Anak-anak korban bencana di Palu mendapatkan sepeda dari Palu Mountain Bike (MTB) Comunity. (Foto: Eddy/ Metrosulawesi)
  • Palu Mountain Bike (MTB) Community Peduli Korban Becana

“ Saya kadang merasa aneh sendiri, kita main sepeda dengan sepeda yang harganya lumayan mahal, dan kita melihat anak-anak itu mengejar kita sambil berlari karena mereka pun juga suka dengan sepeda. Namun, dikarenakan bencana alam, jangankan punya sepeda, mainan –mainan mereka saja sudah hilang tersapu tsuanami atau tertelan lumpur saat bencana alam,” – Andi M. Tavip –

BENCANA  Alam Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi yang menimpa Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parimo, 28 September 2018 lalu, menyisahkan duka bagi warga yang terdampak langsung, Dan hal itulah yang menggerakkan hati berbagai komunitas maupun pribadi untuk menyumbangkan berbagi bantuan untuk meringankan beban para korban.

Seperti halnya yang dilakukan Andi M.Tafip. Pria yang hobi dengan olah raga sepeda itu, merasa terpanggil sebagai warga Kota Palu yang juga terdampak bencana alam, untuk menyumbangkan sepeda kepada anak-anak korban bencana.

Ditemui metrosulawesi. id, dikediamannya di jalan Hangtuah, Kota Palu, Andi M.Tavip atau yang akrab di panggil dengan Om Andi, mengatakan bahwa, sumbangan sepeda itu berawal dari saat dirinya sedang bersepeda, pasca gempa.

Saat melintasi  kawasan pengungsi, tanpa sengaja dirinya melihat anak-anak korban bencana bermain permainan ala kadarnya, malah anak-anak itu mengejar dirinya yang bersepeda sambil berlari, pendiri Palu Mountain Bike (MTB) Comunity itu, langsung singgah dan bercengkrama dengan anak-anak itu.

“Saya lupa kapan itu, tapi saat saya singgah itulah saya bercengkaram dengan anak-anak pengungsi, dan saya melihat anak-anak itu memperhatikan sepeda yang saya gunakan, spontan saya bertanya kalian tidak ada mainan lain, kok ngejar-ngejar saya bersepeda, dan spontan mereka menjawab, meraka suka sama sepeda dan beberapa dari mereka menceritakan bahwa, mereka sebelumnya punya sepeda, namun kini telah hilang akibat rumah tempat tinggal mereka, bersama dengan sepeda mereka telah hilang diterjang tsunami,” kenang Andi.

Lebih jauh pria kelahiran 56 Tahun lalu itu, mengatakan bahwa, dari situlah terbesit dibenaknya bahwa orang lain sudah menyumbangkan berbagai jenis bantuan seperti makanan, pakaian, hingga peralatan sekolah, kenapa tidak dirinya membahagiakan anak-anak itu, sekaligus membantu mereka untuk kembali bersekolah dengan menggunakan sepeda.

Andi M. Tavip

“Saya kadang merasa aneh sendiri, kita main sepeda dengan sepeda yang harganya lumayan mahal, dan kita melihat anak-anak itu mengejar kita sambil berlari karena mereka pun juga suka dengan sepeda. Namun, dikarenakan bencana alam, jangankan punya sepeda, mainan –mainan mereka saja sudah hilang tersapu tsuanami atau tertelan lumpur saat bencana alam,” ucapnya.

Setelah pertemuanya dengan anak-anak pengungsi itulah, Om Andi, dengan menggunakan uang simpanannya yang tidak seberapa, membeli lima unit sepeda baru, dan membagikanya kepada anak-anak yang ditemuinya beberapa waktu sebelumnya.

“Awalnya menggunakan uang pribadi, membeli lima unit sepeda ukuran anak-anak, dan begitu bahagianya  mereka saat menerima pemberian sepeda itu,” kata Andi         

Memberikan sepeda kepada anak-anak korban bencana itu, sebenarnya tidak ingin diketahui orang lain. Hanya saja saat dirinya membagikan sepeda, ada temannya yang melintas dan tanpa disadarinya mengambil fotonya, dan meng Upload di Media Sosial Face Book. Dari situlah teman – teman bersepeda yang berada luar Sulawesi menghubungi dan bertanya pada dirinya terkait dengan aksi sosialnya bagi-bagi sepeda, kepada anak-anak korban bencana.

“Ada teman yang lihat dan foto, serta langsung upload di medsos, dan dari situlah teman-teman bersepada yang ada di Kota Palu, serta luar Sulteng seperti Jakarta, Surabaya, Malang, entah itu Komunitas sepeda seperti  Komunitas Go To Work Jakarata, dan beberapa teman secara pribadi menawarkan sepeda mereka yang tidak digunakan, untuk disumbangkan ke korban bencana, melalui saya,” tambahnya.

Selain sepeda bekas namun masih dalam kondisi layak pakai, ada juga yang menyumbangkan sepeda baru, dan bukan hanya untuk anak-anak saja, untuk orang dewasa pun, ada yang menyumbangkan sepeda, dan Om Andi hanya mengeluarkan biaya untuk jasa pengiriman sepeda –sepeda sumbangan tersebut, dan perbaikan seadanya saja.

“Saya hanya menanggung perbaikan seadanya saja, dan ongkos pengiriman sepeda-sepeda tersebut,” pungkasnya.

Hingga saat ini, sepeda yang sudah disumbangkan sekitar 20an unit, dan yang menerima selain anak-anak, juga orang dewasa yang sangat membutuhkan transportasi untuk usahanya. selain untuk anak-anak korban bencana, juga ada beberapa sepeda yang diantarlangsung ke panti asuhan, serta pengurus mesjid yang membutuhkan alat transportasi, untuk beraktifitas.

Sementara itu Tahir, yang juga kawan bersepeda Andi saat ditemui di tempat terpisah mengatakan bahwa, sosok Om Andi merupakan panutan dari teman sekomunitas PMTB.

“Meski Om Andi  sempat mengungsi di ketinggian saat bencana alam terjadi lalu, Om Andi itu tetap mengajak kami untuk ikut membagikan bantuan yang didapatkanya dari beberapa donatur maupun dari pribadinya,” ucap Tahir sembari menambahkan komunitas PMTB juga ikut peduli dengan memberikan bantuan kepada korban bencana berupa  bahan makanan, pakaian, hingga tenda. (*)

Reporter: Djunaedy

Ayo tulis komentar cerdas