TINJAU HUNTAP - Wakil Presiden Ma’ruf Amin didampingi Gubernur Sulteng Rusdy Mastura (kanan) dan Wali Kota Palu Hadianto Rasyid (kiri) saat meninjau hunian tetap di Kelurahan Tondo, Kamis 6 Januari 2022. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)
  • Wapres Tinjau Huntap di Tondo

Palu, Metrosulawesi.id – Wakil Presiden Ma’ruf Amin melakukan kunjungan kerja ke Palu, Sulteng selama dua hari. Hari pertama Kamis 6 Januari 2022, Wapres memimpin pertemuan terbatas dengan bupati/wali kota dan Pemerintah Provinsi Sulteng guna membahas penuntasan pemulihan pascabencana alam di Palu.

Usai rapat, Wapres meninjau lokasi hunian tetap (huntap) Tondo I dan huntap Tondo II untuk melihat kondisi hunian masyarakat terdampak gempa bumi, tsunami dan likuefaksi dan pada 28 September 2018.

Dalam kunjungan kerjanya, ia didampingi sejumlah pejabat negara di antaranya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) John Wempi Wetipo, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/BPN) Surya Tjandra dan Sekretaris jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Suhajar Diantoro.

Sementara itu terkait dengan huntap, masih ada sebanyak 3.200 jiwa penyitas bencana di Kota Palu belum mendapatkan hunian tetap (huntap). Sementara pembangunan huntap di Kota Palu masih terkendala soal lahan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Presly Tampubolon mengatakan, penerima huntap sudah terbagi dua kelompok, yang pertama sudah ditempatkan sebanyak 2.076 penyintas, baik di Huntap kawasan satelit maupun mandiri.

“Sedangkan kelompok kedua adalah penerima Huntap yang sedang kita persiapkan, yang belum dibangun. Namun ini sementara kita usulkan untuk pembangunannya. Dan semua data-data Warga Terdampak Bencana (WTB) kita juga sudah siapkan,” kata Presly, saat dihubungi Metro Sulawesi melalui ponselnya, Kamis, 6 Januari 2022.

Presly mengatakan, jika kembali ke SK (surat keputusan) Gubernur pada 2019, ada sebanyak 6.504 penyintas penerima Huntap. Sementara, yang sudah dibangunkan Huntap sebanyak 2.076.

Menurutnya, masih ada sebanyak 3.200 penerima huntap yang datanya masih dalam proses verifikasi, validasi dan ketepatan data. 3.200 penerima ini nantinya untuk menempati huntap Tondo dua, Talise dan Petobo.

“Artinya sekitar 3.200 penyintas belum menempati Huntap. Jumlah inilah kami akan serahkan ke PUPR untuk dibuatkan huntap,” ujarnya.

Seperti sudah diketahui kata Presly, pembangunan huntap di Kota Palu terkendala lahan. Seperti pembangunan huntap di di Tondo dua, Talise, dan Petobo.

“Khusus untuk Petobo sesuai arahan Gebernur selaku kepala daerah provinsi, telah dilakukan penunjukan penlok kepada Petobo, maka kita persiapkan WTB-nya lagi. Olehnya itu kita sudah persiapkan SK-SK calon penerima Huntap yang ditetapkan di lokasi tersebut. Sebab dulu penlok itu hanya ada tiga, yakni Tondo, Talise, dan Duyu, namun Petobo belum disebut, karena pada waktu itu belum ditetapkan penloknya,” ungkapnya.

Olehnya itu kata Presly, langkah-langkah yang dilakukan BPBD saat ini adalah, untuk lahan-lahan yang masih ada irisan-irisan kesengketaan warga, dalam arti komplain, telah dilakukan pendekatan sosial kepada masyarakat.

“Contohnya di Talise, kita telah melakukan pendekatan kepada warga dengan menyampaikan alternatif untuk konsesi lahannya. Untuk itu sekarang telah dilakukan pematangan lahan, sebagai pengganti di dalam area penlok Huntap Talise. Begitupun di Tondo dua, telah dilakukan pendekatan kepada masyarakat terhadap adanya kepemilikan-kepemilikan,” katanya.

Sehingga kata Presly, semua warga yang komplain, dapat menyatakan persetujuan untuk pembangunan Huntap di kawasan tersebut. Karena persyaratan penting dari bank dunia selaku donaturnya tidak akan memberikan, apabila masih ada warga yang keberatan tentang lahan.

Presly mengungkapkan, sesuai informasi dari Kepala Dinas Permukiman, sekitar 3.200 penyintas itu masih ada sebagian di Huntara, ada juga di Rumah Keluarga yang mereka bisa huni sementara.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas