
Donggala, Metrosulawesi.id – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Desa Surumana Kecamatan Banawa Selatan disegel masyarakat sekitar Selasa 25 Januari 2022.
Seorang warga menyebutkan penyegelan sekolah yang berada di perbatsan Donggala dengan Kabupaten Pasangkayu itu dipicu oleh sikap kepala Madrasah Jaiz Ahmad.
“Tunjagan guru belum dibayar, dana PIP (Program Indonesaia Pintar) untuk siswa juga belum dibayarkan, kepala Madrasah arogan, pak kepala Madrasah harus angkat kaki dari sekolah ini, dan ada dugaan komiten di proyek pembangunan sekolah ini,” kata salah satu warga pendemo.
Kepala Kantor Agama Kabupaten Donggala Rusdin S,Ag,MM yang dikonfirmasi di kantronya, Selasa 25 Januari 20220 membenarkan adanya aksi penyegelan sekolah madrasah di desa Surumana.
“Iya benar ada demo masyarakat menyegel sekolah, untuk informasi detailnya lebih bagus bapak langsung ketemu pak Kakanwil saja di Palu,” ujarnya.

Terpisah, Kakanwil Ulyas Taha yang ditemui di kantronya menjelaskan kisruh yang terjadi di Madrasalah Aliyah Desa Surumana itu sudah lama berlangsung. Kisruh antara kepala madrasah dan KAUR TU dan akhirnya merembet ke guru-guru dan staf madrasah.
Salah satu penyebabnya adalah kepala madarasah adanya hak guru terlambat dibayar, ada tugas Kaur TU kadang-kadang tidak diberikan kepala madrasah.
“Ini kisruh anatara kepala Madrasah dengan KAUR TU-nya, sudah lama ini, saya belum jadi kepala Kakanwil di sini, informasi kami dapat Pjs Kakanwil sebelumnya sudah memediasi keduanya tapi gagal, buktinya terjadi lagi perseteruan,” kata Ulyas Taha.
“Masalah tunjangan guru, dengan PIP yang dituntut masyarakat sekitar, di madrasah itu terkotak-kotak ada kelompok kepala madarasah dan ada kelompoknya KAUR TU,” sebutnya lagi.
Kata Ulyas lagi pihaknya sudah memanggil kedua pihak yang berseteru, mendamaikan dan mencari solusi.
“Baru saja mereka saya mediasi di kantor ini, saya tegaskan ke mereka berdua ini mediasi yang kedua kali, kedua kali saya tegas tidak mau kompromi, kalau dilanggar saya hukum penegakan disiplin saya non job kan, kepala madarah menjadi guru biasa, Kaur TU akan menjadi guru biasa juga,” bebernya.
Disinggung dugaan komitmen fee di proyek pembangunan RKB MAN dengan nilai 3 miliar, Ulyas menjawab itu tidak ada dan tidak benar.
“Saya pastikan fee proyek tidak ada, pembangunan atau proyek MAN mulus saja tidak ada persoalan, madrasah itu termasuk tingkat progres berjalan bagus, tidaka ada apa-apa, tidak fee,” tutupnya.
Kepala MAN Bantah
Terpisah, Kepala MAN Surumana, Jaiz Ahmad yang dikonfirmasi di kediamanya di Silae Selasa membantah semua tudingan masyarakat yang melakukan penyegelan sekolah yang dipimpinnya.
“Saya tidak ada masalah dengan masyarakat sekitar yang menyegel sekolah, saya akan melapor polisi, saya mengamankan madrasah, saya akan lapor polisi, tidak ada fee proyek, saya tidak pernah ketemu dengan kontarktornya,” sebutnya dengan nada sedikit tinggi.
“Saya sudah terlalu lama bersabar, kalau tetap mengganggu kegiatan belajar, siapa yang coba halangi anak-anak belajar mereka mau ujian, berhadapan dengan hukum. Saya mau lapor polisi, bahkan ada Satpam sekolah, bukan mengamankan cuma melawan saya, merusak meja, dia tumbuk sampe rusak, saya tidak nyaman, saya sabar, saya akan lapor polisi, dana PIP dana pusat, tidak ada masalah, bukan kepala madrasah yang pegang dana PIP, termasuk gaji guru langsung ke rekening,” tegasnya.
Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal




























