Moh. Ahlis Djirimu. (Foto: Ist)

Oleh: Moh. Ahlis Djirimu (*

TAHUN 2022, ditandai dengan naiknya hegemoni Tiongkok, dinamika Timur Tengah, pemanasan global, tuntutan atas penghapusan doktrin Monroe. Penulis mengesampingkan dinamika warnomic Rusia-Ukraina yang dapat dibahas tersendiri secara detail. Di Tahun 2001, Jeffrey A. Frankel menyatakan ‘no sigle currency regime is right for all countries at all time’……. Tidak ada satupun rezim kurs yang tepat bagi semua negara pada waktu yang sama. Semenjak runtuhnya sistem Bretton Woods di Tahun 1973, rezim kurs telah beralih dari rezim stabil menjadi rezim volatilitas kurs. Kurs ini semakin berfluktuasi tinggi seiring dengan integrasi ekonomi dunia dalam sistem keuangan yang sangat terbuka. Arsitektur keuangan dunia mengalami perubahan. negara yang dalam arsitektur keuangannya masih mengandalkan lembaga perbankan sebagai satu-satunya sumber keuangan akan semakin rapuh dibandingkan dengan negara yang mengandalkan berbagai sumber keuangan seperti pasar obligasi, pasar surat hutang, pasar saham maupun arus modal asing jangka panjang.

Lebih dari satu dekade sebelum krisis moneter di Asia, negara-negara Asia sedang beralih dari sistem yang menganut kurs tetap menuju pada kurs fleksibel. Namun, kurs mengambang terkendali selalu diasosiasikan dengan dolar Amerika. Adanya traumatis krisis Asia mendorong negara-negara Asia Timur melakukan kerjasama moneter di Asia. Bentuk kerjasama tersebut berupa penelitian dan antisipasi krisis, aplikasi secara kolektif mata uang yang dipatok terhadap dolar Amerika atau Yen atau penggunaan sekeranjang mata uang utama.

Sesudah krisis Asia, para ekonom mendukung solusi dua arah yaitu sistem kurs tetap, pergerakan sempurna modal dan pengelolaan secara independen kebijakan keuangan yang dapat dicapai secara simultan. Tujuan solusi ini menyatakan bahwa hanya sistem kurs tetap adalah satu-satunya sistem moneter yang dapat berkesinambungan dalam lingkungan di mana mobilitas modal sempurna dan mengambang bebas atau kurs yang dipatok seperti Currency Board System (CBS) atau dolarisasi yang cocok di Asia Timur. Sistem kurs yang terdapat di tengah-tengah antara kurs tetap dan kurs bebas sangat rentan terhadap krisis moneter dan perbankan. Dalam proses pencarian sistem moneter alternatif yang tepat di Asia, khususnya dari stabilitas, ketertarikan pada penyatuan moneter asia (AMU) juga merupakan solusi yang tepat. Peluncuran penyatuan ekonomi dan moneter Eropa oleh negara-negara Asia dipandang sebagai usulan yang tidak realistik walaupun para pemimpin Asia tertarik dengan ide yang sama.

Apa yang terjadi di Timur Tengah sebenarnya merupakan rebutan hegemoni Amerika dan Tiongkok di satu sisi dan kedua, keinginan untuk menyelesaikan sendiri friksi Arab Saudi-Iran di sisi lain. Tentu Amerika Serikat tidak ingin “kemesraan” antara Arab Saudi-Iran tercipta karena akan mengganggu hegemoninya termasuk keistimewaan dolar yang akan terganggu oleh Renminbi Tiongkok. Demikian pula ide perluasan Chinese Belt Road Initiative (CBRI) hingga ke kawasan Timur Tengah pasti erat kaitannya dengan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani, arsitek yang mengemas arah pada “kemesraan” Arab-Saudi-Iran. Selain itu, perang dagang Amerika Serikat-Uni Eropa pada satu sisi, serta perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok menjadi bumbu dalam dinamika ekonomi politik internasional yang tercipta bipolar : antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Rupanya peringatan Napoleon Bonaparte pada Tahun 1816 di Saint Helena “Ketika Tiongkok terjaga dari tidurnya, dunia akan bergetar” berlalu begitu saja, tanpa ada yang mengindahkan.

Pemanasan Global, Krisis Pangan sejak Tahun 2010, dampak COVID-19 pada perekonomian global maupun Indonesia merupakan topik tersendiri dibahas dalam buku ini. Antara satu dengan lainnya, ketiga topik ini mempunyai kaitan erat, baik dari sisi historis kejadian maupun dampaknya. Pandemi COVID-19 menjadi topik aktual karena terjadi setiap empat tahun dengan varian berbeda.

Kiprah Tiongkok menjadi pembahasan tersendiri dalam buku ini. Adanya « the Miracle of China » yakni pertumbuhan PDB perkapita Tiongkok mencapai lima kali lipat dari pertumbuhan perkapita dunia. Selain itu, bila Britania Raya membutuhkan 58 tahun mencapai tahap industrialisasi yakni pada periode 1880-1938, Amerika Serikat membutuhkan waktu 47 tahun untuk mencapainya pada periode 1839-1886, Jepang membutuhkan 34 tahun mencapai masa industrialisasi yakni pada periode 1885-1919, Korea Selatan membutuhkan masa 11 tahun mencapai masa industrialisasi yakni pada 1966-1977. Namun, Tiongkok hanya membutuhkan 8,6 tahun. Pembangunan bertumpu pada fondasi « crisis less growth », pada lima hal yakni likuiditas internasional yang tinggi, sistem perbankan solid, sistem pengamanan keuangan efektif, tingkat tabungan tinggi dan stabil, serta pasar besar dan kapasitas diferensial. Selain itu, Tiongkok sangat memperhatikan nasehat dalam Paradoks Triffin yakni tetap mengakumulasi cadangan devisanya di dalam negerinya, kontras dengan pengalaman Amerika Serikat yang menumpuk cadangan devisanya di luar negeri yang dapat mengancam keistimewaan dolar sebagai mata uang dunia.

Dinamika ekonomi politik internasional yang terjadi di dunia Arab lebih spesifik pada Kawasan Afrika Utara-Euromediterania. Revolusi Jasmin yang dimulai di Tunisia, merambat ke Mesir, Libya, Suriah, Aljazair menunjukkan bahwa rezim yang terlalu lama berkuasa akan menimbulkan fenomena korupsi, oligarki, immiserizing growth maupun kutukan migas di kawasan tersebut. Rakyat Libya saat ini penuh penyesalan, pasca terbunuhnya Moummar Qhadafi, kehidupan tidak lebih baik setelah hampir satu dekade.

Di daratan Amerika, dinamika ekonomi politik nyaris tidak berubah. Amerika Utara menjadi kutub ekonomi negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Amerika Serikat selalu menganggap Amerika Latin sebagai beranda belakangnya negeri Paman Sam. Tuntutan atas penghapus doktrin Monroe menggema di negara-negara Amerika Latin. Kerinduan pada gagasan Mazhab strukturalis agar Amerika Latin melepaskan diri dari cengkraman ekonomi Amerika Utara terus menggema di wilayah kerucut selatan. Pakta Andes, Mercado Commun del Sur dapat diperluas, mengutamakan capaian tujuan regional, tanpa mengabaikan tujuan nasional. Kerjasama Latino Americano Incorporated menjadi suatu kebutuhan.

Asia memilih sendiri jalan menuju kemakmuran. Friksi masa lalu antara Jepang dan Tiongkok, Jepang-Korea Selatan, sekam di semenanjung Korea, friksi India-Tiongkok membutuhkan penyelesaian bagi tercapaiannya kemakmuran bersama jauh dari nilai-nilai imperialisme agresif Tiongkok. (* Staf Pengajar FEB-Untad)

Ayo tulis komentar cerdas