KYAI Anwar Abbas membalas tantangan Presiden Jokowi. Jokowi pernah menantang rakyatnya untuk mengkritiknya. Kalau perlu mendemonya.

“Silakan kritik. Silakan demo. Saya bukan anti kritik.” Ungkapan itu disampaikan dengan gaya lugas. Intinya seperti itu. Tak berbeban. Artinya, Jokowi memang jujur minta untuk dikritik. Seorang rakyatnya. Namanya Kyai Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Menangkap permintaan itu.

Tampaknya kritiknya direncanakan. Dimatangkan. Menunggu momen tepat. Diundanglah Jokowi hadir dalam Kongres Ekonomi Umat II MUI. Acara itu digelar pada Jumat, 10 Desember 2021.

Ketika semua undangan hadir, termasuk Jokowi, Kyai Anwar terus memelihara niatnya untuk mengungkap kritiknya. Kyai ini tak gentar untuk menyampaikan kritiknya. Langsung kepada orang nomor satu di republik ini.

Benar, ketika Kyai Anwar dipersilakan naik ke panggung sebagai petinggi MUI untuk memberikan sambutan kongres, kritik itu pun mendengung. Dia mengatur napasnya, lalu tak ragu mengatakan: kini, di negeri ini, telah terjadi kesenjangan kesejahteraan dalam masyarakat. “…sebagian besar lahan di Indonesia dikuasai oleh kalangan tertentu…”

Jokowi tersenyum simpul mendengar kritik itu. Saat Jokowi di atas panggung menyampaikan pidatonya, tak lagi membaca teks sambutan yang telah disiapkan. Dia fokus menjawab kritik Sang Kyai. “…pembagian lahan tersebut bukan dilakukan pemerintahannya…” Jokowi menjawab kritik itu sembari menatap wajah Kyai Anwar yang sedang mengulum senyum.

“Kalau Pak Jokowi benar, saya akan bela dia. Tapi bila kebijakannya tidak pro rakyat, saya akan kritik dia. Bagi saya Jokowi sosok pemimpin yang mau mendengar kritik dan keluhan masyarakat.” Kyai Anwar menyampaikan sikapnya itu saat kritiknya melahirkan pro dan kontra di tengah masyarakat.

“Ada yang mengatakan kritik Kyai Anwar kepada Presiden Jokowi tidak etis. Alasannya, dia sebagai tuan rumah, lalu mengkritik tamunya. Bagaimana menurut, Bung?” Aku bertanya kepada kawanku di kedai kopi.

“Zaman telah berubah, dinda. Orang yang mengatakan tidak etis itu orang yang sudah ketinggalan zaman. Bagi Kyai Anwar ini adalah momen yang tepat menyampaikan sikapnya. Begitulah manusia jujur dan bertanggung jawab. Tidak suka mengkritik di belakang layar, tapi di depan layar. Dan Jokowi senang kan menerima kritik itu.”

“Mengapa Bung menilai Jokowi senang dikritik di depan banyak orang itu?”

“Buktinya, setelah diserang kritik, dia batal membaca teks sambutan yang dibawanya dari istana, dinda.”

“Bukankah itu bentuk kemarahan dari presiden kita, Bung?”

“O, tidak. Jokowi mendapat kesempatan untuk memilih menjawab kritik tajam dari rakyatnya daripada membaca teks sambutan yang kadang tak berpijak, dinda.”

“Begitukah, Bung?”

Bung tak lagi menjawab pertanyaanku. Dia memilih membaca koran harian yang terlipat di samping kopi hitamnya. (#)

Ayo tulis komentar cerdas