Ilustrasi. (Foto: Ist)

Tolitoli, Metrosulawesi.id – CV Hidup Bersama menepis tudingan dugaan penyimpanan pada pekerjaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Tampiala, Tolitoli.

“Itu fitnah, tidak benar kami melakukan pekerjaan SPAM secara asal apalagi sampai  merugikan masyarakat di sana. Niat kita adalah untuk membantu masyarakat dan hingga kini masyarakat sudah dapat menikmati asas mamfaatnya,” kata Edward Pangalila, Kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut, Selasa 18 Januari 2022.

Dia mengatakan, proyek pembuatan sarana air bersih di Desa Tampiala Kecamatan Dampal Selatan yang dikerjakan sudah sesuai spek dan telah diperiksa oleh Dinas PUPR.

Selain untuk membantu masyarakat dalam hal mendapatkan air bersih, juga bisa menambah amal jariyah, ungkapnya.

Hal yang sama diutarakan oleh Mantan Kepala Bidang Sumber Daya Air (Kabid SDA) Dinas PUPR Tolitoli Anwar ST melalui sambungan telpon Selasa 18/01/22.

Anwar ST mengatakan berita tersebut tidak sesuai fakta di lapangan.

“Masyarakat di sana tak ada yang mengeluhkan soal keberadaan SPAM di sana. Silakan datang tanyakan pada warga di sana,” ucapnya.

Dijelaskan tak ada masalah dengan proyek tersebut. Semua sudah sesuai juknisnya dan telah diperiksa di lapangan hasil pekerjaan kontraktornya.

Sebelumnya diberitakan, Pengurus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Progresif Tolitoli Abd Razak SH menyoroti realisasi hasil pengerjaan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tahun 2021 di Desa Tampiala Kecamatan Dampal Selatan.

Proyek tersebut dikerja oleh salah satu kontraktor dengan anggaran senilai Rp 1 miliar lebih yang bersumber dari dana APBD Kabupaten Tolitoli.

Kepada wartawan, Sabtu 15 Januari 2022, Abd Razak mengatakan adanya dugaan penyimpangan yang terjadi pada pembangunan Broncaptering Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

“Air yang mengalir dari pipa SPAM itu tidak maksimal. Selain itu kami duga galian pipa yang juga tidak sesuai dengan spek pekerjaan,” jelasnya.

Dikatakan, sumber air ini adalah air panas bumi yang diduga mengandung belerang.

Dikatakan Berdasarkan laporan masyarakat dan hasil pantauan LBH  di lokasi SPAM tersebut ditemukan banyak kejanggalan mulai dari penggunaan air yang bersumber dari air panas bumi, intake yang sering kali tertimbun pasir sehingga menyebabkan air tidak dapat mengalir hingga berhari hari, kemudian kedalaman jaringan pipa hanya kurang lebih 5 cm saja.

Tidak hanya itu lanjut Razak, pembangunan SPAM ini juga dianggap merusak infrastruktur lain berupa jalan yang menghubungkan desa Tampiala dengan desa Angudangeng. Tampak banyak bekas galian di badan jalan. Adapun alasan dari penggalian badan jalan itu untuk pemasangan pipa ke rumah rumah warga.

“Badan jalan dirusak dengan alasan pemasangan jaringan pipa ke rumah rumah warga. Dan parahnya lagi aspal jalan tersebut dibiarkan begitu saja tidak dilakukan perbaikan. Ini jelas jelas pengrusakan,” tegas Razak.

Reporter: Aco Amir
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas