KTT G20. Selama dua hari, 15 – 16 November 2022. Di Bali. Dinilai sukses. Semua kepala negara yang hadir merasakan kenyamanan itu. Selama berada di Bali, mereka menjalani hari-harinya dengan riang dan rileks.

Presiden RI Joko Widodo sebagai tuan rumah tak kalah gembiranya melihat kenyataan kesuksesan itu. Senyum pun selalu menghiasi wajahnya. Namun di balik kenyataan menggembirakan itu, setelah semua undangan kepala negara meninggalkan negeri ini, terungkaplah kisah memiriskan dan menyakitkan. Apa yang memiriskan dan menyakitkan itu?

Anggota Paspampres, Pasukan Pengamanan Presiden, itu berinisial BF. Pangkatnya Mayor TNI AD (Angkatan Darat). Wajahnya gagah. Tubuhnya atletis, tentu saja. Bukankah dia tentara pilihan.

BF tidak sekadar anggota Paspampres. Dia diamanahkan jabatan penting dalam pengamanan presiden. Dia dipercaya sebagai Wakil Komandan di salah satu Detasemen di Paspampres.

Selasa malam, 15 November 2022. Tamu penting G20 sedang istirahat. Di hotel terbaik di Bali, tentu saja. Di saat seperti itu, pasukan pengamanan presiden, juga menikmati istirahatnya, meski terus siap siaga. Begitulah tanggung jawab tentara yang tergabung dalam Paspampres.

Malam rileks itu, Mayor BF yang sudah punya istri dan dua orang anak ini tiba-tiba mengingat seorang wanita muda. Usianya baru menginjak 23 tahun. Gadis itu berwajah ayu. Bukan sembarang gadis. Inisialnya GR, ternyata juga seorang tentara. Prajurit Wanita (Kowad). Dia tergabung dalam Divisi Infantri 3/Kostrad. Pangkatnya Letnan Dua. Seperti Mayor BF, Letda GR pun hadir di Bali, sebagai anggota pasukan pengamanan KTT G20.

Malam itu belum terlalu larut. Sejuknya dan indahnya Bali, entah mengapa, membuat Mayor BF tak tahan lagi hendak menemui Letda GR. Setelah dia lacak, hotel tempat menginap Letda GR, akhirnya diketahui Mayor BF.

Mayor BF sedang memandang sebuah hotel di Jimbaran, Bali. Dalam hatinya, di hotel inilah Letda GR menginap. Kini dia sudah berdiri tepat di salah satu pintu kamar. Dia merasa yakin, kamar ini adalah kamar milik Letda GR.

Ketukan pintu Mayor BF, tak dipedulikan Letda GR. Beberapa kali ketukan itu, tak diresponnya. Akhirnya, Mayor BF menyebut namanya. Tetap saja Letda GR tak membukakan pintu kamar. Alasannya, kurang sehat. Namun Sang Mayor tak kehabisan akal. Dia lalu memakai siasatnya sebagai senior. Mayor BF lalu memunculkan modus berpura-pura ingin melakukan koordinasi dengan si Letda, demi kelancaran tugas pengamana KTT G20 di Bali.

Letda GR berpikir sejenak. “…biarlah saya membukakan pintu kamar. Saya kan junior. Dia senior….” GR bergumam sendiri. Kira-kira begitu.

Di dalam kamar yang indah. Dingin. Sejuk. Sepi. Si Letda mengaku tidak sehat. Tak lama kemudian tubuhnya agak oleng. Dia seperti tak sadarkan diri. Begitulah berita yang tersiar luas, Sang Mayor lalu memanfaafkan kondisi itu dengan melampiaskan nafsu syahwatnya. Esok paginya Letda GR terkejut. Tubuhnya telanjang. Tanpa busana. Dia pun trauma. Takut melapor. Nanti dibunuh.

Tak tahan memendam sakit dan trauma, Letda GR pun bersuara. Komandannya pun tahu. Kabar memiriskan dan menyakitkan itu akhirnya sampai ke telinga Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Andika geram. Marah. “Menjijikkan. Pecat!” Sang Panglima memperlihatkan wajah serius. Kini Mayor BF sudah ditangkap. Ditahan di Detasemen Polisi Militer.


RAPUH. Benar-benar rapuh, dinda.” Bung, kawan saya, di kedai kopi, menatap ke luar lewat jendel tua.

“Apa yang benar-benar rapuh, Bung?” Saya memburunya.

“Mentalitas anggota Paspampres yang rapuh, dinda.”

“O, itu. Maksud Bung, oknum anggota Paspampres?”

“Ya, oknum-oknum itu.”

“Lalu rapuhnya di mana, Bung?”

“Masih ingat kan seorang perempuan tiba-tiba beraksi menembus barisan ketat Paspampres, lalu sukses mendekati Presiden Joko Widodo di mobilnya? Bukankah ini kecolongan besar bagi Paspampres? Coba, kalau perempuan itu berniat jahat untuk presiden, maka apa yang terjadi? Ini semua karena rapuhnya mentalitas oknum-oknum itu, dinda.”

Saya menikmati kopi hitam yang sudah mulai dingin sembari merenungi kata-katanya. “Dan puncak kerapuhan mentalitas itu telah dipertontonkan seorang oknum anggota Paspampres berpangkat mayor itu, dinda.”

Bung tampaknya kian serius. Saya hanya menatapnya sambil manggut pelan. Tanpa meresponnya dengan kata-kata.

“Iya, kan. Seorang perwira berusia muda. Boleh jadi ke depan calon jenderal, tiba-tiba memamerkan mentalitas kerapuhannya. Kalau vonis Panglima Jenderal Andika Perkasa lebih sadis lagi, dinda.”

“Apa yang dikatakan Jenderal Andika, Bung?”

“Katanya, perbuatan Mayor BF yang tega berbuat asusila di kamar hotel di Jimbaran Bali itu adalah perbuatan menjijikkan, dinda.”

Saya lalu merenungi kata menjijikkan itu. Saya tiba-tiba melihat kata “menjijikkan” itu tidak hanya tepat untuk Sang Mayor, tapi juga untuk mereka yang mengaku “ratu adil” di republik ini. Bukankah “ratu adil” yang kian ramai bermunculan itu yang mengundang datangnya bencana silih berganti, seperti malapetaka Cianjur itu? **

Ayo tulis komentar cerdas