DIMINTAI KETERANGAN - Bupati Donggala Kasman Lassa (kanan) saat dimintai keterangan oleh penyidik Polda Sulteng, sebagai saksi kasus dugaan korupsi proyek TTG di Polres Donggala, Rabu 25 Januari 2023. (Foto: Istimewa)
  • Kasus TTG, Bupati Kasman Dicecar Empat Pertanyaan

Donggala, Metrosulawesi.id – Bupati Donggala, Kasman Lassa buka-bukaan soal proyek teknologi tepat guna (TTG) yang saat ini dalam tahap penyelidikan di Polda Sulteng. Dia sendiri telah diperiksa sebagai saksi dalam perkara itu.

“Benar saya diperiksa penyidik Polda terkait dugaan korupsi TTG (teknologi tepat guna). Saya jawab semua, empat pertanyaan yang diajukan penyidik,” kata Bupati Kasman menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri pesta keluarganya di BTN Persido Kelurahan Maleni Kecamatan Banawa, Kamis 26 Januari 2023.

Seperti diketahui pada Rabu 25 Januari 2023, Bupati Kasman dimintai keterangan sebagai saksi dugaan korupsi proyek TTG oleh penyidik Polda. Dia diperiksa oleh dua penyidik di salah satu ruang pemeriksaan di Polres Donggala. Pemeriksaan di Polres Donggala atas permintaannya.

“Saya ini kooperatif dan taat hukum sebagai pejabat, waktu ada panggilan dari penyidik Polda. Saya konfirmasi balik ke penyidik Polda, saya katakan ada kegiatan rakor. Kalau bisa pemeriksaan di Polres Donggala, dan itu disahuti. Jadi kemarin itu saya diperiksa di Polres Donggala yang periksa penyidik Polda,” jelas Kasman.

Kasman pun kemudian menjelaskan empat pertanyaan yang diajukan penyidik Polda kepada dirinya. Di antaranya, menyangkut disposisi surat yang ia keluarkan dan teruskan ke DPMD (Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa) Donggala menyangkut program TTG.

“Benar saya buat disposisi ditujukan ke DPMD. Isi disposisi saya normatif, pelajari dan teliti sesuai ketentuan. Kan orang bermohon ya secara administrasi harus didisposisi, pelajari isi, dan maksud surat,” jelas Kasman.

Pertanyaan lain yang ditanyakan adalah menyangkut kerjasama MoU (Memorandum of Understanding) program TTG. Kasman mengaku tahu soal MoU program TTG. Kalau saya MoU terkait TGG tidak pernah saya tidak tahu. Itu urusan dinas,” kata Kasman.

Hal lain kata Kasman yang ditanyakan penyidik adalah soal surat ke Kejati Sulteng. Terkait dengan surat itu, Kasman membenarkan.

“Menyangkut saya menyurat ke Kejati Sulawesi Tengah memang benar meminta pendapat hukum, seperti urusan aset minta pendapat hukum. Kemudian surat saya dibalas Kejati Sulawesi Tengah,” jelas Kasman.

Yang terakhir yang ditanyakan penyidik kepadanya kata Kasman, adalah soal adanya tuduhan yang ditujukan kepada dirinya menggunakan dana dari program TTG untuk membayar kuliah di Unhas.

“Tuduhan uang kuliah di Unhas dari program TTG itu tidak benar. Ada gaji dan tunjangan ku. Murni gaji tunjangan dan gaji pakai bayar kuliah,” jawab Kasman.

Ditanya kemungkinan akan ada tersangka dari pejabat eselon II dan III pada kasus TTG itu? Bupati Kasman mengatakan, siapa yang berbuat pasti kena. Namun lanjut Kasman, kecil kemungkinannya pejabat di lingkungannya menjadi tersangka.

Berdasarkan hasil pemeriksaan menurut Kasman, kasus TTG itu bukan termasuk gratfikasi, tetapi lebih ke markup (kemahalan).

“Itu orang yang berbuat bertanggung jawab. Saya tidak tahu. Kalau keterlibatan atau menjadi tersangka pejabat eselon II atau III saya tidak melihat ada pemerintahan karena semua normatif. Kasus TTG bukan gratifikasi, tapi markup. Masak orang sudah melunasi, barang tidak lengkap,” jelas Kasman.

Ditambahkannya program TTG yang dikerjakan CV Mardiana telah dilakukan pemeriksaan final oleh BPK dan APIP (aparat pengawas internal pemerintahan) hasilnya ditemukan kerugian negara.

“Apa yang dikerjakan CV Mardiana diprogram TTG sudah dilakukan pemeriksaan BPK, dan APIP, hasilnya sama ditemukan ada kerugian negara. Pertama ada pemahalan harga dilakukan CV Mardiana dan pemilik toko, pajak tidak dibayar. Padahal kades mengatakan sudah include uang TGG dengan pajak, terjadi kelebihan dan kekurangan volume,” sebut Kasman.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas