SEPERTI mimpi. Malapetaka sedang menerpanya. Gadis, anak petani, itu terbangun. Napasnya terengah-engah. Terputus-putus. Sembari mencoba menstabilkan detak jantungnya yang terus bergemuruh dengan gaya mirip bermeditasi di tempat tidur, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya.

“Mengapa malapetaka ini terjadi pada diri saya, anak seorang petani kecil? Mengapa jalan saya yang ingin mengabdi untuk bangsa dan keluarga, tiba-tiba diempaskan dengan cara tak adil. Tak beradab. Pintu jalan ke arah sana ditutup rapat?” Boleh jadi, lagu duka di atas terjadi pada Sulastri Irwan. Anak petani yang ditutup pintunya rapat-rapat untuk menjadi seorang polwan, polisi wanita, di negerinya yang sungguh dicintainya: Indonesia!


PAGI itu Sulastri Irwan sumringah. Menatap masa depannya dengan senyum terkulum. Membayangkan nasib keluarganya berubah ke arah lebih baik.

Gadis berjilbab ini mendapat informasi yang sungguh tak diduganya. Tak disangkanya. Dia dinyatakan sebagai Ranking III Diktuk Bintara Polri Gelombang II Tahun 2022. Betapa tak terbendungnya gemuruh kegembiraannya. Matanya pun berbinar membungkus rasa yang bergejolak dalam batinnya.

Sulastri Irwan mendaftar sebagai casis (calon siswa) di Polda Maluku Utara. Dia mengikuti jenjang secara bertahap. Semua aturan yang diterapkan panitia penerimaan dia ikuti dengan baik. Sangat berdisiplin menjalani aturan dan perintah dari Polda Maluku Utara. Hasil baik pun menghampirinnya. Dia dinyatakan lolos untuk mengikuti pendidikan. Dan yang paling membanggakan dalam diri dan keluarganya, Sulastri Irwan ke luar sebagai Ranking III. Predikat yang tak gampang diraih! Sulatri Irwan, meraihnya!


HANYA beberapa hari menikmati gejolak kegembiraan itu, Sulastri Irwan mengalami goncangan dahsyat yang datang menerpa. Datang secara tiba-tiba. Seperti guntur dan kilat yang disaksikan langit tanpa mendung. “Mengapa duka datang secepat ini…” Sulastri bergumam. Tak terdengar. Menatap lurus. Matanya lembab.

Seorang anggota polisi, mungkin panitia, saat itu, menghampirinya. Menyampaikan berita duka: Sulastri Irwan gugur dalam penerimaan casis tahun 2022 di Polda Maluku Utara. Alasannya: usianya telah lewat satu bulan lebih. Sulastri meresponnya dengan wajah pucat. Tak berkata-kata. Tatapannya kosong. Menahan tangis pedih. Sungguh sakit batinnya.

Melawankah gadis anak petani ini? Tidak! Dia dan keluarganya menyerahkan seutuhnya ketidakadilan ini kepada Tuhan. Dia pasrah dalam kesakitan yang teramat sangat.

Sulastri Irwan mengurung diri. Di saat itu datanglah pertolongan Tuhan. Sejumlah orang tiba-tiba datang bersimpati dengan dukanya yang terluka parah. Mereka inilah yang menaburkan ketidakbenaran yang terjadi di Polda Maluku Utara.

Duka itu menjadi lagu. Terdengar ke seantero negeri. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sayup-sayup, mendengarnya. Terkejut. Wajahnya menggambarkan ada yang tak adil menerpa casis Sulastri Irwan.

Hanya sekejap. Jenderal Listyo menghubungi sejumlah anak buahnya. Tentu, termasuk pihak Polda Maluku Utara yang telah menabur ketidakbenaran itu.

Jalan ke luar pun datang. Sulastri Irwan kembali lolos untuk mengikuti pendidikan sebagai casis polwan. Gadis hitam manis ini kembali menampakkan wajah sumringah, meski sempat diliputi kemendungan yang datang mengguyurnya.

“… saya minta maaf kepada Sulastri Irwan dan keluarganya. Ini kesalahan saya. Bukan kesalahan anggota atau panitia.” Kata-kata bijak, penuh tanggung jawab ini ke luar dari mulut Kapolda Maluluku Utara, Irjen Pol Midi Siswoko. Kita tahu Jenderal Midi baru sebulan lebih menjadi kapolda di sana.

Bung, kawanku di kedai kopi, menatap saya dengan tatapan tajam sembari tersenyum panjang tanpa berkata-kata, setelah mendengar pengakuan Jenderal Midi Siswoko. **

Ayo tulis komentar cerdas