APA pun untuknya halal! Ungkapan amarah membara itu tak terbendung dari seorang warganet. Boleh jadi umpatan itu refleksi ketidaksadarannya. Emosionalnya sedang berada di puncak. Demi hukum, tentu tidak dibenarkan.

Ferdinand Hutahaean (FH) adalah sumbu bara itu. Dengan kata-kata, FH telah menorehkan “sejarah malapetaka” pada bangsa besar ini, Selasa, 4 Januari 2022. Bukan hanya anak-anak muda di KNPI, tapi juga para ulama di MUI, merasa tersinggung dan marah membaca cuitan FH di media sosial.

“Kasihan sekali Allahmu, ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa maha segalanya, Dia lah pembelaku dan Allahku tak perlu dibela.” Itulah unggahan FH yang dinilai oleh banyak kalangan sebagai ungkapan provokatif.

Kita tidak tahu. Apa yang terjadi andaikan FH bertemu dengan Jenderal (Polisi) Napoleon Bonaparte. Masih ingat kan peristiwa di kamar tahanan Markas Besar Polri? Malam pekat itu, Napoleon mengendap-endap. Langkahnya penuh perhitungan. Mendatangi seorang tahanan lainnya. Namanya M. Kece. Tahanan ini dituduh melakukan penghinaan pada agama Islam dan Allah.

“Kau boleh menghina pribadi saya, tetapi TIDAK untuk Allahku.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, seketika Napoleon melumuri tahi. Kotoran manusia. Ke bagian wajah. Dan sekujur tubuh M. Kece. Tahi itu mungkin miliknya sendiri. Atau milik orang lain. Tak penting dilacak asal-usulnya. Yang jelas, dipersiapkan di kamarnya. Disimpan dalam kantong plastik. Perencanaan yang matang.

Penghinaan dibayar penghinaan. Sebagai negara hukum, ini tidak boleh. Namun, mungkin emosional Napoleon, detik itu, sedang berada di puncak.

“Saya melakukan ini sebagai tindakan terukur. Dan saya siap bertanggung jawab.” Napoleon berikrar setelah peristiwa itu jadi heboh. Benar, dia bertanggung jawab. Apa pun risikonya.

Senin, hari ini, FH diperiksa polisi. Andaikan tersangka. Ditahan. Tak mungkin sekamar dengan Napoleon. Polisi khawatir, jangan sampai emosional jenderal itu kumat. Lalu peristiwa M. Kece terulang pada diri FH. Polisi, tak mau lagi bau kotoran itu menyeruak di ruang tahanan.

“FH ini cari gara-gara, dinda.” Bung, kawanku di kedai kopi, bereaksi.

“Gara-garanya di mana, Bung?” Seketika aku meresponnya.

“Allahmu lemah. Semua orang paham, siapa Allah yang dituduh lemah itu, kecuali orang yang mendustakan hatinuraninya. Andaikan dia hanya memuji Allahnya, tanpa menilai negatif Allahnya orang lain, tak ada masalah. Tapi begitulah bibir kotor. Yang keluar biasanya juga kata-kata kotor. Jadi kini sebaiknya dia meniru jejak Napoleon, dinda.”

“Jejak apanya Nepoleon yang layak ditiru, Bung?”

“Usai Napoleon melumuri tahi ke wajah M. Kece, langsung mengatakan: saya siap bertanggung jawab. Apa pun risikonya! Tidak berkelit.”

“Maksudnya, kalau FH berani ya ucapkan juga kata-kata itu. Begitu, Bung?”

Aku dan Bung saling berpandangan. Lalu tersenyum simpul. Dua cangkir cappucino hangat di meja siap melumuri bibir. (#)

Ayo tulis komentar cerdas