Prof Dr Zainal Abidin. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)
  • Bisa Diganti Salat di Rumah Masing-Masing

Palu, Metrosulawesi.id – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof. Dr. Zainal Abidin, mengungkapkan, belum lama ini MUI Palu telah mengeluarkan surat edaran terkait wabah virus corona (Covid-19). Poin imbauan dari edaran itu antara lain meniadakan salat Jumat di Masjid, dan menggantikannya dengan salat Dzuhur di rumah.

“Selain itu, salat lima waktu di masjid juga ditiadakan, namun digantikan salat di rumah, meniadakan salat di masjid dengan pertimbangan bahwa virus corona ini merupakan pandemi, artinya penyebaranya sangat luar biasa sekali, sebab penyebarannya itu sangat masif, dan dampaknya apabila terkena seseorang cukup berbahaya,” kata Zainal, saat dihubungi Metro Sulawesi, Kamis, 2 April 2020.

Olehnya itu, kata Zainal, perlu melakukan semacam social distancing atau physical distancing, sebagaimana yang diarahkan oleh pemerintah.

“Jika imbauan pemerintah hingga Ramadan masih berlaku social distancing artinya masih dilarang untuk berkumpul dengan orang banyak, atau mengumpulkan orang dalam jumlah yang banyak. Maka tentunya dimungkinkan Surat Edaran MUI masih berlaku,” katanya.

Sehingga, kata Zainal, apa saja yang mengumpulkan orang banyak termasuk salat Tarawih, dan ibadah-ibadah yang mengumpulkan orang banyak bisa saja ditiadakan atau ditunda untuk sementara hingga kondisi membaik.

“Maka kemungkinan besar salat tarawih ini juga ditiadakan, dalam pengertian akan dilaksanakan di rumah masing-masing,” ungkapnya.

Apalagi kata Zainal, jika merujuk pada zaman Rasulullah SAW, yang pernah melaksanakan salat malam, namanya Salat Lail secara berjamaah di masjid dalam waktu tiga kali, dan setelah tiga malam itu, Rasulullah SAW sudah melakukan salat itu di rumah.

“Ketika ditanya kenapa ?, karena rasulullah khawatir saalat itu akan menjadi wajib bagi kalian, sehingga Nabi Muhammad SAW, tidak lagi melaksanakan Salat Lail pada Ramadan itu di Masjid. Artinya ada contoh juga dari nabi untuk tidak melaksanakan salat sunah secara berjamaah. Salat Lail atau namanya Salat Tarawih di zaman sahabat Umar itulah yang dikumpulkan secara berjamaah,” jelasnya.

Zainal berharap umat Islam bisa memberikan sumbangan untuk pencegahan dengan menunda melaksanakan Salat Tarawih secara berjamaah.

“Jadi kita tidak adakan Salat Tarawih di Masjid, bukan berarti kita hilangkan salat tarawih itu,” imbuhnya.

“Jika pihak-pihak yang berkompeten dari pemerintah telah menginformasikan bahwa virus itu sudah tidak menyebar, atau sudah tidak ada lagi di masyarakat, saya kira kita kembali pada kebiasaan semula, yakni salat tarawih secara berjamaah, begitupun salat lima waktu, maupun salat jumat dilakukan secara berjamaah di Masjid,” jelasnya.

Zainal sangat berharap umat Islam di Kota Palu bisa memahami kenapa ada penundaan salat di Masjid, karena demi keselamatan umat dan jiwa manusia.

“Tetapi jika kita sudah niat untuk Salat Jumat, tetapi karena situasi tidak mungkinkan, ketika kita salat Dzuhur di rumah, Insyaallah niat kita dilihat dan di dengar oleh Allah SWT, maka pahalanya sama dengan Salat Jumat berjamaah di Masjid, walaupun kita Salat Dzuhur di rumah sendiri,” ungkapnya.

Reporter: Moh. Fadel

Ayo tulis komentar cerdas