Home Mutiara Ramadan

Bagaimana Berinteraksi dengan Alquran?

13
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Zen Ibrahim*

MUNCUL pertanyaan ketika umat ini telah menerima Alquran Al-Karim dengan penerimaan yang serius. Bagaimana cara ber-taamul (berinteraksi) dengan Alquran? Bagaimana cara memperoleh atsar (pengaruh) Alquran? Bagaimana caranya kita menangis saat membacanya? Dan pertanyaan lainnya.

Bila kita merunut kehidupan masyarakat muslim sepanjang sejarahnya, kita menemukan pribadi-pribadi yang terkoneksi dengan Alquran. Sepanjang sejarah tarikh Islami seluruhnya dibangun dalam diri setiap muslim kepribadian untuk mencapai Alquran. Tetapi dalam perjalanannya terdapat dua batu sandungan yang merintangi yaitu; fitnah khalqul Quran (Alquran makhluk) dan menyingkirkan Alquran dari persoalan ilmiah.

Pertama, Fitnah khalqul Quran atau tuduhan Alquran adalah makhluk bukan kalam Allah merupakan fitnah besar yang menggunjang dunia Islam saat itu karena disponsori oleh kekuasaan daulah (negara). Menganggap Alquran yang ada selama ini bukan perkataan Allah, tidak diucapkan oleh Allah. Mereka berkeyakinan, Alquran hanyalah buatan Jibril atau Muhammad shalallahu alaihi wassalam seperti yang dikatakan oleh Ibrahim Al-Baijuri dalam Syarah Jauhar At-Tauhid.

Ketika seseorang ber-taamul bersama Alquran dengan keyakinan kalam Allah dan Allah yang memfirmankannya, aqidah ini akan membuat perubahan dalam diri orang yang mendengarnya. Walaupun hanya dengan mendengar saja.

Bahkan kita telah menyaksikan pengaruh yang hebat pada pendengar meskipun dia tidak mengerti artinya. Orang awam yang tidak mengerti arti dan maknanya dapat menangis, mengapa? Karena dia tahu suara yang didengarnya kalam Allah bukan makhluk. Dalam hatinya terdapat keyakinan yang terpatri itu kalam Allah azza wa jalla.

Kedua, menyingkirkan Alquran dari persoalan ilmiah kritis. Terdapat beberapa kajian-kajian aqidah tapi dalil-dalil yang diungkapkan berkaitan dengan akal. Dalil-dalil Alquran yang berkaitan dengan wujud Allah tidak disampaikan, tidak ditemukan dalil-dalil Alquran sebagai dasar kajian. Ketika membahas sifat Allah tidak dikupas dengan apa yang dikatakan Alquran.

Mereka membatasinya ruang lingkup akal, mendepak dalil-dalil Alquran sampai sebagian mereka berpandangan Alquran tidak cukup untuk menjawab segala pertanyaan tentang Allah azza wa jalla. Alquran tidak mampu memecahkan semua problematika kehidupan secara rinci. Alquran bukan problem solving. Seolah mereka menobatkan diri sebagai mufakir islami (intelektual Islam).

Pandangan mereka, Alquran hanyalah pedoman umum yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan dasar. Tetapi Alquran tidak dapat memecahkan seluruh problem manusia apalagi yang rumit. Ini merupakan bentuk menyingkirkan Alquran dari kehidupan.

Mereka mengenyahkan kemampuan Alquran dalam memengaruhi manusia dari sisi iman, harakah (pergerakan) dan perbuatan. Gejala yang tampak hari ini, manusia berada dalam sebuah posisi; menomor satukan intelektual dan akal serta membanggakannya menyebutnya sebagai akal sehat.

Demi jargon akal sehat dan intelektualisme, mereka mencomot berbagai sumber selain Alquran. Paham-paham yang membuahkan pesimisme. Bila dipaparkan ayat-ayat Alquran mereka malu-malu. Enggan mengambil sumber pertama dan utama dari Alquran.

Secara tidak sadar kita telah terjerumus ke dalam pemikiran ini. Paling banter kita hanya menjadikan Alquran sebagai tadabur untuk menggali hikmah Quraniyah, meresapi maknanya untuk bisa menangis dan mencapai khasyiah seperti firman Allah: “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.” (Al-Anfal: 2)

Padahal seharusnya kita juga harus menjadikan Alquran sebagai problem solving seluruh problematika apapun itu dari yang sederhana hingga paling rumit dan kritis. Dari masalah buang air, keluarga sampai negara dan pengelolaan dunia.

Salah satu contoh sederhana ketika orang-orang membuka Kitab Tafsir Ayatul Ahkam karya Syeikh Abdul Qadir Syaibah, keliru mengira dalam benaknya ayat-ayat Alquran yang dibahas dalam kitab hanyalah berkaitan dengan persoalan-persoalan fikih. Sedangkan ayat-ayat yang tidak dibahas tidak menjawab persoalan.

Persangkaan tersebut salah fatal. Ayat-ayat tentang berbagai kisah juga merupakan ayat-ayat ahkam (hukum-hukum), begitu pula ayat tentang nasehat, mauizah serta lainnya seluruhnya ayat ahkam. Alquran adalah kitab suci ahkam dari halaman pertama sampai terakhir.

Bila kita melihat ayat-ayat ahkam, jangan hanya melihat pada makna zhahir saja. Tetapi juga melihat pada makna qalbi (hati/batin), makna tarbawi, makna akhlak, makna qadri (kehendak Allah) pada manusia dan bagaimana perjalanan sunnah qadariyah pada manusia.

Misalnya dalam surat Adz-Zariyat: “(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka.” (Adz-Zariyat: 25-27)

Ibnul Qayim rahimahullah secara jeli melihatnya mengandung makna adab Nabi Ibrahim alaihissalam pada tamu, sebuah adab yang sangat mulia karena Nabi Ibrahim adalah Nabi yang mulia. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam ketika ditanya siapa manusia paling mulia menjawab: “Orang mulia bin mulia bin mulia, Yaitu Yusuf bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim.” (Al-Bukhari)

Mereka adalah keluarga yang mulia pucuknya pada Ibrahim datuk mulia yang mengajarkan pada orang arab kemuliaan. Ayat ini juga ahkam.

Andai kita membuka lembaran-lembaran kitab milik alfaqih wal mutafaqih (profesor) Khatib Al-Baghdady kan ditemukan, sebagaimana riwayat dari Umar, para sahabat memerintahkan Alquran sebagai mata pelajaran pertama. Sebelum mempelajari materi lainnya. Sebab Alquran akan membentuk tarbiyah, amaliyah dan akal.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengannya pula.” (Muslim)

Itulah mengapa kurikulum para sahabat dan salaf mengajarkan untuk mempelajari Alquran terlebih dahulu sebelum hadits. Mereka memperbaiki bacaan dengan mempelajari tajwid sebelum menghafal. Sehingga waktu kanak-kanak mereka hingga baligh dihiasi dengan Alquran.

Alquran adalah mashdar (sumber) semua ilmu pengetahuan, marifat, obat bagi jiwa manusia, fikih, problem solving seluruh persoalan, jawaban bagaimana meniti sunah qadariyah kemenangan mukmin dan kehancuran muysrikin, mashdar pembentukkan pribadi muslim yang peka pada keislamannya.

(* Dosen Perguruan Tinggi Tahfizhul Quran dan Entrepreneur Insan Karima Klaten Jateng)

Ayo tulis komentar cerdas