GUS DUR bangkit lagi. KH Yahya Cholil Staquf, juru bicara Gus Dur saat menjadi Presiden RI, terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Kader NU berusia 55 tahun ini membuyarkan mimpi KH Said Aqil Siroj, yang berambisi untuk tiga periode.

Muktamar Ke-34 NU di Lampung, menjadi saksi tak terlupakan bagi Gus Yahya yang merebut suara 337. Sementara petahana Said Aqil harus bersabar dengan suara 210. Selisih 127 suara. Luar biasa banyaknya. Benarkah Gus Yahya disukai oleh kader NU lantaran ingin mengembalikan “ajaran” Gus Dur pada ormas Islam terbesar di negeri ini?

Dalam beberapa diskusi, Gus Yahya, selalu tampil menawarkan pemikiran-pemikiran Gus Dur. Ketika Gus Dur memimpin NU selama sepuluh tahun, ormas ini sangat disegani. Boleh jadi juga ditakuti oleh pemerintah saat itu. Tiada hari tanpa kritik Gus Dur untuk rezim otoriter.

Kekritisan NU untuk jalannya pemerintahan memang dirindukan oleh banyak kalangan. Bila pemerintah berjalan di jalan benar, harus didukung. Bila tidak, suara kritis itu ditunggu. Selama ini terkesan telah tercipta persekutuan. Karena itu jangan berharap keluar suara-suara sumbang. Justru suara-suara merdu yang keluar.

“Benar, kita butuh suara kritis dari ormas NU untuk mereka yang diberi mandat oleh rakyat yang bernama pemerintah itu. Begitulah yang dilakukan Gus Dur, dulu, dinda.” Kawanku di kedai kopi berpendapat, setelah terpilihnya Gus Yahya menjadi Ketua Umum PBNU.

“Memangnya suara NU selama ini tidak kritis kepada pemerintahan Jokowi, Bung?” Buru-buru aku melemparkan pertanyaan untuknya.

“Bagaimana mau kritis kalau Said Aqil Sang Ketua Umum PBNU dua periode itu tidak menciptakan jarak dengan pemerintah, khususnya Presiden Jokowi. Pernahkah dia kritik jalannya pemerintahan, dinda?”

“Apa buktinya kalau Said Aqil tidak menciptakan jarak dengan pemerintah, Bung?”

“Ah, dinda ini, masak tidak tahu. Bukankah Said Aqil sudah menjadi bagian pemerintahan dengan diangkatnya sebagai komisaris di salah satu BUMN. Dengan posisi itu, jangan pernah berharap lagi ormas NU kritis, lantaran ketua umumnya sudah masuk dalam lingkaran istana.”

“Lalu Gus Yahya, apa mampu mengkiritisi pemerintahan, seperti Gus Dur, dulu, Bung?”

“Kalau tidak tergiur dengan kekuasaan dan menempatkan NU sebagai ormas di poros tengah, aku yakin dia mampu. Tak usahlah bergaya Gus Dur yang oposan itu, tapi cukup berani melontarkan kritik bila pemerintah di jalan yang salah, dan memuji pemerintah bila di jalan yang benar. Begiti saja, dinda.”

“Apakah Bung ingin mengatakan hindarilah bersekutu dengan pemerintah?”

“Hehe… Dinda, benar.” (#)

Ayo tulis komentar cerdas