TERMUDA - Arganta Khalfani Hafidz (12), Atlet Paralayang termuda di Sulteng. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id Arganta Khalfani Hafidz (12) jadi atlet paralayang termuda yang dimiliki Sulawesi Tengah bahkan Indonesia. Pria yang akrab disapa Arganta ini telah memiliki lisensi pilot kelas penerbang siswa sejak usia 11 tahun. Buah hati dari pasangan Herman Zaenong dan Tri Rahayu ini tengah dipersiapkan jadi atlet andalan Sulteng pada Pekan Olahraga Nasional tahun 2028.

Ketertarikan Arganta terhadap olahraga paralayang tidak lain adalah karena sang paman, Wahid Gunawan yang juga atlet sekaligus pelatih pilot Paralayang Sulteng. Saat duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD), Arga rutin ikut menyaksikan pamannya latihan di Bukit Salena Palu dan Mantatimali Kabupaten Sigi.

“Dari kelas empat SD itu diajar dia (Arganta) pelan-pelan mulai dari lipat Payung. Waktu itu dia latihan di Gunung Porame dengan ketinggian 25 meter,” kata Eman sapaan akrab Herman Zaenong kepada Metrosulawesi, Kamis (12/01/2023).

Memasuki kelas 5 SD, Arga akhirnya menekuni olahraga paralayang sampai akhirnya mencukupi jam terbang untuk jadi pilot di usianya yang masih belia. Meski belum cukup umur untuk mengikuti even nasional, Arga rutin mengikuti kegiatan paralatang di luar daerah di antaranya di tanah Toraja, dan Kabupaten Morowali. 

“Terakhir Arga ikut eksebisi paralayang di Porprov Banggai mewakili Palu. Di sana dia berhasil mendapatakan medali perak,” kata Eman.

“Saya sebagai orang tua tentunya merasa bangga dan sangat mendukung prestasi anak selagi itu positif,” imbuh dia.

Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Sulawesi Tengah, Asgaf Umar mengatakan, Arganta memang atlet termuda di kelas Penerbang Siswa yang mendapat lisensi pilot. Meski belum memiliki lisensi terbang nasional karena kendala umur, arga kata Asgaf sudah cukup layak mendapat lisensi PL 1.

“Kelas PS itu ada lima orang atlet saat ini yang kami latih. Tata-rata usia di bawah 20 tahun dan Arga memang jadi yang paling muda. Kemarin Arga belum cukup umur mendapat lisensi karena minimal itu harus usia 14 tahun makanya kami rencana buat kebijakan baru minimal usia 12 tahun. Meski paling muda, tapi secara skil dia sudah pantas mendapat lisensi PL 1,” terang Asgaf.

Menurut Asgaf, keberadaan Arga bersama empat atlet kelas Penerbang Siswa membuat pihaknya bernafas lega di tengah kekurangan atlet yang memiliki lisensi. Apalagi, kata Asgaf, tahun-tahun lalu sangat jarang orang yang bergabung di Paralayang.

“Untuk sekarang mereka ini jadi pelapis, empat tahun ke depan semoga progresnya bagus sehingga bisa tampil di PON 2028,” ujar Asgaf. (*)

Reporter: Addi Pranata

1 COMMENT

Ayo tulis komentar cerdas