BAHAS TAMBANG - Para peserta rapat yang membahas soal penambangan ilegal Dongio-Dongi di ruang Polibu Kantor Gubernur, Selasa (28/12/2021).(Foto: Ist/ Dok. Pemprov Sulteng)
  • Kesepakatan Pemerintah dengan Masyarakat

Palu, Metrosulawesi.id – Pemerintah Provinsi Sulteng, Kabupaten Poso, dan Sigi mengambil keputusan bersejarah di akhir tahun 2021. Yakni dengan menutup secara permanen lokasi penambangan emas tanpa izin alias ilegal di Desa Dongi-Dongi, Kabupaten Poso.

Kesepakatan itu diputuskan dalam rapat koordinasi di ruang Polibu Kantor Gubernur, Selasa lalu (28/12). Rapati dihadiri Bupati Sigi Mohamad Irwan Lapatta beserta jajarannya pada OPD terkait, Pemda Kabupaten Poso, Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL), Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum LHK Wilayah Sulawesi, LSM Walhi, Jatam, Forum Petani Merdeka, tokoh masyarakat dan tokoh adat dari dua kabupten. Gubernur Sulteng diwakili Tenaga Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan HAM, M Ridha Saleh.

Ridha Saleh mengatakan, pertambangan di Dongi-Dongi tidak direncanakan, dan tidak diperuntukkan sebagai wilayah tambang rakyat (WPR) baik oleh Pemkab Sigi dan Poso maupun Pemprov Sulteng.

Rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Ridha Saleh itu, mengemuka bahwa tambang emas ilegal di Dongi-Dongi berada di areal Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

’’Wilayah tersebut adalah wilayah konservasi yang sudah ditetapkan dan diatur dalam peraturan perundang-undangan,’’ ujarnya.

Selain itu, kegiatan tambang emas ilegal di Dongi-Dongi telah menimbulkan konflik, kriminalisasi dan berbagai masalah sosial, serta kerusakan lingkungan hidup.

Dalam rapat terungkap fakta bahwa, tambang emas ilegal di Dongidongi dikuasai warga luar sekitar dan pemilik modal, atau cukong. Sementara masyarakat Dongi-Dongi hanya sebahagian kecil bekerja sebagai pekerja kasar di tambang tersebut.

‘’Karena itu para pihak dalam rapat koordinasi itu sepakat tambang emas ilegal di Dongi Dongi ditutup, karena bertentangan dengan hukum yang berlaku,’’ kata Ridha Saleh.

Disepakati juga penutupan tambang emas ilegal itu diutamakan pendekatan budaya dan kearifan lokal. ‘’Tujuannya untuk kedamaian dan ketentraman warga.

“Semua pihak yang hadir dalam rapat sepakat selama masa penutupan atau penghentian tersebut, para pihak melakukan sosialisasi dan pendampingan terhadap masyarakat Dongi-Dongi melalui kegiatan pemberdayaan sumber daya manusia, dan ekonomi masyarakat serta kemitraan koservasi yang berbasis adat dan kearifan lokal,” katanya.

Reporter: Syahril Hantono

Ayo tulis komentar cerdas