SETAHUN lebih. Andika Perkasa menyandang jabatan tertinggi di bidang militer. Sebagai Panglima TNI. Jenderal Angkatan Darat, ini menjanjikan keamanan nusantara.

Melihat perjalanan karier militer dan lontaran-lontaran kata-katanya, dia sosok tentara yang tegas. Berani mengambil risiko. Tanpa kompromi. Demi rasa keamanan, itu. Demi menjaga keutuhan bangsa, itu.

Jokowi, Presiden RI, tepat memilih Andika. Banyak yang memujinya ketika pilihannya jatuh kepada lelaki bertubuh tegar dan berotot itu. Rakyat pun senang dengan pilihan itu. Mereka membayangkan negeri ini akan jauh lebih aman di tangan Panglima Jenderal Andika.

Menjelang dilantiknya Andika sebagai Panglima TNI oleh Presiden Jokowi, setahun lalu itu, sebagai warga negara yang juga merasa optimis, saya mengulasnya dalam kolom CERMIN harian Metro Sulawesi.

Pandangan saya. Betapa tepatnya Andika menakhodai militer sebagai penjaga gawang keamanan bangsa. Saya membayangkan orang-orang atau pihak-pihak yang memiliki niat mencederai keutuhan bangsa, akan kehilangan nyali.

Dalam esai itu, saya menulis, Andika akan fokus “merebut hati” para teroris bersenjata di Papua. Tindakan teroris di sudut negeri itu tak lagi sebatas ancaman. Mengesankan organisasinya kian matang untuk memaksakan kehendaknya “memerdekankan” Papua. Mereka pun tak segan lagi memproklamirkan diri.

Perlawanannya kepada militer dilakukan tidak lagi bergaya seperti gerilyawan. Kini mereka melawan dengan frontal. Akibatnya, korban-korban pun berjatuhan. Bukan hanya tentara dan polisi yang tewas di tangan para pengacau keamanan itu, tapi lebih banyak warga sipil. Semuanya dilakukan secara sadis. Berdarah. Sungguh sadis. Lantaran itu betapa tepat kehadiran Jenderal Andika menghadapi lawan-lawan nyata ini. “Tunggu, wahai para teroris….” Andika bergumam. Saat itu. Mungkin begitu.

Tak terasa. Setahun lebih Andika Panglima TNI. Selama itu seakan tak pernah jeda keberingasan teroris-teroris di Papua. Mungkin tak salah simpulan, para teroris itu kian menampakkan barisan perlawanannya. Tak sungkan-sungkan memamerkan senjata laras panjangnya di jalan-jalan. Melontarkan kata-kata menantangnya. Menyebut Indonesia sebagai penjajah.

Mana perlawanan heroik Jenderal Andika dalam menumpas teroris-teroris di Papua yang bertujuan mencabik keutuhan bangsa itu?

Saya pernah bertemu seorang tentara yang baru saja meninggalkan Papua. Saya tanya: militer Indonesia sudah terlatih dan dikagumi oleh sejumlah negara. Peralatan senjata pun kini sudah modern. Mengapa tak mampu membersihkah Papua dari para teroris atau pengacau keamanan atau kelompok kriminal bersenjata itu? “Sebenarnya tidak sulit membersihkan Papua dari pengacau keamanan itu. Tentara mampu memburu dan menghabisi mereka, tapi gerak kami dibatasi oleh pertimbangan HAM.” Tentara itu menjawab sembari menatap mata saya.

Apakah dengan pertimbangan HAM itu, seorang Jenderal Andika Perkasa tak menampakkan “keperkasaannya” memandang Papua


OH, Papua. Tanpamu negeri kita tak sempurna. Tanpamu negeri kita tak pantas disebut Indonesia. Tanpamu tak ada nyiur melambai. Tanpamu, negeri makmur sentosa hanya ada dalam ilusi.

Letakkan senjata. Mari bersatu. Jangan tergiur “rayuan dan siasat” bangsa lain. Mereka hanya ingin kita bercerai. Lalu menderita. Dan mereka terbahak memandang kita: negeri yang retak! **

Ayo tulis komentar cerdas