COKI terkejut. Bingung. Ada apa. Tiba-tiba namanya disebut. Dipanggil naik ke atas panggung. Hanya beberapa detik kemudian, terjadilah musibah itu. Telinga kirinya dijewer. Memerah. Seperti anak kecil yang nakal. Di depan banyak orang. Dipermalukan. Sakit, tentu.

Siapa pelakunya? Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi. Heran, kan? Penyebabnya? Sepele. Coki tidak bertepuk tangan saat acara jumpa atlit antara Gubernur Edy dengan para atlit PON Sumut, Senin, 27 Desember 2021. Betulkah hanya karena tidak bertepuk tangan? Tampaknya Edy merasa tak dihargai tanpa tepuk tangan dari seorang warganya itu.

Siapa Coki? Nama lengkapnya Khairuddin Aritonang. Bukan warga biasa. Dia termasuk lelaki pilihan di Sumatera Utara.

Sejak 2018 dia dipercaya oleh lembaga olah raga tertinggi di Sumut sebagai pelatih utama olah raga biliar.

Merasa harga dirinya dicabik lalu dipertontonkan di depan banyak orang, Coki akan melaporkan tingkah tak terpuji gubernurnya itu.

“Saya akan melaporkan semua ini ke polisi. Saya telah dipermalukan,” janji Coki dengan raut wajah serius. Tegang. Mungkin marah.

Mendengar perlawanan dari warganya yang akan melapor ke polisi, Gubernur Edy meresponnya dengan nada santai. Rileks. Seakan tak ada masalah dengan peristiwa di atas panggung itu.

“Itu jeweran sayang.” Edy mengulum senyum di hadapan sejumlah wartawan yang mengonfirmasi soal jewer telinga itu, sembari berlalu.

“Dulu, di awal-awal rezim otoriter Orde Baru berkuasa, jewer telinga dan semacamnya atau tingkah mempermalukan rakyat oleh pejabat, baik pejabat rendahan maupun tinggi, menjadi cerita biasa. Itulah sifat umum mentalitas para pemimpin kita, dulu. Mentalitas yang menganggap dirinya jagoan seperti kowboi, dan rakyat di lapisan bawah itu dianggap remeh. Rendah. Begitulah suasana dulu, dinda.” Kawanku di kedai kopi merespon jewer telinga yang dipamerkan Gubernur Edy itu.

“O, begitu. Tapi era rezim Orde Baru sudah tamat. Kini era reformasi, era yang menjunjung tinggi nilai demokrasi. Tak boleh lagi sewenang-wenang, Bung.”

“Itulah. Gubernur Edy, Jenderal TNI AD purnawirawan itu, mantan Pangkostrad itu, mantan Ketua PSSI itu, lupa kalau keadaan telah berubah. Tapi bagiku Edy ini termasuk pemimpin cerdas juga ya…hehe.”

“Cerdas bagaimana, Bung?”

“Setelah jewerannya kepada rakyatnya itu dimasalahkan dan akan dilaporlan ke polisi, eh… tiba-tiba bersiasat dengan mengatakan: itu kan jeweran sayang!” (#)

Ayo tulis komentar cerdas