Home Artikel / Opini

Membangun Kepekaan Perasaan

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DARI Abu Hurairah ia berkata: “Ketika aku duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ‘Ketika aku tidur, diperlihatkanlah surga padaku, tiba-tiba (aku melihat) seorang wanita berjalan untuk berwudhu di samping istana. Lalu aku pun bertanya, ’Milik siapa (istana) ini?’ Mereka menjawab, ‘(Istana) ini milik Umar.’ Kemudian aku teringat akan kecemburuanmu, lalu aku segera pergi menjauh.’ Maka Umar pun menangis di majelis itu dan bertanya, ‘Apakah kepadamu aku cemburu wahai Rasulullah?’” (Al-Bukhari)

Kepekaan pada perasaan orang-orang tercinta merupakan tali kasih dan mengetahui kesusahan mereka merupakan tali persaudaraan. Hubungan persaudaraan Islam bukan hanya terbangun di atas pilar keislaman saja tetapi juga empati. Karena Allah ta’ala hanya memberikan dua pilihan pada kaum muslimin dan jamaahnya yaitu; iman atau kafir. Allah ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al-Kahfi: 29)

Allah membebaskan hamba-Nya memilih antara iman atau kufur. Sehingga tidak ada keselamatan dari kaidah itu kecuali dengan adanya perasaan kasih sayang yang mendalam antara pimpinan dan anggota. Agar tetap teguh dalam keimanan menjauhi kekufuran.

Seyogianya pemimpin tidak hanya menuntut haknya dipenuhi tetapi juga memenuhi kewajibannya. Dia memperhatikan ketika air mata anggotanya terjatuh, hatinya pecah dan turut merasakan apa yang terjadi padanya. Kemudian dia tidak menambah teruknya keadaannya itu dengan pembebanan kepemimpinan sekalipun dia selalu siap menerima tugas. Sebab sifat jiwa manusia itu akan lari dari pembebanan yang terlalu berat seperti manusia tidak menyukai kejatuhan hujan walau terbuat dari madu.

Seorang tidak akan menjadi pemimpin yang baik kecuali dia memiliki pemahaman mendalam mengenai keadaan anggotanya, mengenal tingkat kecakapan dan kemampuan mereka dan memelihara kemampuan yang mereka miliki. Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dicintai oleh para sahabat yang mempersembahkan nyawanya untuk membela dan melindungi beliau. Dicintai melebihi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memelihara perasaan para sahabatnya dan menjaganya agar tidak menyakiti mereka sedikitpun seperti dalam hadits mengenai Umar ini. Bahkan Rasulullah dengan kasih sayangnya menanyakan keadaan anak sahabatnya yang senang memelihara burung: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan si pemilik burung nughair?

Kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencairkan gunung. Perasaannya sangat peka pada para sahabat. Sehingga sahabatpun apabila ada keperluan dengan Rasul dapat memanggilnya sebagaimana dalam sebuah hadits: Dari Miswar bin Mahkramah sesungguhnya ayahnya Mahkramah berkata padanya: “Wahai anakku, aku mendengar Nabi saw menerima aqbiyah (sejenis jubah) lalu membagikannya (tetapi aku tidak kebagian). Mari kita menghadap beliau.” Maka kami pergi menemui beliau namun beliau sedang berada dalam rumah. Ayahku berkata padaku: “Wahai anakku panggilkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Tetapi aku keberatan dan menjawab: “Aku panggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar menemuimu?” Ayahku berkata: “Wahai anakku sungguh dia bukan diktaktor.” Maka aku memanggilnya dan Rasul keluar menemui ayahku membawa aqibah yang berhias kancing keemasan. Beliau bersabda: “Wahai Makhramah, aku sembunyikan ini khusus untukmu.” (Al-Bukhari)

Demikianlah bergaul dengan orang-orang tercinta memelihara perasaan orang yang usianya lebih tua dan lebih senior dan memperhatikan kebutuhan mereka, bukan justru menekan dan memberikan beban yang memberatkan. Sebab manusia memiliki urusan pribadi dan keluarga masing-masing. Allah ta’ala telah mencela sahabat yang berlama-lama bertamu di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa memperhatikan kebutuhan Rasul pada keluarganya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (Al-Ahzab: 53)

Dengan memiliki perasaan pada ikhwah terjadi keseimbangan hubungan antara tokoh dengan masyarakat, cinta bersemai cinta dan sayang berjalin sayang. Rihlah perjalanan kehidupan ini merupakan perjalanan ketaatan pada Allah, rihlah membuat catatan kebaikan walaupun sebiji atom apapun itu bentuknya. Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. () Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah 7-8)

Rihlah mengusung kalimat yang bisa meninggikan seseorang dalam janah atau mengucapkan kalimat yang bisa menjerumuskan ke dalam neraka jahanam. rihlah di dalamnya gerakan tangan membelai kepala anak yatim untuk menggugurkan dosa, senyum pada saudaranya agar timbangan menjadi berat, memberi minum pada anjing kehausan agar masuk janah, menyingkirkan duri dari jalan untuk mendapat kebaikan. Rihlah yang tidak membiarkan kerusakan menjadi besar dan tidak meremehkan kebaikan walaupun sedikit.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas