Munawir Usman. (Foto: Istimewa)

Oleh: Munawir Usman *)

MARAKNYA  pemberitaan mengenai plagiasi dan predatory dalam penulisan jurnal internasional menjadi buah simalakama dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Kewajiban kepada seluruh dosen dan mahasiswa program doktor untuk mempublikasikan karya tulis ilmiahnya dalam jurnal terindeks internasional pun menjadi sorotan.

Bahkan kementerian pendidikan dan kebudayaan pun ikut angkat bicara terkait hal ini setelah melakukan hearing dengan Anggota Komisi X DPR, dimana salah satu anggota dewan mengusulkan kepada Mendikbud, Nadiem Makarim, agar kewajiban dosen menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional sebagai syarat kenaikan dan mempertahankan jabatan fungsional dihapuskan.  Dia menilai kewajiban itu minim manfaat, bahkan dalam praktiknya hanya menyulitkan dosen.

Mendapat usulan demikian,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyambut usulan agar perguruan tinggi (PT) di Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan jurnal ilmiah yang harus terindeks internasional. Mas menteri menyatakan bahwa ini memang searah dengan program “kampus merdeka, merdeka belajar”.

Berbagai persoalan muncul akibat pemberlakuan kebijakan Jurnal Internasional tersebut memang harus disikapi secara bijak dan menempatkan masalah tersebut secara proporsional. Karena menurut berbagai penelitian bahwa dengan adanya kebijakan tersebut justru berdampak positif alias memiliki manfaat dalam rangka peningkatan profesionalisme para akademisi dalam  menjalankan salah satu tugas tri dharma perguruan tinggi, yakni ; penelitian. Sesuai dengan Undang-undang  Nomor 14 tahun 2015 tentang Guru dan Dosen pada pasal 60 dinyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berkewajiban antara lain melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Oleh karena itu berbagai dampak yang ditimbulkan dengan maraknya dugaan penulisan dan publikasi karya ilmiah terindikasi plagiasi maupun predatory bukan berarti kebijakan publikasi jurnal internasional yang harus dihapuskan. Akan tetapi bagaimana para stake holder di kementerian pendidikan dan kebudayaan khususnya dirjen dikti lebih memperketat dalam pengawasan dan supervisi ke perguruan tinggi. Karena ibarat banyaknya pelanggaran berlalu lintas bukan berarti undang-undang lalu lintas harus dihapus atau rambu-rambu lalu lintas yang dicabut.    Tetapi para pelanggar lah yang harus ditindak tegas atau lebih memperketat pelaksanaan pengawasan di lapangan agar masyarakat lebih taat pada rambu-rambu yang ada.

Demikian halnya dengan kasus plagiasi dan predatory jurnal internasional di kampus, maka para oknum plagiat dan predator lah yang harus ditindak tegas. Kalau ternyata didasari bukti dan fakta yang kuat.

Patut diketahui bahwa penulisan jurnal ilmiah sampai dengan terpublikasi bukanlah hal yang mudah dan murah, akan tetapi membutuhkan energi yang sangat besar, bukan hanya sekedar materi belaka. Maka sangat wajar bila salah satu indikator penilaian sebuah perguruan tinggi adalah berapa banyak jurnal internasional yang dipublikasikan oleh dosen atau mahasiswanya. Karena jurnal internasional bermanfaat dalam : Meningkatkan visibility (keterbacaan), Meningkatkan jumlah sitasi, Meningkatkan h-indeks, Meningkatkan Impact Factor (SJR/CiteScore) dan Meningkatkan authors dari luar negeri. Selain itu, secara langsung bagi para dosen dan mahasiswa untuk terus melatih dan mengembangkan potensi diri dalam melakukan penelitian dan penulisan. Karena dunia kampus adalah merupakan dunia akedemik yang identic dengan riset dan hasil riset tersebut harus dipublikasikan secara ilmiah melalui jurnal yang terindeks internasional sehingga marwah perguruan tinggi sebagai jendela dunia dalam  memberikan informasi dan temuan ilmiah tetap terjaga. Sebagaimana dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pada pasal 12 ayat (2) dan (3) dinyatakan bahwa dosen sebagai ilmuwan memiliki tugas mengembangkan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah serta menyebarluaskannya. Dosen juga wajib melakukan publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar. Kemudian dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 20 tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan  Tunjangan Kehormatan Profesor mewajibkan dosen yang memiliki jabatan akademik Lektor Kepala dan Profesor untuk melakukan publikasi ilmiah. Kewajiban melakukan publikasi ilmiah  ini adalah kewajiban dosen sebagai seorang ilmuwan yang wajib mengembangkan ilmu  pengetahuan dan teknologi dan menyebarluaskannya kepada masyarakat.

Bagi para dosen dan mahasiswa yang mempunyai pengalaman dalam penulisan hingga publikasi jurnal internasional tentu telah merasakan  asam garam dan manis pahitnya pengalaman tersebut. Dan tentunya memberikan pengalaman luar biasa bagi kita bagaimana melakukan korespondensi hingga koreksi dari editor dan reviewer. Pengalaman tersebut memberikan  kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Jangankan terpublikasi di jurnal internasional, sebuah artikel saja yang lolos dari meja editor sebuah media massa dan dimuat di koran dan dibaca oleh para pembaca saja tentu menjadi kebanggaan  apatah lagi sebuah artikel dimuat dan dipublikaiskan oleh jurnal internasional terindeks scopus dan selevelnya, tentu sebuah pengalaman dan  penghargaan yang prestisius.

Semoga polemik terkait dugaan plagiasi dan predatory jurnal internasional mendapatkan solusi yang terbaik dan pihak-pihak yang berpolemik dapat mendudukkan masalah ini secara proporsional tanpa harus mengorbankan citra lembaga perguruan tinggi sebagai lembaga yang melahirkan insan cendekia yang berpikir dengan landasan yang objektif disertai fakta empirik dan dikelola secara ilmiah serta bertindak secara bijak dalam menyelesaikan setiap persoalan yang ada.

Dan sebagai alumni, kami hanya berpesan hendaknya para pimpinan kampus dan para dosen serta alumni dapat memberikan kontribusi yang luas dan teladan untuk menciptakan kampus sebagai tempat kaderisasi calon-calon pemimpin bangsa dimasa depan. Di kampus tentu penuh dinamika dengan berbagai orang dan berbagai latar belakang, ras, agama, pemikiran,ideologi dan kepentingan berkumpul dalam sebuah sistem. Tak ubahnya dalam sebuah masyarakat. Kampus menjadi cerminan masyarakat modern dimana kampus menjadi sebuah tempat dimana input masyarakat yang masuk dibentuk oleh atmosfer dan dinamika sistem akademik yang kental untuk melahirkan cendekia-cendekia yang akan mewarnai kehidupan masyarakat.

*) Penulis adalah alumni program doktor Universitas Tadulako

Ayo tulis komentar cerdas