I Putu Ardika Yana. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: I Putu Ardika Yana

PENYALAHGUNAAN narkoba di kalangan remaja masih menjadi bagian terbesar kedua setelah para kelompok pemuda produktif. Dalam survei yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional bersama dengan LIPI pada tahun 2019, menempatkan Sulawesi Tengah pada peringkat ke empat prevalensi tertinggi se-Indonesia penyalahgunaan narkoba. Hal ini tentu saja bukan kabar yang menggembirakan, apalagi dalam survey ini, usia produktif adalah kelompok yang paling tinggi menyalahgunakan narkoba.

Terkhusus pada kelompok remaja, Menurut Erikson, masa remaja adalah masa pencarian identitas diri, proses pencarian ini melibatkan hubungan psikososial antara remaja dan individu lain dalam satu lingkungan sosialnya. Para remaja banyak terlibat dalam kelompok teman sebaya yang merupakan bagian alami dari proses pembentukan identitas diri.

Proses pembentukan identitas diri pada remaja bukan perkara yang mudah, pada masa ini juga digambarkan sebagai badai yang besar dalam kehidupan remaja karena adanya dorongan untuk menjadi “dewasa” namun belum memiliki kapasitas untuk menjadi “dewasa”, adanya dorongan hormon dan keinginan eksplorasi yang tinggi serta ragam tekanan sosial dan emosional yang juga muncul secara bersamaan. Belum lagi sekaitan dengan teman sebaya, remaja akan sangat mengindentifikasikan diri dengan hubungannya terhadap teman sebaya sehingga kehadiran teman sebaya dalam lingkungannya adalah bagian penting dari pembentukan identitas diri.

Masalahnya justru ada di sana. Kerap kali, remaja dalam budaya kita dituntut untuk telah memiliki kepribadian yang ajeg, konsisten, bertanggungjawab dan memiliki kontrol diri yang baik. Mereka juga kerap dituntut untuk bersikap bertanggungjawab pada apa yang mereka jalani. Padahal, mereka sebenarnya belum memiliki kemampuan yang tepat untuk memliki kepribadian yang ajeg dan konsisten serta bertanggungjawab. Secara alami jika remaja cenderung emosional, agresif, aktif dan atau mungkin mengalami beragam gejolak kepribadian yang tampak inkonsisten dan belum memiliki kontrol diri yang baik. Hal ini terjadi karena ragam tekanan yang muncul dalam diri mereka sendiri maupun dari orang lain.

Ketika mereka sendiri sedang dalam proses pencarian jati diri—sudah mengalami berbagai masalah—mereka kemudian dihadapkan lagi pada tuntutan yang datang dari lingkungan sosial, akademis dan orang tua. Hal ini tentu dapat menjadi masalah lagi bagi pada remaja untuk menjalani kehidupannya. Apalagi mereka belum memliki kematangan kepribadian dan kontrol diri sehingga sangat memungkinkan mereka salah memilih keputusan dan menjalani kehidupan. Hirschi (dalam Kusumatuti dan Hadjam 2004) juga mengemukakan hal yang sama bahwa penyalahgunaan narkoba yang dilakukan seseorang dapat dipengaruhi oleh kurang kuatnya kontrol diri seorang remaja. Kontrol diri berpotensi mempengaruhi perilaku seseorang sesuai dengan norma sosial di lingkungan tersebut. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kontrol yang kuat maka orang itu tidak akan melakukan penyimpangan yang menyalahi norma termasuk menyalahgunakan narkoba.

Saat ini, upaya untuk meningkatkan kontrol diri remaja guna mencegah penyalahgunaan narkoba menjadi program prioritas nasional Badan Narkotika Nasional (BNN). Program itu berjuluk “Ketahanan Diri Remaja” yang diartikan sebagai kemampuan remaja untuk mengendalikan diri, menghindar dari dan menolak segala bentuk penyalahgunaan narkoba dengan menggunakan Self Regulation, Assertiveness, dan Reaching Out sebagai dimensi. Tiga dimensi ini menentukan bagaimana remaja bertahan dari dorongan, keinginan, atau pengaruh untuk menyalahgunakan Narkoba.

Self Regulation

Merupakan kemampuan individu untuk mengelola pikiran, impuls serta emosi agar dapat menampilkan respons perilaku yang berkesesuaian dengan pencapaian tujuan di masa mendatang. Beberapa penelitian mengungkap bahwa self regulation memiliki hubungan dengan perilaku penyalahgunaan narkoba.

Assertiveness

Kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mengungkapkan dan mengekspresikan perasaan dan gagasan serta pikirannya secara tegas, apa adanya, jujur, terbuka, serta bertanggung jawab tanpa rasa cemas dan tidak mengganggu hak pribadi orang lain atau tidak menyakiti orang lain.

Reaching Out

Dalam konteks upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, dimensi reaching out yang menjadi bagian dari konstruksi resiliensi dapat dijadikan sebagai acuan bagi upaya identifikasi kemampuan individu dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk menggunakan dan menyalahgunakan narkoba.

Untuk mencegah penyalahgunaan narkoba maka para remaja diharapkan memiliki ketahanan diri yang tinggi berkaitan dengan bagaimana ia meregulasi dirinya hingga berani secara asertif menyampaikan apa yang ia sampaikan secara tepat. Selain itu, jika remaja memiliki ketahanan diri yang baik ia dapat memahami dan menjalani berbagai permasalahan kehidupan yang dapat membuat remaja jatuh pada penyalahgunaan narkoba.

Salah satu cara meningkatkan ketahanan diri remaja adalah dengan berlatih tenang. Nama latihannya adalah: Tenang Lapang dalam Hidup yang Penuh Guncangan” : Sebuah upaya Regulasi Diri untuk hidup waras tanpa narkoba.

Tenang Lapang adalah sebuah metode untuk meregulasi diri dan mengembangkan kontrol diri yang tepat khususnya bagi para remaja. Cara ini sangat efektif untuk mengenali emosi, memahami konflik dan mengontrol diri sehingga mampu bersikap tenang – sabar sebelum bertindak. Cara ini efektif bagi para remaja untuk mampu meregulasi ketidakstabilan emosi, apalagi jika mengalami tekanan teman sebaya.

Bagaimana cara melakukan latihan tenang lapang. Berikut caranya:

  • Duduk dengan penggung tegak lurus
  • Tutup mata dan letakan tangan di atas paha
  • Tarik nafas perlahan-lahan melalui hidung dan hembuskan melalui hidung
  • Ulangi tarikan nafas sehingga terasa lebih tenang
  • Sadari dan nikmati proses bernafas hingga perasaan lebih tenang.
  • Ulangi dan praktikan latihan ini ketika menghadapi situasi yang pelik atau terapkan setiap saat ketika membutuhkan waktu agar lebih tenang.

Manfaat dari latihan tenang lapang adalah :

  • Meredakan stres
  • Mengurangi tekanan mental
  • Membuat hidup terasa lebih tenang
  • Mengenali emosi dan konflik
  • Mengembangkan kontrol diri

Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja adalah salah satu kelompok yang rentan menyalahgunakan narkoba, hal ini terjadi karena fase remaja adalah fase pencarian jati diri yang menyebabkan mereka belum memiliki kepribadian yang matang, masih memiliki keinginan eksplorasi yang tinggi, perubahan hormonan dan emosional, serta memiliki ragam tekanan yang bersumber dari diri sendiri maupun lingkungan sosial. Fase ini dapat menyebabkan remaja memiliki kelemahan dalam kontrol diri yang mempengaruhinya dalam menyalahgunakan narkoba. Jika kontrol diri mereka terus melemah maka mereka akan sangat mudah menyalahgunakan narkoba. Berlatih tenang-lapang akan membantu mereka meredakan stres, mengurangi tekanan mental dan mengembangkan kontrol diri yang optimal. (*)

Ayo tulis komentar cerdas