Prof Mahfudz MP. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Rektor Universitas Tadulako (Untad), Prof Dr Ir Mahfudz MP, mengajak semua pihak untuk bersama-sama menyudahi isu-isu yang berkembang belakangan ini, khususnya terkait karya ilmiah predator.

“Isu predator sesuatu yang tidak perlu lagi diperdebatkan karena itu bukan kesalahan si penulis. Yang menjadi predator itu adalah jurnalnya,” ucap Prof Mahfudz saat pelantikan sejumlah dosen yang mendapat tugas tambahan di lingkungan Untad, Jumat 31 Desember 2021.

Menurut Rektor, penyematan diksi predator juga tidak tepat untuk suatu karya ilmiah yang dihasilkan seorang dosen. Dalam pandangannya, kata predator hanya identik ke hewan yang dikenal saling memangsa.

“Terus terang waktu saya baca itu, langsung saya buka google. Apalagi maksudnya ini kenapa sampai ada jurnal yang dikatakan predator. Karena bahasa predator cuma ada di ekologi hewan. Coba kalau kita buka di google kata predator yang muncul itu ada singa makan rusa. Itu artinya ada pemangsa dan ada mangsa,” ujar Prof Mahfudz.

“Saya cari keterkaitan/benang merahnya kenapa jurnal ini dianggap predator. Setelah saya baca definisinya jurnal yang tidak bermutu dan tidak melalui proses yang baik. Tapi kalau saya mengkaji kenapa sampai dikatakan jurnal predator yaitu jurnalnya sebagai pemangsa dan yang dimangsa artikel,” tambahnya.

Prof Mahfudz mengakui dalam isu predator, ia bersama sejumlah dosen dalam posisi sebagai korban dari pihak jurnal yang mengaku telah kredibel.

“Kita ini tertipu karena dalam labelnya (jurnal) masuk scopus dan lainnya. Olehnya saya mohon mari kita sudahi isu ini karena sangat memberikan kesan yang sangat tidak bagus,” tutur Prof Mahfudz.

Diketahui, isu predator pertama kali dihembuskan Kelompok Peduli Kampus (KPK) Untad atas karya ilmiah sejumlah dosen di lingkungan Untad. Klarifikasi telah disampaikan pihak-pihak yang merasa dirugikan atas penyematan kata predator dengan penjelasan sebagai korban dari manajemen jurnal yang tidak kompeten.

Dari isu ini, Rektor juga mengaku telah meminta Kepala LPPM Untad untuk menjadikannya sebagai masukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali ke depan.

“Saya meminta ini untuk menjadikan masukan yang baik supaya kita tidak terjebak mempublikasikan karya di jurnal kategori serupa karena kita rugi sesungguhnya,” pungkas Rektor Untad.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas