Home Artikel / Opini

Matinya Sang Jenderal

PERISTIWA ini bukan fiksi, apalagi fiktif. Menegangkan, tapi bukan ending dalam sebuah kisah prosa. Memang sulit dipercaya, namun kali ini harus dipercaya. Ada korban, ada pelaku. Seorang tentara terbaik milik TNI Angkatan Darat, komandan intelijen di wilayah itu, wilayah Papua, terenggut nyawanya akibat peluru tajam bersarang di kepalanya yang diberondongkan oleh kelompok pengacau–KKB–kelompok kriminal bersenjata.

Sang Jenderal, oleh komandannya dan teman-temannya dikenal rendah hati, tegas, dan pemberani itu, bernama lengkap Brigjen TNI AD I Gusti Putu Danny Nugraha Karya.

Minggu siang yang cerah itu, 25 April 2021, bersama rombongan, Sang Jenderal menuju Kampung Dambet, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua. Mereka mengunjungi distrik itu untuk memberikan keyakinan keamanan kepada warga setempat bahwa wilayah ini secara berangsur sudah aman, setelah aksi brutal yang dilakukan KKB.

Dalam perjalanan rombongan yang dipimpin Sang Jenderal, mereka tak punya firasat hari itu bakal terjadi pertumpahan darah, namun tak lama kemudian, tiba-tiba ada berondongan tembakan yang mengadang para prajurit terlatih ini. Tembak-menembak pun tak terelakkan. Satu peluru mengenai tubuh Sang Jenderal. Seketika roboh. Nyawanya pun tak tertolong lagi. Gugurlah sang komandan, petinggi BIN–badan intelijen negara–di wilayah Papua.

Mendapat laporan seorang jenderal gugur tertembak, Istana pun seketika meresponnya. Panglima Tertinggi, Presiden Joko Widodo, langsung bereaksi. Dengan nada marah, dia memerintahkan kepada Panglima TNI dan Kapolri untuk terus mengejar dan menangkap seluruh anggota KKB di Papua.

“Saya tegaskan, tidak ada tempat untuk kelompok-kelompok kriminal bersenjata di Tanah Papua maupun di seluruh pelosok Tanah Air,” kata Joko Widodo.

Mendapatkan momentum tepat, julukan kriminal untuk para pengacau itu kini ditingkatkan menjadi teroris. Aturan penindakan teroris pun segera diberlakukan untuk mereka yang bersenjata dan berlindung di rimba Papua.

Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambon yang mendapat suaka politik di Inggris, panik mendengar “cap teroris” untuk para tentaranya yang akhir-akhir ini makin brutal membunuh warga Papua dan membakar gedung sekolah.

“Jika benar-benar Indonesia membuat undang-undang terkait label teroris bagi OPM, maka kami ajukan ke PBB dan mendeklarasikan bahwa justru Indonesia adalah negara teroris,” ancam Sebby Sambon.

Sesungguhnya rakyat Papua kini menguji nyali pemerintah. Beranikah menindak para pengacau itu hingga ke akar-akarnya seperti janji Joko Widodo, tanpa politis seperti di era Soeharto, tapi menerapkan hukum seadil-adilnya. Bila tidak, dan OPM makin mengibarkan benderanya dan pengaruhnya, tidakkah itu menjadi sinyal berbahaya yang dapat mengundang rasa simpati, lalu ramai-ramai merindukan referendum.

Jangan terlambat! Jenderal sudah jatuh. Cap Teroris sudah didengungkan ke seantero negeri. Ingat pesan penyair Wiji Thukul, Hanya Satu Kata: Lawan! (#)

Ayo tulis komentar cerdas