Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPH Sulteng, Retno Erningtyas. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Sulteng mendorong petani para petani untuk memanfaatkan lahan tidur untuk menanam komoditi kedelai.

“Hal ini dinilai penting karena itu dilakukan demi meningkatkan produksi domestik, memenuhi permintaan pasar dan suplai ke IKN Kalimantan yang telah digaungkan,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPH Sulteng, Retno Erningtyas, Kamis (24/11/2022).

Ia mengatakan bahwa produksi komoditi kedelai saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan di Indonesia. Lanjut dia, termasuk daerah Sulawesi Tengah demi melepaskan ketergantungan terhadap impor. Apalagi, kata dia, kondisi global sedang menghadapi krisis pangan.

“Produksi dalam negeri sangat dibutuhkan untuk memenuhi permintaan. Karena memang impor kedelai saat ini susah, dibatasi, makanya penting untuk kami mendorong petani melihat lahan tidur atau lahan kering untuk ditanami kedelai,” ujarnya.

“Kami mendorong pengembangan komoditi kedelai sesuai arahan pemerintah pusat Untuk merealisasikan hal itu, kami telah menjalankan program bantuan penyaluran benih, baik yang regular, maupun Anggaran Belanja Tambahan (ABT),” ujarnya menambahkan.

Tercatat, ia mengungkapkan untuk program regular komoditi kedelai disalurkan kurang lebih sebanyak 1.500 hektar dan ABT tekah disalurkan sebanyak 7.871 hektar di 2022 di 11 kabupaten dan kota.

“Tambahan ABT kedelai tahun ini 20.000 hektar, sedangkan yang kontrak baru masuk 7.871 hektar sebagian sudah disalurkan dengan jumlah kelompok tani masing-masing untuk regular 85 poktan dan ABT 414 poktan,” ungkapnya.

Sementara untuk luasan lain, kata dia, memenuhi target 20.000 hektar pihaknya sudah mempunyai usulan calon lokasi dan petani. ia mengaku bahwa saat ini pihaknya juga memang mengalami kendala memenuhi target tersebut.

“Dinas sudah membuat pelaporan untuk kementerian soal pemenuhan target itu. Diantara penyebabnya yakni ketersediaan benih yang masih terbatas, dan permintaan dari luar daerah yang sulit terpenuhi karena berbagai kendala,” tuturnya.

Namun pihaknya tetap melakukan monitoring jika luar Sulteng punya stok, maka akan diajukan permintaan. Ia menyebut telah melakukan upaya mendorong petani melakukan skema tumpeng sisip tanaman komoditas antara jagung dan kedelai demi memaksimalkan lahan yang telah tergarap.

“Saat ini untuk permintaan kami mendengar informasi di Jawa sudah panen, mudah-mudahan bulan ini sudah bisa didatangkan ke Sulteng. Keuntungannya kepada petani, mereka bisa mendapatkan nilai ekonomi lebih dibanding hanya menanam satu komoditas. Sebab, kata dia, tanaman kedelai sendiri sebenarnya memberikan unsur hara lain terhadap tanaman yang ditumpang sisip-kan,” katanya.

Dalam waktu dekat, di Desember, pemerintah akan melakukan pemanenan lahan petani di Toili, Kabupaten Banggai dengan besaran panen lebih kurang 1.000 ton.  Untuk diketahui, harga kedelai saat ini untuk konsumsi Rp11.000 per kilogram (kg) ditingkat petani, di pasar Rp15.000 per kg. Sedangkan untuk benih, harga mencapai Rp20.000 per kg. “Dari awal sudah kami sampaikan tolong dipilah, mana yang akan dijual, dan mana yang akan jadi benih, mana yang konsumsi. Karena kita butuh benih cukup besar tahun depan.

“Menanam jagung dan kedelai dalam satu areal yang sama itu sekitar 1.000 hektar di Poso dan Morowali Utara,” pungkasnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas