MAHASISWI Cantik (MC) itu, di rumahnya, sedang merapikan naskah skripsinya. Dia memeriksa secara teliti halaman-halamannya. Dia lalu mengemasnya ke dalam map plastik berwarna kuning lembut.

Naskah itu sudah rapi. Disimpan di meja ruang tamu. Pergi ke ruang dapur. Sarapan secukupnya. MC lalu masuk ke kamar mandi. Hanya sekira 15 menit. Wajahnya segar. Bergegas ke kamarnya. Memilih pakaian yang bercorak ceria. Memandang wajahnya yang tersenyum sendiri di cermin. Duh, cantik benar mahasiswi Angkatan 2018 ini.

Kini MC siap-siap meninggalkan rumahnya. Menuju ke kampusnya. Dia sudah janjian dengan pembimbing skripsinya. Pembimbingnya itu dikenal sebagai Dosen Senior (DS). Belum terlalu tua.

Penampilannya gagah. Bila tersenyum memancarkan aura kewibawaan.

MC mengatur napasnya. Dia melihat jam di tangan kirinya. Sudah pukul sebelas siang. Tepat, sesuai kesepakatan pertemuannya.

Sembari menggigit lembut bibirnya, dia mengetuk pintu ruang kerja DS. Belum ada jawaban dari dalam. Dia mengulang ketukannya. Hingga tiga kali barulah ada suara dari dalam ruangan: silakan masuk.

“I love you,” ucap DS tersenyum saat MC melangkah menuju ke arah kursi kayu berwarna coklat yang ada di depan meja dosen pembimbingnya itu.

Jantung MC berdegup kencang. Napasnya tak beraturan. Dia salah tingkah. Pikirannya sudah tidak fokus lagi ke naskah skripsi itu. Sudah bercabang ke mana-mana.

“Ada apa DS mengucapkan ‘i love you’ kepadaku?” Gumam MC, heran. Tentu DS tak mendengarnya.

Ah, mungkin DS sekadar merefleksikan humor-humornya. Begitu simpulan MC, dalam hati. Bimbingan pun berjalan normal. Beberapa saran perbaikan dari DS untuk naskah skripsi MC.

Bimbingan sudah selesai siang itu. MC pamit keluar dari ruang kerja DS. Secara refleks DS berdiri. Meninggalkan kursinya.

Melangkah dengan pasti. Mendekati MC. Kedua tangannya tiba-tiba mendarat kuat di bahu MC. Gadis MC terkejut. Jantungnya bergemuruh. Seakan mau copot. Tingkah DS tidak cukup sampai di bahu. Dengan kecepatan seperti kilat DS merapatkan bibirnya ke pipi lalu ke kening MC. Gadis kalem ini tertunduk. Menyembunyikan tangis pedihnya.

“Mana bibirnya? Mana bibirnya?” DS mencari bibir MC.

Melihat DS makin bergairah di hadapan “mangsanya”, MC pun seketika keluar dari ruang kerja DS dengan napas terengah-engah. Berlari kencang, seperti orang yang sedang diburu anjing gila.

“Dosen senior tak bermoral, dinda.” Respon Bung, temanku di kedai kopi.

“Sudah tersangka di Polda, Bung.”

“Harus dipecat. Dia seorang pendidik yang tak mampu merem nafsu syahwatnya di hadapan anaknya, mahasiswinya, dinda. Tak ada toleransi untuknya. Semoga pihak kepolisian yang menanganinya tidak masuk angin.”

“Tidak masuk angin, maksudnya, Bung?”

“Bisalah dinda, di kepolisian, kadang angin kompromi tiba-tiba datang menerpa.”

“Bukankah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah mewanti-wanti anak buahnya agar tidak bermain-main dalam penanganan kasus, Bung.”

“Semoga. Kita tunggu, dinda. Sesungguhnya, saat pelecehan itu, riawayat moral DS sudah tamat.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas