Ainun Fadillah. (Foto: Metrosulawesi/ Adi Pranata)

Palu, Metrosulawesi.id – Bagi khalayak ramai, sepakbola adalah olahraga kaum lelaki. Perlu fisik dan mental yang kuat. Meski begitu, kehadiran wanita tak dipungkiri memberi warna baru dalam dunia persepak bolaan di tanah air. Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Ainun Fadillah, membuktikan bahwa wanita juga bisa ikut andil meramaikan sepakbola dengan jadi juri profesional.

Ainun Fadillah. Pecinta sepak bola terutama pemain di Palu, Sulawesi Tengah, tentu sudah tak asing dengan kehadirannya di lapangan hijau. Perempuan kelahiran Kota Palu 22 tahun yang lalu ini jadi satu-satunya wasit wanita berani turun ikut andil di lapangan sepakbola daerah setempat. Mulai dari memimpin laga nasional, hingga pertandingan antar kampung sudah pernah dilakoni.

Kecintaan Ainun, panggilan akrabnya, terhadap olahraga ternyata diwarisi dari keluarga. Mulai dari sang ayah, Asman S Tonda yang merupakan mantan wasit sepakbola nasional,  hingga sang ibu yang merupakan mantan atlet bola volli. Ia juga merupakan lulusan cumlaude Ilmu pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Universitas Tadulako tahun 2018.

Meski begitu, jadi wasit sepakbola bukanlah cita-cita Ainun dari kecil. Ia mengaku dijebak oleh sang ayah, ketika awal memulai masuk dunia perwasitan sepakbola.

“Saya awalnya kayak ditipu gitu sama ayah. Tidak juga ditipu. Saya pikir cuma wasit Voli atau wasit silat, ternyata pas lihat di absen, eh ternyata wasit sepakbola,” tutur Ainun diikuti tawa dengan lesung di pipi kepada Metrosulawesi, Selasa (28/12/2021).

Karir wasit wanita berkerudung ini dimulai sejak tahun tiga tahun yang lalu. Tepatnya kala itu ia mengikuti program pelatihan wasit di Wisma Alam Raya, Kota Palu. Dari situ, beberapa rangkaian ujian wasit ia ikuti. Kini, lisensi C1 wasit kini telah ia kantongi.

Ainun sejatinya tak sendiri sebagai wasit wanita di Sulteng, ada lima lainnya juga mengikuti pelatihan. Hanya saja, yang berani mengemban tugas jadi pengadil di lapangan ialah Ainun seorang diri.

“Dari enam yang berlisensi hanya saya yang berani bertugas di lapangan besar,” ujar Ainun.

Ainun pertama kali turun jadi wasit ialah saat pertandingan memperebutkan piala Kemenpora U-14 di lapangan Abadi Talise kota Palu, tahun 2018. Dari situ ia kemudian memenuhi sejumlah panggilan lainnya salah satunya jadi pengadil di liga 1 Indonesia tepatnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Yang terakhir itu di Papua, Pra PON Cabor sepakbola Putri,” kata Ainun.

Jalannya jadi wasit diakui tak selamanya mulus. Tak jarang ia mendapat protes keras dari pemain maupun suporter. Wanita yang mengidolakan Cristiano Ronaldo ini, mengaku pertama takut mendengar teriakan-teriakan dari pemain mapun suporter. Terlebih saat menjadi wasit pada ajang Tarkam. Walakin, hal itu bisa dilaluinya dan tak membuat dirinya berhenti.

“Karena sudah terbiasa jadi saya anggap hal yang biasa saja,” ujarnya.

Pada usianya yang masih muda terlebih belum berkeluarga, Ainun punya mimpi besar jadi wasit pada liga nasional. Ia mengaku baru akan berhenti jadi wasit ketika pensiun. Walaupun nanti telah disibukkan dengan urusan rumah tangga.

“Saya tetap akan jadi wasit, target saya selanjutnya memimpin laga nasional,” ujar Ainun.

Jika R.A Kartini lewat tulisannya mampu menggugah emansipasi wanita pada zaman penjajahan, kehadiran Ainun sebagai pengadil sudah seharusnya memberi suasana baru dalam dunia persepakbolaan khususnya di Kota Palu. Emosi para pemain kesebelasan maupun pemain kedua belas, yang tak jarang mencederai pair play sudah seharusnya bisa diredam lewat kehadiran Ainun di tengah lapangan. (*)

Reporter: Adi Pranata

Ayo tulis komentar cerdas