DENNY JA memang cerdas. Bukan soal konsultan politik. Bukan soal memuluskan tokoh untuk mendudukkannya di kursi kekuasaan. Kalau yang terakhir ini sudah biasa. Di tangannya, ratusan tokoh telah menikmati kursi impian. Dia maestro di bidang itu. Tak ada yang meragukannya.
Kecedasannya kali ini membuat banyak pihak terperangah. Heran. Mengaguminya. Ada juga tiba-tiba muncul untuk memusuhinya. Meremehkannya. Meski begitu, bukan berarti mereka merasa cemburu. Apalagi merasa iri. Tidak. Hanya, mungkin, tersentak saja. Ya, terkejut saja.
Bagaimana tidak cerdas, Denny JA mampu membuat Panitia Nobel Sastra jatuh cinta pada karyanya. Dinilai berhasil menciptakan genre baru dalam dunia sastra. Namanya puisi esai. Tidak main-main. Sudah puluhan buku lahir berisikan puisi esai. Buku itu tidak hanya beredar di negerinya, tapi juga di negerinya orang, seperti Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya. Menariknya, buku-buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa internasional, yakni bahasa Inggris.
Entah bagaimana jejaknya. Karya itu telah sampai pada Panitia Nobel. Boleh jadi mereka yang bekerja secara profesional dan independen itu menilai karya Denny JA sebagai karya baru dalam dunia sastra. Boleh jadi.
Tak lama kemudian, tersiar berita menggemparkan. Denny JA, secara resmi, masuk dalam pencalonan untuk mendapatkan Nobel Sastra 2022. Artinya, dalam sejarah republik ini, baru dua warga negaranya masuk nomine Nobel Sastra: Pramoedya Ananta Toer dan Denny JA.
Lantaran beritanya menggemparkan, seorang Jaya Suprana pun angkat bicara. “Sesungguhnya banyak orang (baca: sastrawan) di negeri ini pantas masuk nomine Nobel. Saya selalu berdoa untuk itu. Dan kini doa saya didengar Tuhan. Denny JA telah terpilih. Tentu kita bersyukur…”
“Aku bingung, dinda.” Bung, kawanku di kedai kopi, membuatku terkejut dengan pengakuannya itu.
“Ada apa Bung bingung?” Kuucapkan pertanyaan itu secepat kilat sembari memelototi matanya.
“Begini, tersiar berita, Panitia Nobel, tahun 2022 ini, menjatuhkan pilihannya kepada Denny JA sebagai calon penerima Nobel Sastra.”
“Lalu apanya yang membuat Bung bingung?”
“Bukan karena banyaknya orang yang mendukung, tapi adanya segelintir sastrawan yang meremehkannya, seakan Denny JA itu haram namanya masuk sebagai nomine Nobel.”
“O, itu yang membuat Bung bingung. Mungkin mereka itu belum paham bahwa pihak Denny JA tak pernah memohon kepada Panitia Nobel untuk dicatatkan namanya sebagai calon penerima Nobel Sastra. Pihak Panitia Nobel-lah yang tertarik dengan karya-karyanya yang bernama puisi esai itu, sehingga dipantaskan namanya. Protes mereka sebenarnya salah alamat. Seharusnya mereka mempertanyakannya ke Panitia Nobel, bukan ke pribadi Denny JA, Bung.”
“Itulah, dinda. Bila benar Denny JA masuk, seharusnya dunia sastra Indonesia berbangga. Bukan meremehkannya. Melecehkannya. Sejarah republik ini, baru nama Pramoedya Ananta Toer pernah tercatat namanya sebagai nomine Nobel Sastra. Bila nama Denny JA masuk, maka sejarah itu berubah. Kini sudah dua nama: Pram dan Denny.”
“Aku punya dugaan, Bung. Boleh jadi kumpulan orang-orang yang marah Denny JA dilirik Panitia Nobel, lantaran penyair ini dinilai belum berdarah-darah dalam dunia sastra, eh tiba-tiba mendapat durian runtuh…”
“Mereka tidak paham, Panitia Nobel tidak melihat Anda (baca: sastrawan) berkarya sudah puluhan tahun atau ratusan tahun dengan karya buku segunung, tetapi Paniti Nobel bergerak secara bebas dan independen mencari karya yang unik dan baru. Nah, kehadiran puisi esai itu membuat Panitia Nobel menemukan sesuatu, mungkin sebagai karya pembaruan dalam penciptaan karya sastra. Mungkin. Mari kita semua berbangga dan berpikir positif menyambut penilaian Panitia Nobel kepada seorang anak negeri, saudara kita, yang bernama Denny JA.”
Aku manggut-manggut. Sembari mengajak kawanku itu mencicipi pisang goreng yang sudah kehilangan panasnya. (#)


































