SENIN lalu kolom CERMIN berjudul: Denny JA dan Nobel. Ramai. Beberapa yang merespon kesukaannya. Banyak bereaksi atas ketidaksukaannya. Pandangan yang berbeda itu biasa saja. Tentu, tak boleh, lantaran perbedaan pandangan melahirkan kebencian. Tuhan tak melarang hamba-Nya untuk berbeda. Kini, Senin hari ini, kolom CERMIN kembali menulis tentang Denny JA. Judulnya: Denny JA (lagi).

Tak penting siapa pencipta Puisi Esai. Mau nama Denny JA atau nama lain, terserah. Silakan. Namun berbicara siapa yang menghidupkan lalu mendengungkannya ke dunia, nama Denny JA tak elok untuk tidak menyebutnya. Lantaran itu pula dia mendapatkan penghargaan. Bukan hanya di negerinya. Tapi juga di negerinya orang. Maka wajarlah, bila benar, Panitia Nobel merasa tertarik dengan karya Puisi Esai, termasuk orang yang mendengungkan genre itu ke dunia, Denny JA.

Andaikan. Ya, andaikan perjuangannya mendengungkan Puisi Esai yang bercatatan kaki itu membuahkan hasil: Nomine Nobel Sastra untuknya, tak ada alasan untuk tak mengucapkan: selamat! Seperti juga Jokowi, saat calon Presiden RI, banyak tak suka dengannya, tapi lebih banyak yang suka dengannya. Karena itu dia terpilih sebagai presiden. Setelah dilantik menjadi Presiden RI, tak ada alasan untuk tidak mengucapkan: selamat! Jokowi presiden kita semua.

“Nama Denny JA, akhir-akhir ini, makin berkibar saja, dinda.” Kawanku yang aku panggil Bung itu memulai pembicaraan di kedai kopi.

“Siapa yang mengibarkan, Bung?” Tanyaku, seketika.

“Siapa lagi kalau bukan komunitas yang tak suka dengannya. Entah mereka sadar atau tak sadar, dengung ketaksukaannya itu membuat Denny JA menjadi tokoh kian populer, dinda.”

“Wah, hebat Denny JA ya, diam-diam, dia menjadikan kekuatan lawan, kalau pantas disebut sebagai lawan, sebagai modal meroketkan namanya. Tanpa perlu bersusah payah mengiklankan diri, Bung.”

“Itulah Denny JA, cerdas memanfaatkan kekuatan kawan dan lawan, demi mencapai sebuah tujuan besar dan bermanfaat untuk diri dan bangsanya, dinda.”

“Omong-omong, menurut Bung, apakah Denny JA akan mendapatkan hadiah Nobel Sastra 2022?”

“Aku belum yakin, dinda. Tapi bila namanya masuk sebagai Nomine Nobel Sastra, maka hal itu sudah luar biasa persembahannya untuk bangsanya. Sebelumnya, ada nama Pramoedya Ananta Toer.”

“Jadi sebaiknya kita tunggu saja ya, Bung?”

“Benar, dinda. Berhentilah menghujatnya. Biarkan saja dia berkarya. Berkreatif. Kan tak ada pelanggaran yang dia lakukan. Andaikan dia menyogok Panitia Nobel, lalu namanya masuk nomine, atau melakukan korupsi untuk membiayai penerbitan buku-buku Puisi Esai yang sudah mendunia itu, tentu wajib dimasalahkan. Kalau perlu dilapor ke KPK. Tapi tidak, kan. Dan perlu diingat, Denny JA itu tipe manusia keras kepala.”

“Maksudnya, Denny JA keras kepala, Bung?”

“Apabila dia merasa sudah di posisi benar, tak mungkin lagi dia merem langkah-langkahnya. Tambah dipaksa berhenti, tambah kencang larinya. Itulah Denny JA, dinda.”

“Sepertinya Bung dekat dengan Denny JA, ya?”

“Dinda curiga? Hahahahaha… Hingga detik ini aku tak pernah berjumpa dan berkomunikasi dengan manusia yang bernama Denny JA itu..”

“Kalau begitu, mari Bung kita menghabisi kopi hitam kita. Kedai kopi sudah mulai sepi…” (#)

Ayo tulis komentar cerdas