, Pemain SSB Sausu Raya U-13

——————————–

Ada pemandangan berbeda saat perhelatan liga Top Skor zona Sulawesi Tengah (Sulteng) di lapangan Galara Utama Kota Palu, Sabtu (01/01/2022) pagi. Puluhan penonton yang hadir tak seperti biasanya. Mata mereka tertuju pada salah satu pemain dengan kerudung hitam di kepala. Setiap dia berlari berusaha menjegal lawan, penonton selalu bersorak. Mereka menikmati pertandingan pagi di awal tahun 2022 itu.

====================

DIALAH Aviva Nur Zakya (13). Mencuri perhatian penonton sebab jadi pertama dan satu satunya kaum Hawa dari ratusan pemain yang merumput di liga Top skor Sulteng 2021. Kia, panggilan akrab Aviva, pada liga pencarian bakat muda itu membela tim SSB Sausu Raya U-13. Bersama timnya dia berhasil meraih poin penuh di laga perdana. Menang 2-1 atas tim Labuan Beru U-13 .

Kemenangan itu mampu membuktikan keandalan pesepakbola muda kelahiran Sausu 30 Oktober 2008 itu, sebagai pemain bertahan (Stopper). Meski memiliki postur mungil, Kia tak gentar menghadapi pemain lelaki yang posturnya lebih tinggi dibandingkan dirinya. Kakinya sigap menghentikan serangan lawan. Setiap bola disapu bersih keluar lapangan. Itu lebih baik, menghindari resiko kebobolan dari tim lawan.

“Posisi bek memang kemauan saya. Saya memang suka menghentikan pemain lawan soalnya tidak bisa jadi penyerang,” kata Kia singkat kepada Metrosulawesi.id, usai pertandingan bersama ibunya, Indah Surahmi.

Kia bercerita jadi pemain bola memang keinginannya sejak kecil. Keluarganya bukanlah Atlet maupun olahragawan. Minatnya kala itu bermula ketika sering menonton pertandingan sepakbola di kampung halaman. Dia juga sering bermain bola ketika masih menginjak bangku Sekolah Dasar. Ia tak merasa malu bermain dengan kawannya yang berbeda gender.

Kia bersama ibunya. (Foto: Metrosulawesi/ Adi Pranata)

Orang tua Kia bahkan sempat dibikin kaget. Tak menyangka anak perempuannya ternyata ingin jadi atlet sepak bola.

“Saya awalnya saja nda tau loh,” kata Indah ibunda Kia.

“Dia awalnya bilang hanya latihan bola, ya sudah itu saya dukung,”. Diumurnya ke 11 tahun, Kia membulatkan tekad gabung ke sekolah sepak bola.

Di bawah asuhan pelatih, Ibrahim, Kia mulai diajar berbagai teknik sepak bola di SSB Sausu Raya. Pagi ia habiskan untuk mengenyam pendidikan di MTSn Sausu. Sore di hari Rabu, Jumat dan Minggu, Kia sesuai jadwal harus pergi ke lapangan untuk latihan. Di SSB itu tak ada pembedaan. Baik pemain perempuan maupun laki-laki. Porsi latihan Kia sama dengan pesepakbola lelaki sebayanya.

Dari buah hasil latihannya itu, Kia perlahan mulai menunjukan potensi dan mengembangkan kualitas permainannya. Terbukti, di tahun 2020 tim dari Makassar terpincut untuk menggunakan kontribusinya di lapangan hijau. Kia dipanggil tim putri SSB Galarang asal kabupaten Gowa untuk mengikuti kompetisi liga ‘Aqua Danone’.

“Alhamdulillah di situ keluar jadi juara pertama tim saya,” ujar Kia.

Sebab potensi yang dimiliki, Ibrahim yang mendidik Kia di SSB berharap agar Kia serius menggeluti keinginannya menjadi pemain wanita profesional. Kia sudah mengetahui teknik bertahan. Tinggal dilatih kecepatan, dan ketenangan dalam permainan.

“Kia mainnya bagus, tinggal butuh jam terbang yang lebih banyak lagi,” kata Baim.

Aksi Kia saat menghadapi lawan. (Foto: Metrosulawesi/ Adi Pranata)

Belakangan, kemampuan Kia terpantau sejumlah pemandu bakat. Banyak yang tertarik untuk merekrut gadis penggemar Witan Sulaeman ini. Berbagai tawaran mulai berdatangan setelah beberapa kali ia merumput di lapangan hijau. Tawaran itu salah satunya ajakan bergabung di Aji Santoso Football Akademi (ASIFA) di Jakarta.

“Kalau diajak bergabung ya mau, kalau latihan di sini saja juga gapapa,” kata Kia. 

Indah sendiri selalu mendukung keinginan anaknya. Ia tak pernah melarang. Bagi dia yang utama ialah anaknya sukses dan bisa membikin orang tua bahagia.

“Ya selagi itu kemauannya dia dan tak mengganggu pelajaran saya sebagai orang tua selalu mendukung,” ujarnya.

“Mudah mudahan apa yang diinginkan tercapai,” imbuh dia.

Kia lagi-lagi membuktikan sepakbola bukanlah permainan gender tertentu. Dia mematahkan stigma sepakbola hanya untuk kaum Adam. Dengan tekadnya, Kia membuktikan kaum hawa memiliki minat yang cukup besar terhadap kemajuan dunia sepak bola, terutama di daerah Sulawesi Tengah.

Secara pribadi, Kia mengaku jadi penggawa timnas Wanita Indonesia atau Garuda Pertiwi adalah impiannya di masa yang akan datang. Dia penuh semangat akan menekuni karirnya agar bisa sekelas Zahra Musdalifah, kaum hawa lainnya yang kini sukses membela Timnas.

“Saya bermain bola ini hanya ingin membanggakan orang tua,” tutur Kia.  (*)

Reporter: Adi Pranata

Ayo tulis komentar cerdas