Home Artikel / Opini

Memahami Terkabulnya Doa

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

DR Aiman Al-Balawi hafizhahullah ta’ala berkata: “Kadangkala doa seorang hamba tidak terkabul karena lemahnya mengirim doa. Dan kadangkala seorang hamba tidak memahami doanya telah terkabul karena lemahnya penerimaan.”

Perkataan sarat hikmah yang terbit dari perenungan panjang fikih kaum salaf. Dengannya Allah memberi manfaat, mengampuninya dan menaikkan derajat keshalihan. Perkataan ini mengandung kebaikan makna, yaitu husnuzhan pada Allah.

Seseorang yang berhusnuzhan pada Allah tidak akan menyalahkan Allah tetapi ia akan menyalahkan dirinya sendiri. Husnuzhan pada Allah merupakan bentuk taqarub (pendekatan diri kepada Allah) yang paling agung. Allah tidak berbuat dan tidak berkata kecuali hanya haq seperti dalam fiman-Nya: “Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (Hud:56)

Dialah yang Maha Suci “Rahmatnya mendahului murka-Nya”, nama-nama-Nya dan perbuatan-Nya suci dari segala cela. Kebaikan-Nya atas hamba-Nya jauh lebih agung dan lebih banyak dari pada keinginan serta kebutuhan para hamba. Dialah yang telah berfirman: “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.” (Ash-syura:27)

Dan firman-Nya: Orang-orang yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilakanat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian),tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (Al-Maidah:64)

Seorang hamba yang berdiri dalam kerangka syukur akan mengetahui persoalan ini dalam mengarungi samudera kehidupannya. Ia bisa merasakan kepemilikan nikmat yang lebih agung dari pada yang bisa ia pikirkan. Ia bisa merasakan apa yang diberikan lebih banyak daripada yang ia butuhkan dari pangan,sandang dan papan. Sebab itu seseorang mendapat musibah, itu karena hasil perbuatannya, seperti dijelaskan dalam firman Allah ta’ala: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura:30)

Saat seseorang memanjatkan doa kepada Rabbnya, Allah ta’ala mendengarnya, meskipun ia berdoa sangat lirih atau dalam hati. Sampai ia berada dalam goa Allah mendengar. Syeikh ketika mengatakan “lemahnya mengirim doa” bukan dipahami secara lahiriyah bahwa kita perlu berdoa dengan keras agar Allah mendengarnya. Allah subhanahu wa ta’ala Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dia yang telah berfirman: “Yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.” (Maryam:3)

Juga firman-Nya: “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lirih.” (Al-Araf:55)

Maksud Syeikh dengan perkataanya itu adalah lemahnya transportasi yang membawa doa itu naik. Karena itu Allah berfiman: “Dan amal salih menaikkannya.” (Fatir:10)

Ayat itu artinya, amal shalih adalah pesawat yang membawa doa naik ke atas. Doa membutuhkan amal shalih agar bisa terangkat. Tatkala alat transportasinya lemah karena sedikitnya amal shalih, doa tidak akan sampai kepada syarat yang diajukan Allah ta’ala. Maka doa itu akan macet di perjalanan sampai ada pesawat lain yang lebih kuat untuk mengangkut doa itu.

Barangsiapa yang mengulang-ulang dan memperbanyak doanya maka Allah mencintai hamba yang sering memperbanyak doa. Nabi shalallahu alaihi wassalam tatkala berdoa pada Allah ia tenggelam dalam doa, tawadhu, merendah di hadapan Rabbnya seperti yang beliau lakukan di tenda komando saat perang Badar sampai-sampai Ash-Shidiq menghibur beliau, “cukup doamu pada Rabbmu”.

Keadaan seorang hamba ketika berdoa seperti keadaan orang yang tenggelam, ia memohon agar selamat. Ia menjerit dalam hatinya, berurai matanya, tawadhu dalam diam dan sepi, dia merendah sembari menengadah tangan pada Allah yang Maha Suci. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah kepada orang miskin sebelum pembicaraan itu.” (Al-Mujadilah:12)

Ayat diatas pelajaran bagi umat untuk tidak meminta kecuali dengan sarana yang dicintai, dengan perantara yang shahih kuat seperti firman Allah ta’ala: “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al-Maidah:35)

Sedangkan tentang perkataan Syeikh: “Dan kadangkala seorang hamba tidak memahami bahwa doanya telah terkabul karena lemahnya penerimaan.” Adalah sebuah kalimat yang sangat lembut, tajam dan penuh makna.

Orang-orang mengangankan mendapatkan kenikmatan seperti yang didapatkan oleh syeikh, karena maknanya sangat agung dan ahklaknya demikian indah. Kalimat ini Mengungkap kebodohan manusia akan arti syukur dan kebodohannya dalam melihat kenikmatan rabani yang meliputi manusia. Karena kebodohannya dalam subjek ini, manusia terjerembab dalam kesalahan.

Karakter datangnya musibah itu secara tiba-tiba, langsung dan dampaknya terasa. Tetapi sebaliknya nikmat datangnya berangsur-angsur tidak sekaligus. Bila merasakan musibah pedih, datangnya nikmat hilangnya sedih itu bertahap sampai kepedihannya itu lambat laun hilang sirna.

Tetapi, manusia karena sifat lalainya, hanya melihat penderitaan dan musibah dengan kacamata sewaktu pertama kali terkena musibah. Saat musibah itu telah menyingkir, manusia tidak memperhatikan dan tidak melihat tangan Allah telah memberinya nikmat. Padahal saat mendapat musibah ia bisa melihat tangan Allah. Kondisi ini terjadi Karena pandangannya lemah, Syeikh memberi istilah lemah penerimaan.

Sebenarnya nikmat itu sangatlah banyak membuat kita tersibukkan menghitungnya. Musibah juga menyibukkan hati hamba karena membuatnya resah. Maka, kenikmatan musibah adalah bisa merasakan kenikmatan dibalik musibah itu. Musibah akan menyibukkan manusia dari orang yang mencintainya karena itu sesuatu yang berat bahgi hamba. Sebab itu matanya terbelokkan dari melihat kenikmatan karena kelelahan menghadapi musibah. Dari sini lemahnya pandangan dalam memahami nikmat saat datang.

Terkadang manusia hanya menelisik nikmat yang tidak tampak, nikmat yang tidak hadir dihadapannya, seterusnya ia lalai dari bersyukur. Hatinya hanya menunggu yang tak tampak itu datang. Ini merupakan lemahnya penerimaan. Seandainya ia melihat pada semua yang telah Allah beri dia tidak akan berhenti bersyukur.

Orang yang punya anak banyak kemudian seorang anaknya meninggal dunia hanya melihat ia telah kehilangan seorang anak. Sedangkan anak-anaknya yang lain yang masih hidup tidak ia lihat. Demikianlah kondisi mayoritas manusia menghadapi musibah. Hanya melihat yang hilang, yang ada tak nampak di mata. Inilah kelemahan hamba untuk melihat apa yang telah diberikan Allah. Akibatnya ia akan lemah bersyukur.

Semoga Allah memberikan balasan pada Syeikh dengan balasan yang baik. Mutiara nasehat sarat faedah. Aku mohon pada Allah meninggikan derajatnya, dan menjadikan perkataan beliau ini sebagai timbangan amal shalih di hari kiamat.

(*Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas