SAMBUTAN - Kadispusarda Sulteng, I Nyoman Sriadijaya, saat memaparkan programnya dalam memajukan pelayanan perpustakaan, di rapat umum bersama sejumlah pejabat Dispusarda Sulteng, di Aula Dispusarda Sulteng, belum lama ini. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarda) Provinsi Sulawesi Tengah, I Nyoman Sriadijaya, dihari pertamanya mengadakan rapat umum bersama dengan sejumlah pejabat baik dari unsur kepala bidang maupun kepala seksi, serta para Arsiparis dan Pustakawan, di Aula Dispusarda Sulteng, Selasa, 15 Februari 2022.

I Nyoman dalam sambutannya mengatakan, renstra Dispusarda Sulteng perlu dilakukan sosialisasi, karena ini sebagai pedoman para pegawai.

“Maka dari itu dengan kehadiran saya disini, mungkin ada berbagai masukan, maka mana yang terbaik segala sesuatunya kita akan diskusikan lewat rapat, sehingga dapat menghasilkan suatu kesepakatan, setelah itu baru kita akan sosialisasikan,” ujar I Nyoman.

I Nyoman mengatakan, di era pemerintah Bapak Rusdy Mastura dan Makmun Amir, bagi dirinya merupakan starting point, sebagai pejabat atau pengelola informasi.

“Banyak sekali ungkapan Bapak Gubernur kita dengan rendah hati beliau mengatakan, pendidikan saya ini tidak cukup, saya hanya tamatan SMA, kalian S1, S2, S3, kalianlah yang membantu mewujudkan mimpi-mimpi besar saya, kata beliau. Bahkan Pak Gubernur menyampaikan bahwa beliau sudah membaca 2.000 buku. Ini sangat luar biasa merupakan keteladanan, beliau telah katakan tidak ada istilah tamat atau berhenti belajar,” ungkapnya.

Artinya kata I Nyoman, ungkapan filosofi tentang belajar sepanjang hayat, Gubernur Sulteng sudah memberikan contoh, beliau lakukan secara otodidak.

“Oleh sebab itu paradigma pelayanan kita harusnya berbeda. Tesis saya itu sudah berbicara soal Perpustakaan Virtual, yang merupakan perpustakaan tanpa dinding tanpa batas, hal ini sudah saya rancang dalam tesis saya,” ujarnya.

Sebelum masa pandemi, kata I Nyoman, dirinya sudah berpikir bahwa pemanfaatan teknologi informasi adalah hal utama untuk penyelenggaraan Perpustakaan dan Kearsipan.

“Masyarakat kita saat ini masih sangat rendah minat bacanya, oleh sebab itu membutuhkan sinergitas program baik di pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota, melalui kebijakan Bapak Gubernur, Bupati atau Wali Kota, untuk meningkatkan minat dan budaya baca, dan kita harus mampu menyediakan koleksi buku sesuai kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Olehnya itu, I Nyoman mengharapkan, Pustakawan menjadi agen pembaharuan, bukan penjaga buku.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas