Home Mutiara Ramadan

Kemewahan Penyebab Kehancuran Agama Seseorang

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DIRIWAYATKAN oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Nabi salallahu alaihi wassalam: “Jannah dan neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: ‘Orang-orang congkak dan diktator memasukiku’. Jannah berkata, ‘Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain orang-orang lemah, orang kecil dan tidak memiliki kekuasaan’.

Lalu Allah berfirman kepada jannah: ‘Kamu itu hanyalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu’. Selanjutnya Allah berfirman kepada neraka, ‘Kau adalah siksa-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki dan masing-masing dari kalian berdua berisi penuh.’ Sedangkan neraka tidak terisi penuh, lalu Allah meletakkan kaki-Nya kemudian neraka berkata, ‘Cukup, cukup, cukup’. Saat itu neraka penuh dan sebagiannya di himpun pada sebagaian yang lain dan Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhluk-Nya. Sedangkan jannah, Allah menciptakan penghuninya.”

Siapa yang memperhatikan dengan seksama kehidupan pecinta dunia dan menyangka didalamnya penuh kenikmatan lalu menginginkannya adalah orang yang akalnya bodoh. Orang yang tidak mampu mencerna hikmah kehidupan. Namun orang yang cerdas akan menemukan kemewahan sebagai penyebab kehancuran dan menjauhkan dari agama. Dan mengejutkan bila para penguasa memiliki karakter suka bermegah-megahan seperti yang telah disinggung oleh Al-Quran mengenai beberapa penduduk negeri. Diantaranya firman Allah ta’ala: “Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’. Dan mereka berkata: ‘Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab’. (Saba: 34-35)

Dan firman-Nya: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’. (Az-Zukhruf: 23)

Ayat pertama diatas dari surat As-Saba, berbicara tentang fitnah harta dan keluasan rizki. Mirip dalam kisah penduduk Saba saat Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka”.(Saba: 15)

Terdapat bukti kaum Saba kufur nikmat saat mereka menjadi sombong dan merusak kenikmatan hidup. Sedang ayat kedua dari surat Az-Zukhruf, surat yang membawa makna ini, hikmah Allah soal pembagian rizki serta keadaan orang-orang yang bermewah-mewahan. Nama surat sudah mencerminkan tema ini yang di dalamnya terdapat ayat: “Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya”. (Az-Zukhruf :33)

Sebab itu orang-orang yang bermewah-mewah membenci agama. Selalu plin-plan karena kehilangan prinsip dan menerima warisan harta yang haram dari orang tua mereka.

Siapa saja yang mengamati sekeliling akan melihat sesuatu yang paling merusak kehidupan umat ialah jeratan orang-orang glamor. Mereka menjadikan umat seperti budak, menentukan derajat kedudukan serta memerangi jiwa mereka. Manusia lantang bersuara kembali pada Allah karena kezhaliman penguasa, kerusakan, otoriterisme, dan pemiskinan ekonomi.

Hadits pada topik kita ini merupakan obat bagi jiwa mukmin yang tidak tertipu dengan apa yang dimiliki oleh orang-orang yang bangga dengan kemegahan; dunia yang mereka genggam.

Perhatikan dirimu sendiri, jika kamu mencintai pertemuan dengan Allah kamu akan mencintai syariatnya, memahami qudrahnya. Jika kamu kamu tetap pada kenikmatan dunia, silahkan menangis semoga Allah merahmatimu.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas