EDGAR Allan Poe, sastrawan besar Amerika Serikat. Dalam banyak fiksinya, sangat mahir mengungkap kisah detektif dan kriminal. Selalu menyimpan misteri dalam ceritanya. Hal itulah yang membuat karya sastranya menarik dibaca. Hingga sekarang. Hingga kapan pun.

Andaikan Poe masih hidup, dan mengetahui “aktor” penabur “cerita hitam” di dunia kepolisian Indonesia saat ini yang bernama Ismail Bolong, boleh jadi Poe terpanggil memprosakannya. Menfiksikannya. Alasannya, cerita ini berbau detektif. Juga beraroma kriminal. Dan biasanya kisahnya berakhir misteri. Tak jelas, siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri. Lantaran itu izinkan saya memberi judul “Peluru dari Sel” untuk esai “cermin” kali ini.

Langit tak mendung. Tak ada tanda-tanda hujan mau turun. Cuaca biasa saja. Suasana agak tenang. Tiba-tiba dunia kepolisian ribut. Ada guntur menggelegar di sana. Menerpa seragam coklat itu. Cakrawala pun kian gusar. Bagaimana tidak, seorang petingginya, Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Agus Andrianto, menjadi sasaran tembak. Siapa yang mempermainkan “peluru” dari sel?

Video itu beredar luas, Kamis, 3 November 2022. Berdurasi dua menit, 50 detik. Aktornya juga seorang polisi. Namanya Ismail Bolong. Pangkatnya Aiptu. Mantan anggota Polres Samarinda. Kalimantan Timur. Ismail Bolong bercerita panjang.

Polisi kelahiran Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ini mengaku tidak aktif lagi bekerja sebagai polisi. Dia memilih bekerja di tempat terlarang. Sebagai pengepul tambang batu bara ilegal. Penghasilannya menakjubkan. Puluhan milyar rupiah tiap bulan. Lalu bagaimana pekerjaannya yang ilegal itu dapat bertahan dan berjalan aman?

Gampang. Kira-kira begitu dalam siasat Ismail Bolong. Bagaimana gampangnya? Dia menjadikan petinggi polri sebagai pelindung di tempat kerjanya yang terlarang itu. Tentu tidak gratis. Maka Ismail Bolong pun merasa aman. Tak ada gangguan. Pundi-pundinya pun mengalir seperti arus sungai yang tak terbendung.

Petinggi polri, pelindung tambang batu bara itu bernama Komjen Pol Agus Andrianto. Jabatannya, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabreskrim) Polri. Dalam video, dengan lancar, Ismail Bolong mengungkap: tiga kali menemui Agus Andrianto di ruang kerjanya di Mabes Polri. Pertama, September 2021 menyerahkan uang 2 milyar rupiah. Kedua, Oktober 2021 menyerahkan uang 2 milyar rupiah. Ketiga, November 2022 menyerahkan uang 2 milyar rupiah. Total: 6 milyar rupiah.

Setelah “peluru” lewat video menerpanya, bereaksikah Komjen Agus Andrianto? Tak ada reaksi berlebihan. Respon pun biasa-biasa saja. Tak lama kemudian. Hanya beberapa hari tersiarnya pengakuannya, Ismail Bolong tampil lagi lewat sebuah video. Tidak lagi memperkuat pengakuannya. Video kedua ini justru membantah kebenaran video pertama. “Video itu tidak benar. Video itu dibuat karena ada intimidasi.” Tentu saja bantahan dan pengakuan terakhir Ismail Bolong membuat Komjen Agus Andrianto merasa lega.

Merasa terbantukan oleh Ismail Bolong, Komjen Agus Andrianto mulai tampil. Kini dia mulai menyerang balik dua orang yang diduga menaburkan “peluru” dari sel. Kedua orang yang juga polisi berpangkat jenderal itu, Irjen Ferdy Sambo dan Brigjen Hendra Kurniawan, memang hidup dalam sel lantaran terlibat pembunuhan Josua. “Jangan-jangan Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan yang terima dengan tidak meneruskan masalah. Lempar batu untuk alihkan isu. Kenapa kok dilepas Ismail Bolong sama mereka, kalau itu benar.” Reaksi balik Komjen Agus Andrianto.

Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan tak bergeming. Keduanya tetap melawan, meski hidup dalam sel. “Kan ada itu suratnya,” kata Ferdy Sambo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 22 November 2022. “…benar, ada Laporan Hasil Penyelidikan. Ditanda tangani mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo pada 7 April 2022. Ada keterlibatan Kabareskrim,” kata Hendra Kurniawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 22 November 2022.


BUNG, kawanku di kedai kopi, tertunduk merenung. Tak lama kemudian, dia menatap wajah saya tanpa secuil senyum.

“Ada apa, tampaknya Bung serius berpikir?” tanya saya, juga tanpa senyum.

“Saya membayangkan kasus ini berakhir misteri, seperti kisah dalam cerpen-cerpen karya Edgar Allan Poe, dinda.”

“Saya tak paham, Bung.”

“Kasus ini bukan untuk dipahami, dinda.”

“Sebaiknya diapakan, Bung?”

“Didiamkan, dinda.”

“Saya makin tak paham, Bung?”

“Cerita misteri selalu membuat pembacanya tak paham, dinda.” **

Ayo tulis komentar cerdas